PULE, Radar Trenggalek – Di tengah derasnya arus digital yang semakin sulit dibendung, telepon genggam telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Kemudahan mengakses informasi, belajar, hingga berinteraksi memang menjadi keuntungan teknologi.
Namun, di balik itu, muncul ancaman baru berupa kecanduan gawai yang perlahan mengikis kepedulian sosial, komunikasi keluarga, hingga kesehatan mental.
Fenomena tersebut diangkat secara cerdas oleh siswa-siswi SMAN 1 Pule melalui film pendek berjudul Inang. Karya ini berhasil meraih Juara I Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Kategori Film Pendek Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 dan mengantarkan tim menjadi wakil Jawa Timur pada ajang FLS3N tingkat nasional.
Berbeda dengan film remaja pada umumnya yang hanya menyoroti dampak negatif penggunaan gawai, Inang menghadirkan pendekatan yang lebih mendalam. Film ini memadukan persoalan global dengan nilai-nilai budaya lokal sebagai jalan refleksi sekaligus penyembuhan.
Baca Juga: Raperda Desa Masih Butuh Perbaikan Tunda Fasilitasi ke Pemprov
Tokoh utama digambarkan sebagai seorang pelajar yang hampir seluruh waktunya dihabiskan bersama layar ponsel. Dia mulai mengabaikan keluarga, kehilangan kepedulian terhadap lingkungan, hingga lebih nyaman hidup di dunia maya dibandingkan realitas. Hubungan dengan orang tua semakin renggang, sementara kehidupan sosialnya perlahan memudar.
Berbagai upaya dilakukan keluarga untuk mengingatkan sang anak. Namun, semua nasihat tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya keluarga memilih menjalani ruwatan, sebuah tradisi Jawa yang selama ini dikenal sebagai simbol penyucian diri dan pelepasan dari berbagai belenggu kehidupan.
Di tangan para siswa siswi muda SMAN 1 Pule, ruwatan dimaknai secara lebih kontekstual. Bukan sebagai ritual yang menolak perkembangan zaman, melainkan simbol bahwa manusia harus kembali menjadi pengendali teknologi, bukan justru diperbudak olehnya.
Pesan tersebut disampaikan melalui visual yang sederhana, sinematografi yang kuat, serta alur cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini. Judul Inang juga menyimpan filosofi mendalam.
Baca Juga: Siswa Sekolah Rakyat Diboyong ke Gedung Baru, Nomenklatur Baru, SRT 50 Resmi Jadi SRT 1
Sosok inang digambarkan sebagai figur yang merawat, membimbing, dan mengingatkan manusia agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya perubahan zaman. Nilai-nilai kasih sayang, kepedulian, dan kebijaksanaan menjadi benang merah yang menghubungkan budaya dengan tantangan kehidupan modern.
Keberhasilan film ini menjadi bukti bahwa pelajar daerah mampu menghasilkan karya yang tidak hanya unggul secara artistik, tetapi juga memiliki kedalaman gagasan.
Isu kecanduan digital yang menjadi perhatian dunia berhasil dipadukan dengan kearifan lokal Jawa sehingga menghadirkan pesan yang relevan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Prestasi tersebut tentu tidak diraih secara instan. Di balik layar terdapat proses panjang mulai dari penyusunan ide cerita, penulisan skenario, pengambilan gambar, penyuntingan, hingga pendampingan intensif dari guru pembina, Handayani SPd. Kolaborasi, kreativitas, dan semangat para siswa menjadi modal utama hingga akhirnya mampu membawa pulang gelar juara tingkat provinsi.
Baca Juga: Siswa-Guru MTsN 2 Trenggalek Asah Potensi Literasi dan Jurnalistik
Lebih dari sekadar trofi, Inang menawarkan sebuah refleksi. Bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan karakter, budaya, dan kebijaksanaan dalam menggunakannya.
Di era ketika kebersamaan keluarga kerap tergantikan oleh layar gawai, film ini mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak, menoleh ke kehidupan nyata, serta bertanya pada diri sendiri: apakah kita masih mengendalikan teknologi atau justru telah menjadi tawanan teknologi?
Melalui Inang, siswa-siswi SMAN 1 Pule tidak hanya mengharumkan nama Kabupaten Trenggalek di tingkat Provinsi Jawa Timur. Mereka juga membawa pesan bahwa masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi oleh seberapa bijak manusia menggunakannya.(san/c1/gun)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK