Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Musim Kemarau Jadi Berkah Perajin Bata Merah Kebut Produksi

Mohammad Bima Faisal Mirza • Selasa, 7 Juli 2026 | 10:58 WIB
BERI PELUANG: Perajin bata di Desa Sukorejo,Kecamatan Gandusari,saat beraktivitas.(M.BIMA FAISAL/RADAR TRENGGALEK)
BERI PELUANG: Perajin bata di Desa Sukorejo,Kecamatan Gandusari,saat beraktivitas.(M.BIMA FAISAL/RADAR TRENGGALEK)

GANDUSARI, RadarTrengggalek -Musim kemarau membawa berkah bagi para perajin bata merah di Kabupaten Trenggalek. Cuaca yang cerah dimanfaatkan untuk mempercepat proses penjemuran sehingga produksi bata merah meningkat dibanding saat musim penghujan.

Seperti terlihat di salah satu tempat produksi bata merah di Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari. Sejak pagi, para pekerja tampak sibuk mengangkat bata yang sudah dicetak untuk ditata di lokasi penjemuran. Panas matahari yang stabil membuat bata lebih cepat kering sehingga siap memasuki proses pembakaran.

Salah seorang perajin, Suparni mengatakan, musim kemarau menjadi waktu paling produktif bagi usaha bata merah. Pasalnya, proses pengeringan yang biasanya memakan waktu beberapa hari saat musim hujan kini dapat berlangsung lebih cepat. "Kalau cuaca terus panas seperti ini, pekerjaan jadi lebih lancar. Bata cepat kering sehingga produksi bisa ditambah," ujarnya, Senin (6/7).

Baca Juga: Harga Emas Antam Melambung: Intip Rahasia Berburu Emas Cukim 24 Karat Sebagai Alternatif Murah

Menurut dia, meski saat ini material bangunan modern seperti bata ringan mulai banyak digunakan, permintaan bata merah dari masyarakat masih cukup tinggi. Bata merah masih menjadi pilihan untuk pembangunan rumah maupun bangunan lain karena dinilai lebih kuat dan mudah diperoleh.

Namun demikian, para perajin tetap menghadapi tantangan. Selain harga bahan baku dan biaya produksi yang terus meningkat, mereka juga harus mengandalkan kondisi cuaca. Apabila hujan turun beberapa hari berturut-turut, proses penjemuran akan terhambat sehingga jumlah produksi menurun.

Di sisi lain, musim kemarau juga menjadi kesempatan bagi para perajin untuk memenuhi pesanan yang sempat tertunda saat musim hujan. Bata yang telah kering kemudian disusun rapi sebelum masuk ke tahap pembakaran hingga siap dipasarkan.

Baca Juga: Harga BBM Pertamax Naik Mulai 10 Juni 2026, Tembus Rp16.250 per Liter! Pertamax Green Melonjak Rp5.000, Ini Penjelasan Pertamina

Aktivitas produksi bata merah masih menjadi salah satu mata pencaharian warga di sejumlah wilayah Trenggalek, khususnya di Kecamatan Durenan. Usaha yang dikerjakan secara turun-temurun tersebut tetap bertahan di tengah perkembangan material bangunan yang semakin beragam.

Para perajin berharap kondisi cuaca cerah dapat bertahan selama beberapa pekan ke depan. Selain mempercepat produksi, musim kemarau juga membantu mereka menjaga kualitas bata agar tidak mudah retak akibat proses pengeringan yang kurang sempurna. (bim/c1/din)

Editor : Juwita Ratnasari
#BataMerahTrenggalek #PerajinTrenggalek #EkonomiTenggalek #DampakMusimKemarau