Petani Bibit Sengon Menjerit

Gunawan Awan • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 10:34 WIB
MODAL MANDIRI: Petani pembibitan sengon di Desa Sukorame, Kecamatan Gandusari, saat merawat tanam.(GUNAWAN/RADAR TRENGGALEK)
MODAL MANDIRI: Petani pembibitan sengon di Desa Sukorame, Kecamatan Gandusari, saat merawat tanam.(GUNAWAN/RADAR TRENGGALEK)

GANDUSARI, Radar Trenggalek - Usaha pembibitan tanaman kayu sengon di Kabupaten Trenggalek kini tengah menghadapi masa-masa sulit.

Lesunya pasar dan minimnya permintaan membuat para pembudi daya bibit sengon harus memutar otak agar usaha mandiri mereka tak gulung tikar.

​Salah satu pelaku usaha pembibitan bibit sengon, Sri Suyatmi di Desa Sukorame, mengungkapkan bahwa kondisi pasar saat ini sangat jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.

Jika dahulu pesanan bibit melimpah hingga keluar daerah, kini pembeli yang datang bisa dihitung dengan jari. ​"Sekarang sepi sekali, Mas. Pembelinya sangat jarang. Padahal dulu pesanan sering datang dari luar daerah," ujar Sri Suyatmi saat ditemui di lokasi pembibitan miliknya.

​Dia mengaku proses pembibitan sengon memerlukan ketelatenan serta waktu yang tidak singkat. Sri menjelaskan, alur pembudidayaan dimulai dari pemilihan benih unggul yang disemai, direndam, dijemur, hingga dimasukkan ke dalam media polibag.

Baca Juga: Bayi Temuan Dibawa ke PPSAB Jalani Perawatan, Tunggu Proses Hukum

“Bibit baru siap dipasarkan setelah merawatnya sekitar satu bulan lebih. Dalam satu bedeng, terdapat sekitar 400 hingga 500 bibit tanaman. Bibit sengon umumnya dihargai kisaran Rp 1.000 per batang, tergantung pada jumlah pembelian serta kondisi kesegaran tanaman,” jelasnya.

​Di masa keemasannya, pembeli bibit sengon milik Sri tidak hanya berasal dari kawasan lokal Trenggalek. Banyak tengkulak dan petani dari wilayah luar daerah seperti Pacitan, Ponorogo, Blitar, hingga Kediri yang memesan dalam jumlah puluhan ribu batang. Namun, kini pesanan partai besar tersebut menurun drastis.

Kendala para petani pembibitan ini semakin berat karena seluruh operasional dijalankan secara mandiri tanpa adanya sokongan dana atau bantuan langsung dari pihak desa maupun pemerintah daerah setempat. Usaha ini murni tergolong sebagai UMKM rakyat yang merangkak dari bawah.

Bahkan, untuk media tanam seperti tanah pembibitan, Sri dan para pembudi daya lainnya harus mengeluarkan modal ekstra untuk membeli tanah dari tempat lain.

​"Usaha ini murni sendiri, tidak ada bantuan dari kelompok tani atau desa. Tanah untuk media polibag saja kami harus beli, tidak bisa asal mengambil," tambahnya.

Kini, para petani bibit sengon di Trenggalek hanya bisa berharap adanya perhatian dari instansi terkait, baik berupa pendampingan, bantuan modal kerja, maupun kemudahan akses pasar.

Tanpa adanya dorongan pemasaran yang luas dari pihak pemerintah, usaha pembibitan rakyat ini terancam kian tenggelam di tengah lesunya ekonomi sektor kehutanan masyarakat. (gun/c1/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
kayu sengon Sri Suyatmi umkm kabupaten trenggalek