Petani Harus Tinggalkan Cara Lama Dari Konvensional ke Modern, Kunci Naikkan Produksi Padi

Zaki Jazai • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 10:09 WIB
Petani Trenggalek didorong beralih ke sistem pertanian modern guna meningkatkan hasil produksi padi secara signifikan.(AI)
Petani Trenggalek didorong beralih ke sistem pertanian modern guna meningkatkan hasil produksi padi secara signifikan.(AI)

DURENAN, Radar Trenggalek – Para petani di Bumi Menak Sopal harus mengubah pola tanamnya ke cara yang lebih modern. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan produksi pertanian di tengah terus tergerusnya lahan.

Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui program demplot Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS) yang saat ini diterapkan di Desa Ngadisuko dan Desa Karanganom, Kecamatan Durenan.

Diharapkan, perubahan pola tanam tersebut menjadi kunci untuk meningkatkan hasil produksi tanpa harus menambah luas lahan.

“Petani harus mulai beralih ke sistem yang lebih modern. Dengan pola tanam yang lebih rapat dan terukur, produksinya bisa meningkat signifikan,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Trenggalek, Imam Nurhadi. 

Dalam sistem PM-AAS ini, pola tanam menggunakan kombinasi metode tabela (tanam benih langsung) dengan jajar legowo, yakni 4 dibanding 1 hingga 6 dibanding 1. Dengan pola tersebut, populasi tanaman padi bisa meningkat drastis hingga mencapai 800 ribu sampai 1 juta rumpun per hektare (ha).

Baca Juga: Nyawa Hilang usai Terjun ke Jurang Saat Subuh, Diduga Hilang Konsentrasi

Dampaknya, hasil panen yang sebelumnya rata-rata 6 hingga 7 ton per ha ditargetkan bisa naik hingga 10 ton per ha. “Artinya, kita tidak perlu cetak sawah baru. Cukup intensifikasi dari lahan yang ada,” jelasnya.

Program ini awalnya diterapkan pada lahan seluas 100 ha di Jawa Timur yang dipusatkan di Trenggalek. Selanjutnya, hingga September 2026, pengembangannya ditargetkan mencapai 2.500 hektare.

Selain pola tanam, dukungan sarana juga disiapkan. Mulai dari penyediaan benih, perbaikan irigasi, hingga sistem perpompaan untuk lahan yang kekurangan air.

Menurut Imam, keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada ketersediaan air yang harus kontinu serta pemupukan yang lebih optimal dibanding metode konvensional.

“Pupuk juga harus ditambah. Urea bisa sampai 300 kilogram per ha dan NPK sekitar 400 kilogram,” ungkapnya.

Dari sisi efisiensi, metode ini dinilai lebih hemat biaya dan tenaga. Petani tidak perlu melakukan tanam pindah sehingga tanaman tidak mengalami stres dan proses pengerjaan bisa lebih cepat. “Untuk 1 ha cukup empat orang dan selesai dalam setengah hari. Ini jauh lebih efisien,” terangnya.

Meski demikian, dia mengingatkan adanya potensi risiko seperti serangan jamur dan gulma akibat pola tanam yang lebih rapat. Karena itu, petani diminta lebih waspada dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Dengan penerapan sistem modern ini, dispertapan berharap para petani di Trenggalek bisa meningkatkan produktivitas sekaligus mengikuti perkembangan teknologi pertanian. “Ke depan, mau tidak mau petani harus beradaptasi. Kalau ingin hasil meningkat, pola tanamnya juga harus berubah,” tandasnya. (jaz/c1/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
Imam Nurhadi PM-AAS petani kecamatan durenan Dispertapan