Ancaman Krisis Air dan Karhutla Musim Kemarau Kian Panjang Sembilan Desa mulai Terdampak

Zaki Jazai • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 11:34 WIB
GERSANG: Beberapa wilayah di Kabupaten Trenggalek sudah mengalami penurunan ketersediaan air bersih.(DHARAKA R PERDANA/RADAR TRENGGALEK)
GERSANG: Beberapa wilayah di Kabupaten Trenggalek sudah mengalami penurunan ketersediaan air bersih.(DHARAKA R PERDANA/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek – Masyarakat Bumi Menak Sopal harus berhemat memakai air pada beberapa bulan ke depan. Pasalnya, ancaman kekeringan mulai menghantui sejumlah wilayah di Kabupaten Trenggalek seiring musim kemarau yang kian panjang.

Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, sedikitnya sembilan desa di lima kecamatan mulai terdampak kekurangan air bersih.

Wilayah terdampak kekeringan tersebar di antaranya Kecamatan Tugu di Desa Prambon, serta Kecamatan Panggul di Desa Nglebeng, Besuki, Kertosono, Karangtengah, dan Ngrencak.

Juga di Kecamatan Karangan yaitu Desa Jatiprahu, Kecamatan Pogalan di Desa Wonocoyo, Kecamatan Gandusari di Desa Wonoanti, serta Kecamatan Kampak di Desa Timahan. 

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi meluas jika tidak segera ditangani. “Kekeringan mulai mengancam. Beberapa wilayah sudah mengalami penurunan ketersediaan air bersih,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, St. Triadi Atmono.

Baca Juga: Perkuat Akses Kerja dan Lirik Program IM Japan

Tak hanya kekeringan, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat. BPBD mencatat kejadian karhutla di empat kecamatan dengan total luasan terbakar mencapai 10,5 hektare (ha) hingga 25 Juli 2026.

“Karhutla ini dipicu kondisi cuaca panas dan angin kencang. Vegetasi seperti bambu, pohon sono, dan semak belukar sangat mudah terbakar,” jelasnya.

Beberapa titik kebakaran tercatat di Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan; Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan; Desa Gayam, Kecamatan Panggul; dan Desa Karanganyar, Kecamatan Gandusari. Luas area terbakar bervariasi antara 1 hingga 3,5 ha per kejadian.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Trenggalek telah melakukan berbagai langkah penanganan. Mulai dari distribusi air bersih ke desa terdampak, pemantauan wilayah rawan, hingga koordinasi dengan pemerintah desa.

“Kami juga terus mengimbau masyarakat untuk hemat air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran,” imbuhnya.

Triadi menekankan peran aktif masyarakat sangat penting dalam mencegah bencana semakin meluas. Dia mengingatkan agar warga tidak membakar lahan sembarangan dan tidak membuang puntung rokok di area kering.

“Laporkan segera jika terjadi kebakaran atau kekeringan agar bisa cepat ditangani,” tegasnya.

BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi resmi, terutama terkait kondisi cuaca ekstrem seperti panas terik dan potensi angin kencang.

“Kami siaga 24 jam. Masyarakat diharapkan tetap tenang, tapi waspada,” tandas pria yang juga dipercaya sebagai Pj Sekda Trenggalek ini. (jaz/c1/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
bpbd Pj Sekda Trenggalek St. Triadi Atmono karhutla