Jamasan Suro Manuskrip Kuno Ikut Dirawat Upaya Lestarikan Ilmu Warisan Leluhur

Zaki Jazai • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 15:15 WIB
PERTAHANKAN TRADISI: Harmadji memperlihatkan naskah kuno miliknya yang masuk registrasi perpustakaan nasional sebelum di jamas.(ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)
PERTAHANKAN TRADISI: Harmadji memperlihatkan naskah kuno miliknya yang masuk registrasi perpustakaan nasional sebelum di jamas.(ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

POGALAN, Radar Trenggalek – Tradisi jamasan yang identik dengan perawatan pusaka seperti keris dan tombak pada bulan Sura atau Muharam kini juga menyasar manuskrip atau naskah kuno. Pasalnya, benda tersebut merupakan gudang pengetahuan warisan leluhur.

Hal tersebut seperti dilakukan oleh Harmadji, warga Desa/Kecamatan Pogalan, yang rutin menjamas koleksi pusaka sekaligus manuskrip kuno miliknya setiap tahun.

Menurut dia, jamasan tidak hanya sebatas membersihkan benda tajam, tetapi juga merawat naskah kuno yang memiliki nilai sejarah dan keilmuan tinggi.

“Yang saya jamas bukan hanya keris atau tombak, tapi juga manuskrip kuno. Karena di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan seperti fikih, tafsir, hingga nahu yang harus dijaga dan diwariskan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Jumat (10/7).

Baca Juga: Dukung Pendidikan Anak Usia Dini, BRI Renovasi TK Kemala Bhayangkari 52 Trenggalek melalui TJSL Senilai Rp297 Juta

Dia menjelaskan, manuskrip yang dimilikinya sebagian menggunakan bahan kertas Eropa dan kertas daluang yang berasal dari kulit kayu. Naskah tersebut ditulis dengan huruf Arab kuno yang merupakan gabungan berbagai keilmuan.

Menurut Harmadji, perawatan manuskrip tidak dilakukan dengan cara dicuci seperti pusaka, tetapi dibersihkan secara perlahan menggunakan kuas kecil, kemudian diangin-anginkan agar tetap terjaga kondisinya. “Kalau manuskrip cukup dibersihkan dengan kuas kecil, lalu diangin-anginkan. Tidak boleh sembarangan karena rentan rusak,” jelasnya.

Dia menegaskan, inti dari tradisi jamasan adalah perawatan berkala terhadap benda-benda bersejarah, bukan sekadar ritual yang dikaitkan dengan bulan Sura semata.

Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada warisan leluhur. “Jamasan itu intinya membersihkan dan merawat secara berkala. Ini bentuk syukur sekaligus menjaga peninggalan para leluhur,” tegasnya.

Selain merawat, Harmadji juga mendorong agar naskah kuno tidak disimpan secara tertutup. Dia menyarankan pemilik manuskrip untuk melaporkan dan menyerahkan naskah ke perpustakaan daerah maupun Perpustakaan Nasional guna dilakukan identifikasi dan digitalisasi.

Dalam prosesi jamasan, pusaka dibersihkan menggunakan air kembang setaman dan jeruk nipis, lalu dikeringkan menggunakan tatal kayu. Sementara manuskrip ditata rapi dan dibersihkan secara hati-hati sebelum didiamkan dalam suhu ruangan selama satu malam.

Dengan memperluas objek jamasan hingga manuskrip kuno, tradisi ini tidak hanya menjaga benda bersejarah secara fisik, tetapi juga melestarikan nilai pengetahuan yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup di tengah masyarakat.

“Naskah kuno jangan disembunyikan. Harus didata, diidentifikasi, dan didigitalisasi supaya ilmunya tetap bisa diwariskan,” imbuh pria yang juga wakil Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia, Jawa Timur ini. (jaz/c1/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
Harmadji Tradisi jamasan Muharam manuskrip kuno kecamatan pogalan