Gilang Sakti Wiyono Putro Dari Kedokteran ke Filsafat Buktikan Pilihan Hati Berbuah Prestasi

Mohammad Bima Faisal Mirza • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 12:12 WIB
TEMUKAN JATI DIRI:  Gilang Sakti Wiyono Putro, warga Desa Gondang, Kecamatan Tugu, sempat kuliah  di fakultas kedokteran namun beralih ke filsafat dan aktif menulis buku.(GILANG SAKTI WIYONO PUTRO UNTUK RADAR TRENGGALEK)
TEMUKAN JATI DIRI: Gilang Sakti Wiyono Putro, warga Desa Gondang, Kecamatan Tugu, sempat kuliah di fakultas kedokteran namun beralih ke filsafat dan aktif menulis buku.(GILANG SAKTI WIYONO PUTRO UNTUK RADAR TRENGGALEK)

TUGU - Radar Trenggalek TIDAK semua jalan menuju kesuksesan harus ditempuh dengan rute yang sama. Kisah Gilang Sakti Wiyono Putro menjadi bukti bahwa keberanian mengikuti panggilan hati mampu mengantarkan seseorang meraih prestasi.

Pemuda asal Desa Gondang, Kecamatan Tugu, itu sukses menyelesaikan studi filsafat dengan predikat cum laude, menerbitkan buku yang dipasarkan di Gramedia, hingga melanjutkan pendidikan magister di salah satu kampus filsafat terbaik di Indonesia.

Perjalanan Gilang bermula pada 2020 saat diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Namun, selama menjalani perkuliahan, dia justru banyak bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai kehidupan, penderitaan, dan makna manusia.

Pergolakan batin itu membuatnya mengambil keputusan besar pada 2022 dengan mengundurkan diri dari fakultas kedokteran dan memilih melanjutkan studi di Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Keputusan tersebut sempat membuat keluarganya khawatir. Meninggalkan jurusan kedokteran dinilai seperti melepas masa depan yang menjanjikan.

Namun, Gilang tetap mantap dengan pilihannya karena yakin dapat berkembang di bidang yang benar-benar sesuai dengan minatnya.

Baca Juga: Kapasitas Naik, SRT Ajukan Tenaga Baru Posisi Wali Asuh Terbanyak

"Dulu saya tidak punya bayangan akan seperti apa nasib saya di filsafat. Tapi saya merasa akan berproses dengan baik, terutama sejak bertemu dosen dan teman-teman yang sangat diskursif dan egaliter. Meninggalkan kedokteran bagi orang tua saya seperti meninggalkan permata yang berharga. Namun di filsafat saya justru menemukan diri saya yang sebenarnya dan mampu membuktikan bahwa pilihan ini tidak main-main," ungkapnya, Sabtu (18/7).

Keyakinan tersebut terbayar lunas. Pada 2026, Gilang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana dengan IPK 3,95 dan meraih predikat cumlaude.

Selama kuliah, dia juga beberapa kali memperoleh beasiswa atas capaian indeks prestasi semester tertinggi dari yayasan universitas sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi akademiknya.

Tak hanya unggul di ruang kuliah, Gilang juga produktif menghasilkan karya. Dia telah menerbitkan dua buku, yakni Filsafat untuk Pemula (2023) dan Seni Memahami Kematian (2025).

Buku Filsafat untuk Pemula bahkan berhasil menembus jaringan toko buku nasional Gramedia, sementara Seni Memahami Kematian mengulas konsep kematian secara komprehensif dari perspektif filsafat Barat maupun Timur.

Aktivitas intelektualnya juga membawanya dipercaya menjadi pembicara bedah buku Korupsi: Melacak Arti Menyimak Implikasi di Universitas PGRI Kediri. Dia mulai dikenal sebagai pemantik diskusi kritis di kalangan mahasiswa dan komunitas akademik.

Kini perjalanan Gilang memasuki babak baru. Sejak Juli 2026, pemuda berusia 25 tahun itu resmi melanjutkan studi Magister di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, kampus yang dikenal melahirkan banyak pemikir dan filsuf Indonesia.

Baca Juga: BBWS Brantas Tahan Pelimpahan ke LMAN Data Tanah Warga Masih Diverifikasi

"Esensi utama dari perjalanan saya bukan berkutat pada hasil praktis, tetapi pada usaha menghayati setiap pengetahuan dengan ketekunan intelektual, emosional, dan spiritual. Melalui proses itu, saya berharap bisa memberi manfaat walau hanya secarik," tuturnya.

Kisah Gilang menjadi inspirasi bahwa keberanian mengambil keputusan besar, disertai kerja keras dan ketekunan, mampu mengubah keraguan menjadi prestasi.

Dari bangku kedokteran yang ditinggalkannya, putra Trenggalek itu justru menemukan jalan hidupnya di dunia filsafat, mengukir prestasi akademik, melahirkan karya yang dibaca masyarakat luas, dan kini menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk terus mengembangkan pemikirannya. (bim/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
Gilang Sakti Wiyono Putro studi filsafat predikat cumlaude kecamatan tugu