Cuaca Tak Menentu, Tangkapan Ikan Anjlok Enam Bulan Baru Capai 2 Ribu Ton

Zaki Jazai • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 12:26 WIB
BELUM MUSIM: Tangkapan ikan nelayan di Pantai Prigi dan Trenggalek menurun drastis dibandingkan tahun kemarin.(ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)
BELUM MUSIM: Tangkapan ikan nelayan di Pantai Prigi dan Trenggalek menurun drastis dibandingkan tahun kemarin.(ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

WATULIMO, Radar Trenggalek – Para nelayan di Bumi Menak Sopal harus terus mengencangkan ikat pinggangnya. Pasalnya, hasil tangkapan nelayan pada pertengahan 2026 menurun drastis dibandingkan tahun kemarin.

Hal itu terlihat berdasarkan data yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Trenggalek. Tangkapan ikan para nelayan baru menyentuh sekitar 30 persen dibanding capaian tahun lalu. Dimungkinkan, hal tersebut terjadi karena cuaca tak menentu dan hilangnya rumpon sebagai tempat ikan berkumpul.

Total tangkapan nelayan dari Januari hingga Juni 2026 baru mencapai 2.016,9 ton, jauh tertinggal dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sebab, pada 2025 kemarin, total produksi nelayan mencapai sekitar 12 ribu ton. Kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya pasokan ikan di pasar sekaligus mendorong kenaikan harga.

“Memang produktivitas nelayan terus mengalami penurunan sejak awal tahun. Sebab, pada Januari sampai Mei kemarin baru sekitar 1.500-an ton. Jenis ikan petek dan tongkol lisong atau rengis masih mendominasi hasil tangkapan yang ada,” ujar Kepala UPT TPI Disnakkan Trenggalek, Syamsu Rijal Tri Hidayat.

Baca Juga: Gilang Sakti Wiyono Putro Dari Kedokteran ke Filsafat Buktikan Pilihan Hati Berbuah Prestasi

Pada Juni kemarin, ada produksi yang hanya sekitar 639 ton. Total akumulasi hingga pertengahan tahun baru menyentuh kisaran 30 hingga 40 persen dari capaian tahun lalu. “Turunnya sangat banyak jika kita bandingkan dengan periode yang sama tahun kemarin. Hasil saat ini mungkin baru menyentuh sekitar 30 sampai 40 persen dari capaian tahun lalu,” jelasnya.

Menurut Rijal, kondisi tersebut tidak lepas dari faktor cuaca ekstrem yang kerap terjadi di perairan selatan Trenggalek. Gelombang tinggi, hujan lebat, hingga perubahan suhu air laut membuat nelayan sering menunda aktivitas melaut.

Meski demikian, hilangnya rumpon yang selama ini menjadi titik berkumpulnya ikan disebut menjadi faktor yang lebih dominan. “Akhir tahun 2025 kemarin, proyek survei seismik dua dimensi dari Pertamina Hulu Energi menggilas rumpon-rumpon milik nelayan. Petugas mengangkat seluruh rumpon tersebut karena posisinya tepat berada di jalur perlintasan kapal survei,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat nelayan kesulitan menentukan lokasi penangkapan dan hanya mengandalkan pergerakan ikan yang melintas, seperti layang, rengis, dan petek. Dampaknya, hasil tangkapan harian menurun drastis.

Baca Juga: 67 Persen Bidang Masuk Sistem Pertanahan Digital

Situasi ini juga membuat banyak nelayan memilih mengurangi aktivitas melaut. Mereka lebih berhati-hati karena tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan potensi hasil tangkapan. “Mereka biasanya memantau dulu rekan-rekannya yang berangkat, dapat ikan atau tidak, dan bagaimana kondisi cuaca di tengah laut. Mereka memilih menunggu datangnya musim ikan,” tuturnya.

Minimnya produksi juga berdampak pada harga ikan di pasaran. Salah satu yang paling terasa adalah tongkol lisong yang kini dijual hingga Rp 30 ribu per kilogram, dari sebelumnya hanya berkisar Rp 12 ribu hingga Rp 18 ribu.

Hingga kini, pihak TPI belum dapat memastikan kapan kondisi akan kembali normal. Pasalnya, faktor cuaca dan keberadaan rumpon masih menjadi penentu utama keberhasilan tangkapan nelayan di perairan selatan Trenggalek. “Kami belum bisa memprediksi kondisi cuaca ke depan. Yang bisa kami lakukan saat ini hanya berharap cuaca segera membaik sehingga hasil tangkapan nelayan kembali melimpah,” pungkas Rijal.(jaz/c1/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
TPI Syamsu Rijal Tri Hidayat faktor cuaca watulimo disnakkan