KOTA, Radar Trenggalek - Budaya literasi di lingkungan sekolah masih menjadi pekerjaan rumah bagi dunia pendidikan. Di tengah semakin tingginya penggunaan gawai dan media sosial, sekolah dan madrasah dituntut mencari cara agar minat baca peserta didik tidak terus menurun.
Kepala MTsN 1 Trenggalek, Jamaluddin Malik mengatakan, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan menyaring informasi yang diterima.
Menurut dia, kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi siswa untuk menghadapi perkembangan teknologi informasi yang berlangsung sangat cepat.
"Anak-anak sekarang sangat mudah memperoleh informasi dari internet. Karena itu, mereka juga harus dibekali kemampuan memahami informasi, memilah mana yang benar, serta mampu berpikir kritis," ujarnya, Senin (3/8).
Dia menilai membangun budaya membaca tidak bisa dilakukan hanya melalui program sesaat. Pembiasaan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh warga sekolah. Guru memiliki peran penting dalam menumbuhkan minat baca melalui proses pembelajaran yang menarik, sementara orang tua juga diharapkan ikut mendampingi anak ketika berada di rumah.
Menurut Jamaluddin, perpustakaan sekolah masih memiliki peran strategis sebagai pusat belajar. Namun, keberadaannya harus diimbangi dengan inovasi agar siswa tertarik berkunjung. Kegiatan seperti pojok baca di kelas, diskusi buku, hingga penugasan yang mendorong siswa mencari referensi dinilai dapat membantu menumbuhkan kebiasaan membaca.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga perlu dimanfaatkan sebagai sarana pendukung literasi. Pemanfaatan buku digital maupun sumber belajar daring dapat menjadi alternatif selama tetap diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bukan sekadar mengakses hiburan.
Sejumlah pengamat pendidikan menilai rendahnya minat baca akan berpengaruh terhadap kemampuan memahami materi pelajaran maupun menyelesaikan persoalan sehari-hari. Karena itu, penguatan budaya literasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Baca Juga: Wasit Telah Kantongi Legalitas Asprov Merasa Jadi Korban
Jamaluddin berharap budaya literasi tidak hanya tumbuh di lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi kebiasaan di rumah dan masyarakat. Dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, siswa diharapkan mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
"Literasi bukan sekadar membaca, tetapi membentuk cara berpikir. Ketika budaya itu tumbuh, siswa akan lebih siap menghadapi tantangan pendidikan maupun kehidupan di masa depan," pungkasnya. (bim/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK