KARANGAN, Radar Trenggalek – Kondisi Jembatan Banger yang menghubungkan Kecamatan Karangan dan Tugu kini dipastikan dalam keadaan aman dan lancar untuk dilalui masyarakat.
Kendati perbaikan dan penyempurnaan infrastruktur vital tersebut telah dirampungkan pihak pelaksana, potensi kerusakan akibat tingginya volume kendaraan bermuatan berat kini menjadi perhatian serius pihak kecamatan.
Camat Karangan, Mohammad Jafar Said mengungkapkan, jembatan tersebut sebelumnya sempat melalui beberapa tahap penanganan. Proses tersebut meliputi pembongkaran awal, pembangunan kembali, hingga tahap penyempurnaan struktur.
Baca Juga: Dinsos Siapkan Pemindahan Bayi Dijemput UPT PPSAB Sidoarjo Persyaratan Adopsi Cukup Ketat
Seluruh pengerjaan penyempurnaan yang dilakukan belakangan ini merupakan bagian dari kewajiban dan jaminan pemeliharaan dari pihak kontraktor di bawah pengawasan organisasi perangkat daerah (OPD) teknis.
"Dari pihak kecamatan sifatnya hanya menginformasikan kondisi di lapangan kepada OPD teknis. Mengenai pengerjaan fisik maupun masa garansi pemeliharaan, itu sepenuhnya menjadi kewenangan teknis antara kontraktor dengan dinas terkait," ujar Jafar.
Dia menjelaskan, berdasarkan pantauan terkini, kondisi permukaan jalan di Jembatan Banger sudah relatif mulus dan tidak ditemui kerusakan berarti maupun lubang yang mengganggu pengguna jalan.
Baca Juga: Warga Temukan Bayi di Teras Kondisi Hidup dan Menangis Polisi Dalami Motif Pembuangan
Kendati demikian, muncul kekhawatiran terkait ketahanan jangka panjang jembatan akibat maraknya kendaraan bertonase besar yang melintas.
Menurut dia, jalur yang melintasi Jembatan Banger merupakan akses poros kecamatan yang sangat strategis. Banyak armada truk bermuatan berat dari arah Kabupaten Ponorogo yang memilih melintas melalui jalur Kerjo-Karangan ketimbang memutar melewati kawasan perkotaan Trenggalek.
"Jalur ini memang jalur poros. Truk-truk muatan berat dari arah Ponorogo lebih banyak yang lewat Kerjo. Kalau dulu masih ada pengetatan atau pembatasan muatan, sekarang kendaraan bertonase besar relatif bebas melintas. Jika konstruksinya tidak benar-benar disesuaikan, kita tidak tahu bisa bertahan berapa lama," jelasnya.
Baca Juga: Penemu Sempat Mengira Boneka Setelah Dibuka Syok Ternyata Bayi
Kondisi tersebut menjadi dilema tersendiri. Di satu sisi, keberadaan jalur ini sangat mendukung mobilitas ekonomi masyarakat.
Namun di sisi lain, kemampuan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kabupaten Trenggalek cukup terbatas untuk membangun jembatan berstandar kelas tinggi dalam waktu singkat.
Penanganan infrastruktur skala besar umumnya memerlukan waktu karena harus mengandalkan pengajuan bantuan anggaran ke pemerintah provinsi.
Baca Juga: Bayi Datang dalam Kondisi Kotor Diduga Lahir tanpa Penanganan Medis
Maka, pihak Kecamatan Karangan mendorong adanya langkah antisipasi dari instansi berwenang, khususnya Dinas Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub) Trenggalek, untuk melakukan penertiban atau pembatasan tonase kendaraan yang melintas.
"Kami hanya bisa memberikan masukan kepada disperkimhub agar ada penertiban kembali terhadap truk bermuatan overtonase. Kasihan kekuatan APBD kita jika harus terus-menerus melakukan perbaikan. Jika tonase dibatasi, jembatan dan jalan tentu bisa jauh lebih awet," pungkasnya. (gun/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK