DURENAN, Radar Trenggalek – Keberadaan industri pembuatan genting di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, bukan sekadar mata pencaharian biasa. Industri rumah tangga ini telah menjadi warisan temurun sejak era nenek moyang. Demi memperluas jangkuan pasar dan menembus proyek skala besar, para perajin setempat kini melangkah lebih maju dengan mengajukan sertifikasi standar nasional.
Upaya tersebut digawangi oleh perhimpunan perajin genting setempat. Kepala Desa (Kades) Kamulan, Masruri, yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Komunitas Genting Kamulan, mengonfirmasi bahwa langkah standarisasi ini menjadi fokus utama mereka saat ini.
"Kami dari perhimpunan industri genting mengharapkan adanya sertifikasi standar nasional. Tujuannya jelas, agar produk genting dari Kamulan maupun wilayah sekitarnya seperti Gandusari dapat memenuhi kualifikasi pangsa pasar secara standar," ujar Masruri, Senin (20/7).
Masruri menjelaskan, keberadaan sertifikasi standar nasional menjadi krusial dalam industri bahan bangunan masa kini. Pasalnya, sebagian besar proyek infrastruktur dan pembangunan skala sedang hingga besar selalu mensyaratkan adanya dokumen standarisasi mutu. Tanpa sertifikasi resmi, genting lokal yang berkualitas tinggi kerap terganjal dalam proses pengadaan.
Untuk merealisasikan target sertifikasi tersebut, langkah utama yang digenjot oleh masyarakat dan para perajin adalah menjaga konsistensi mutu produksi. Menjaga kualitas menjadi hal mutlak, mengingat genting merupakan produk pelindung bangunan yang berhadapan langsung dengan cuaca ekstrem.
Baca Juga: Terbentur Lahan Sempit dan Kepadatan Penduduk
"Genting ini kan rawan sekali terhadap cuaca, menjadi pelindung utama saat panas dan hujan. Ketika mutu genting tidak sesuai standar, kami khawatir terjadi kerusakan di kemudian hari yang merugikan konsumen. Oleh karena itu, kontrol kualitas dari proses awal pembuatan sangat kita perhatikan," tambahnya.
Sebagai kepala desa sekaligus ketua perhimpunan, Masruri menegaskan bahwa pihak pemerintah desa memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif ini.
Menurut dia, potensi sumber daya manusia (SDM) perajin di Kamulan sudah sangat teruji oleh waktu.
Di Desa Kamulan sendiri, jenis genting yang diproduksi cukup beragam namun tetap mempertahankan bentuk-bentuk populer yang diminati pasar. Di antaranya, model genting kodok dan genting kluntung.
Model genting kodok merupakan model klasik di beberapa daerah, termasuk Surabaya, yang lebih dikenal dengan sebutan genting Karang Pilang atau Karang Pilang Gozier. Sementara untuk model genting kluntung, perajin Kamulan mengadopsi bentuk serta kepraktisan dari model Morando.
Pemerintah Desa Kamulan berharap, melalui standarisasi dan sertifikasi nasional ini, keunggulan genting lokal Kamulan dapat makin diakui secara luas. Dampak jangka panjangnya diharapkan mampu mendongkrak daya saing produk, memperluas jangkauan distribusi hingga keluar daerah, dan secara otomatis meningkatkan taraf ekonomi masyarakat perajin di Desa Kamulan. (gun/c1/din)
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK