Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

SSB Nilai Alasan Askab Janggal

Zaki Jazai • Senin, 6 Juli 2026 | 12:18 WIB
Pembatalan Piala Presiden oleh Askab PSSI Trenggalek menuai kekecewaan dan dinilai janggal oleh SSB.(AI)
Pembatalan Piala Presiden oleh Askab PSSI Trenggalek menuai kekecewaan dan dinilai janggal oleh SSB.(AI)

KOTA, Radar Trenggalek– Keputusan Asosiasi Kabupaten (Askab) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Trenggalek yang tidak menggelar Turnamen Piala Presiden menuai kekecewaan dari pelaku sepak bola usia dini.

Pasalnya, sejumlah sekolah sepak bola (SSB) menilai alasan pembatalan kompetisi tersebut janggal dan sulit diterima. Salah satunya adalah SSB Permata Kampak.

Owner SSB Permata Kampak, Nanok Duwi Piyarko, secara terbuka menyampaikan penyesalannya.

Dia menilai keputusan Askab tidak sejalan dengan kondisi di daerah lain yang tetap mampu menyelenggarakan turnamen serupa.

“Kami sangat menyayangkan keputusan ini. Apalagi, alasan yang disampaikan, menurut kami terasa janggal dan tidak masuk akal,” tegas Nanok, Kamis (2/7).

Baca Juga: Piala Presiden U-10 dan U-12 Tak Digelar Askab Tak Berani Ambil Risiko Akibat Kisruh Asprov

Menurut dia, pihak SSB telah berupaya meminta klarifikasi langsung kepada pengurus Askab PSSI Trenggalek. Bahkan, dia turut melampirkan surat edaran resmi dari Asprov PSSI Jawa Timur sebagai dasar pelaksanaan turnamen.

Namun, Askab tetap bersikukuh tidak menggelar kompetisi dengan alasan surat tersebut hanya ditandatangani oleh pelaksana tugas (Plt) ketua Asprov.

“Alasannya karena hanya ditandatangani Plt sehingga dianggap tidak punya kewenangan. Bagi kami, ini sulit dipahami,” ujarnya.

Nanok menilai, jika alasan tersebut dijadikan dasar seharusnya seluruh daerah juga mengambil sikap serupa. Faktanya, sejumlah kabupaten lain di Jawa Timur tetap menjalankan Piala Presiden tanpa kendala.

“Daerah seperti Tulungagung dan Kediri tetap jalan. Ini yang membuat kami bertanya-tanya, kenapa Trenggalek tidak bisa?” imbuhnya.

Dia menegaskan, Piala Presiden bukan sekadar turnamen biasa. Ajang tersebut menjadi ruang penting bagi pemain usia dini untuk mengasah kemampuan, menambah pengalaman bertanding, serta mengukur kesiapan tim.

Akibat pembatalan tersebut, para pemain muda di Trenggalek kehilangan kesempatan berkompetisi secara resmi. Padahal, banyak SSB yang telah melakukan persiapan sejak jauh hari.

“Kami sudah menyiapkan tim dengan serius, tapi akhirnya tidak ada ajang. Ini tentu merugikan pembinaan,” katanya.

Baca Juga: Askab Belum Minta Maaf Resmi, Hanya Dilakukan secara Pribadi, Evaluasi Tata Kelola Administrasi

Sementara itu, Ketua Askab PSSI Trenggalek, Puguh Purnomo, sebelumnya menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil untuk menghindari risiko hukum dan persoalan administrasi. Hal itu berkaitan dengan polemik kewenangan Plt Ketua Asprov PSSI Jawa Timur.

Selain itu, dia juga menyebut kesiapan administrasi klub melalui Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) di Trenggalek masih belum optimal.

Meski demikian, perbedaan kebijakan dengan daerah lain membuat alasan tersebut terus dipersoalkan oleh pelaku sepak bola. SSB berharap Askab dapat memberikan penjelasan yang lebih terbuka agar polemik tidak berlarut-larut.

Situasi ini sekaligus menjadi sorotan karena keputusan di tingkat organisasi dinilai berdampak langsung terhadap pembinaan sepak bola usia dini di daerah. (jaz/c1/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
#Askab #SSB #Nanok Duwi Piyarko #Puguh Purnomo #pssi