Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Bediding Jadi Sinyal Kemarau Petani Harus Matangkan Rencana Air

Zaki Jazai • Senin, 6 Juli 2026 | 11:56 WIB
HARUS CERMAT: Petani di Trenggalek saat menyiapkan lahan bertani untuk menghadapi musim kemarau.(AI)
HARUS CERMAT: Petani di Trenggalek saat menyiapkan lahan bertani untuk menghadapi musim kemarau.(AI)

KOTA, Radar Trenggalek – Fenomena hawa dingin atau bediding yang mulai dirasakan masyarakat Bumi Menak Sopal menjadi sinyal awal musim kemarau.

Tak ayal hal tersebut menjadi sinyal para petani agar tidak lengah, terutama dalam menyiapkan sistem pengairan sebelum mulai tanam padi.

Apalagi, berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Kediri Raya termasuk Trenggalek secara umum telah memasuki periode awal musim kemarau yang biasanya terjadi sejak Mei.

“Pada periode ini tutupan awan berkurang sehingga pelepasan panas dari permukaan bumi pada malam hari berlangsung lebih optimal,” ujar Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Dhoho Kediri, Satria Kridha Nugrahanya.

Kondisi tersebut diperparah dengan masuknya massa udara dingin dan kering dari Australia. Dampaknya, suhu udara terutama pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dibanding biasanya.

Baca Juga: SRT 50 Tunggu Lampu Hijau untuk Pindah Belum Ada Arahan Kemungkinan Akhir Juli

Fenomena ini oleh masyarakat Jawa dikenal sebagai bediding. Meski kerap dianggap hal biasa, BMKG menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi, khususnya oleh sektor pertanian.

Satria menegaskan, petani yang berencana menanam padi diminta tidak hanya mengandalkan pola tanam seperti tahun sebelumnya. Mereka perlu menyesuaikan strategi, terutama dalam memastikan ketersediaan air.

“Memilih varietas yang tahan terhadap kemarau serta memperkuat sistem irigasi,” tegasnya.

Dia juga mengingatkan agar petani menyusun perencanaan pengairan sejak awal.

Sebab, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dan kering akibat pengaruh fenomena El Nino.

Meski demikian, BMKG masih menunggu rilis resmi dari Stasiun Klimatologi Malang untuk memastikan durasi musim kemarau secara detail.

Di lapangan, tantangan pengairan sudah mulai dirasakan petani. Komsiyah, warga Kecamatan Durenan, mengaku selama ini petani hanya mengikuti pengaturan air dari kelompok tani.

“Kalau pengairan petani hanya mengikuti saja dari pengurus,” katanya.

Dia mengungkapkan, saat musim kemarau, petani bahkan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air.

Sumber air didatangkan dari luar daerah dengan bantuan pompa.

Baca Juga: Daya Beli Warga Melemah Pedagang Andalkan Pelanggan Lama

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan irigasi masih menjadi faktor krusial dalam menjaga produktivitas pertanian.

Dengan prediksi kemarau yang lebih panjang, kesiapan pengairan menjadi kunci agar petani tidak mengalami gagal panen.

“Airnya diambil dari sungai yang menggunakan pompa air. Saat kemarau harus mengeluarkan sekitar Rp 100 ribu,” tandasnya.(jaz/c1/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
#El Nino #BMKGDhoho #petani #bediding #musim kemarau