KOTA, Radar Trenggalek - Penguatan digitalisasi menjadi salah satu pekerjaan rumah (PR) dalam pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) di Kabupaten Trenggalek. Selain optimalisasi promosi digital, kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif dinilai perlu diperkuat untuk mendukung terwujudnya Trenggalek sebagai kabupaten kreatif.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan Evaluasi Kinerja Komite Ekonomi Kreatif 2024–2026 dan Penyusunan Rencana Aksi Trenggalek sebagai Kabupaten Kreatif di Aula Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek, Rabu (29/7).
Kegiatan dihadiri Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Trenggalek Cusi Kurniawati, Plt Kepala Disparbud Tony Widianto, Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Inrformatika (Diskominfo) Trenggalek Yusuf Widharto, Koordinator Trenggalek Creative Network (TCN) Zanzabella, perwakilan OPD, serta perwakilan pelaku ekonomi kreatif.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Trenggalek Cusi Kurniawati mengatakan, ekonomi kreatif tidak dapat dikembangkan hanya oleh satu OPD.
Menurut dia, hampir setiap kegiatan pemerintah yang melibatkan masyarakat membutuhkan sentuhan pelaku ekonomi kreatif, mulai penyelenggaraan acara, pertunjukan hingga promosi daerah. "Komite Ekraf memang berada di disparbud, tetapi implementasinya harus lintas OPD. Semua harus berkolaborasi karena ekonomi kreatif menyentuh banyak sektor," ujarnya.
Senada, Plt Diskominfo Trenggalek Yusuf Widharto menilai promosi potensi daerah harus semakin memanfaatkan platform digital. Menurut dia, kreator konten memiliki peran penting dalam mengenalkan destinasi wisata maupun produk UMKM kepada masyarakat yang lebih luas. "Kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Yang dibutuhkan sekarang adalah kolaborasi. Wisata, UMKM, dan potensi daerah harus dikemas melalui konten digital agar semakin dikenal masyarakat luas," katanya.
Yusuf mengungkapkan, diskominfo sebenarnya telah memiliki web ekonomi kreatif. Namun, sementara waktu dinonaktifkan karena penataan sistem dan penguatan keamanan siber. Web yang tidak aktif dinilai rawan disusupi malware sehingga perlu ditata ulang sebelum kembali dioperasikan.
Selain itu, diskominfo bersama disparbud juga berencana menyinergikan Festival Internet of Things (IoT) dengan agenda Gebyar Ekraf. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan kegiatan yang lebih besar sekaligus memperluas promosi potensi kreatif Trenggalek.
Baca Juga: BRI BO Trenggalek Serahkan Manfaat Klaim Asuransi Aurora Plus Rp100 Juta kepada Ahli Waris Nasabah
Sementara itu, Koordinator Trenggalek Creative Network (TCN) Zanzabella menjelaskan, berdasarkan Rencana Induk Ekonomi Kreatif 2026–2029 terdapat empat subsektor baru, yakni konten digital, sulih suara, modifikasi otomotif, dan teknologi baru. Kehadiran subsektor tersebut memberi ruang yang lebih jelas bagi pelaku ekonomi kreatif, terutama kreator konten yang sebelumnya belum memiliki klasifikasi tersendiri.
"Kami berharap seluruh kegiatan ekonomi kreatif dapat terhubung dalam satu kalender bersama. Dengan begitu, setiap kegiatan saling menguatkan, meninggalkan jejak digital, memperkuat city branding Trenggalek, dan menjadi bekal menuju kabupaten kreatif yang lebih kompetitif," pungkasnya. (bim/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK