Kepedulian Lingkungan lewat Gasstik Bersedekah Botol Plastik Bekas

Gunawan Awan • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 11:12 WIB
LATIH KEPEDULIAN: Siswa MTsN 2 Trenggalek ketika mengumpulkan botol bekas di sekolah.(GUNAWAN/ RADAR TRENGGALEK)
LATIH KEPEDULIAN: Siswa MTsN 2 Trenggalek ketika mengumpulkan botol bekas di sekolah.(GUNAWAN/ RADAR TRENGGALEK)

KAMPAK, Radar Trenggalek – Ada pemandangan unik di MTsN 2 Trenggalek setiap pekan. Memasuki tahun ajaran baru, lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama ini menanamkan karakter peduli lingkungan lewat program inovatif bertajuk Gerakan Sedekah Sampah Botol Plastik atau yang disingkat Gasstik.

Program yang digulirkan dua kali dalam seminggu—yakni setiap hari Rabu dan Sabtu—ini mewajibkan seluruh warga madrasah membawa botol plastik bekas saat hendak pulang.

Kepala MTsN 2 Trenggalek, Ahzan Winarto mengungkapkan, gerakan ini bertujuan untuk mengubah persepsi masyarakat, khususnya para siswa, mengenai konsep bersedekah.

Menurut dia, sedekah tidak selalu identik dengan nominal uang atau barang berharga. Barang bekas yang sering dianggap sampah pun bisa bernilai guna jika dikelola dengan baik.

 Baca Juga: Perkuat Pengawasan dan Prioritaskan Pencegahan

"Kami ingin mengajarkan kepada anak-anak bahwa sedekah itu luas. Dari hal kecil yang dianggap tak berguna seperti botol plastik bekas, kita bisa memberikan manfaat. Ini adalah cara kami menanamkan kepedulian lingkungan sekaligus nilai spiritual sejak dini," ujar Ahzan Winarto.

Aturan dalam gerakan ini berlaku tegas namun edukatif. Seluruh siswa, guru, hingga staf tata usaha (TU) wajib memberikan minimal satu botol plastik bekas ukuran berapa pun sebagai syarat kepulangan. Sampah botol tersebut nantinya dimasukkan ke wadah khusus yang telah disediakan di area madrasah.

Untuk memastikan keseriusan dan kelancaran program, penanggung jawab operasional Gasstik diserahkan sepenuhnya kepada Tim Adiwiyata madrasah. "Perlakuan program ini sama untuk semua, baik siswa maupun guru. Jika ada yang lupa membawa, mereka tidak bisa langsung pulang dan harus mencari botol bekas di lingkungan madrasah terlebih dahulu. Bahkan kalau guru yang lupa, saya sendiri yang akan mengawasi," kata Ahzan.

Tak sekadar mengumpulkan sampah, kepedulian ini juga diproyeksikan memiliki nilai ekonomis jangka panjang. Saat ini, sampah botol yang terkumpul disalurkan ke pengepul barang bekas, serta sebagian dimanfaatkan untuk kerajinan tangan siswa. Namun, ke depan, MTsN 2 Trenggalek berencana mengelola sampah tersebut secara mandiri sebagai unit usaha madrasah.

Baca Juga: Petani Bibit Sengon Menjerit

Pihak madrasah berencana membeli mesin pengepres hingga mesin pencacah plastik. Dengan mengolah botol bekas menjadi bahan cacahan, nilai jualnya di pasaran akan jauh lebih tinggi. Hasil pengolahan tersebut nantinya dapat menjadi pemasukan tambahan bagi kegiatan operasional maupun pengembangan kelembagaan.

Melalui Gasstik, Ahzan berharap nilai-nilai kepedulian ini tidak berhenti di gerbang madrasah saja. Siswa diharapkan mampu membawa kebiasaan baik ini ke lingkungan rumah dan masyarakat sekitar.

"Tujuan utama kami bukan membentuk anak-anak menjadi pemulung, melainkan membangun karakter (character building).

“Kami ingin mereka peka terhadap lingkungan. Jika di rumah ada botol plastik bekas, mereka tahu bahwa barang itu punya nilai manfaat dan tidak dibuang sembarangan," pungkasnya.(gun/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
MTsN2Trenggalek Gasstik SedekahSampah