KOTA, Radar Trenggalek – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek terus memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TB) sebagai salah satu program prioritas nasional di bidang kesehatan.
Berbagai strategi dilakukan untuk mengejar target eliminasi TBC pada 2030, mulai dari memperluas skrining kepada kelompok berisiko, mengintegrasikan pemeriksaan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), hingga menerjunkan alat rontgen portabel ke wilayah kerja puskesmas agar penemuan kasus bisa lebih optimal.
Plt Dinkes PPKB Trenggalek, drg Andiek Muarifin menjelaskan, TB saat ini tidak hanya menjadi program prioritas nasional, tetapi juga masuk dalam program hasil terbaik cepat (Quick Win) presiden.
Menurut dia, target eliminasi bukan berarti penyakit tersebut benar-benar hilang, melainkan seluruh penderita dapat ditemukan sedini mungkin, diobati hingga sembuh, serta penularannya dapat dikendalikan.
"Pengendalian TB tidak bisa hanya dilakukan sektor kesehatan. Perlu kolaborasi lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat agar penularan dapat ditekan," ujarnya, Selasa (4/8).
Baca Juga: Tumpukan Meterial Jadi Sumber PAD Di Terminal MPU
Dia mengaku tantangan terbesar penanganan TB di Trenggalek kini justru masih rendahnya angka penemuan kasus. Kondisi tersebut dinilai lebih berbahaya dibanding tingginya angka kasus yang terdeteksi.
Sebab, masih banyak penderita yang belum terdiagnosis sehingga berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain.
Menurut dia, penemuan kasus TB dapat diibaratkan seperti fenomena gunung es. Kasus yang terlihat di permukaan belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Karena itu, dinkes PPKB justru menargetkan semakin banyak penderita ditemukan agar dapat segera menjalani pengobatan.
"Kalau temuannya sedikit, belum tentu kasusnya sedikit. Bisa jadi pencarian kasusnya yang belum maksimal. Karena itu, kami terus memperluas skrining," katanya.
Sebagai langkah konkret, dinkes PPKB bekerja sama dengan rumah sakit menerjunkan tim radiografer menggunakan alat rontgen portabel yang dapat dibawa langsung ke wilayah kerja puskesmas.
Pemeriksaan diprioritaskan kepada kontak erat pasien TB, anggota keluarga penderita, hingga kelompok masyarakat dengan penyakit penyerta seperti diabetes melitus (DM) yang memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi TB.
Selain itu, skrining TB kini juga diintegrasikan dalam program CKG. Dengan integrasi tersebut, masyarakat yang menjalani pemeriksaan kesehatan berkesempatan memperoleh deteksi dini TB apabila memiliki gejala maupun faktor risiko.
Upaya pencarian kasus yang semakin masif mulai menunjukkan hasil. Dinkes PPKB mencatat tren penemuan penderita mengalami peningkatan. Namun, peningkatan tersebut bukan berarti penyebaran TBC semakin luas, melainkan menunjukkan proses skrining berjalan lebih efektif sehingga lebih banyak penderita berhasil ditemukan dan segera mendapatkan pengobatan.
"Harapannya, setelah ditemukan, pasien langsung diobati. Kemudian, keluarga maupun kontak eratnya juga dilakukan skrining supaya penularan bisa diputus," jelasnya.
Meski demikian, tantangan belum berhenti pada proses penemuan kasus. Dinkes PPKB masih menghadapi persoalan pasien yang tidak menuntaskan pengobatan.
Saat ini, angka kesembuhan TB mencapai sekitar 85 persen, sedangkan sekitar 15 persen pasien tercatat putus berobat atau drop out.
Kondisi tersebut disebabkan berbagai faktor, mulai dari pasien pindah domisili, merasa sudah sembuh sebelum pengobatan selesai, hingga kurangnya motivasi untuk mengonsumsi obat secara rutin.
Padahal, pengobatan TB harus dijalani hingga tuntas dan dinyatakan sembuh melalui pemeriksaan laboratorium.
Jika pengobatan dihentikan di tengah jalan, pasien berisiko mengalami kekambuhan bahkan meningkatkan potensi penularan kepada orang lain.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, dinkes PPKB memperkuat peran kader pendamping minum obat atau Jumantuk (Juru Pemantau Batuk).
Kader tersebut bertugas mengingatkan pasien agar disiplin menjalani pengobatan hingga selesai. Selain itu, dinkes PPKB juga mengusulkan program bedah rumah bagi penderita TB karena kondisi rumah dengan ventilasi buruk dan kelembapan tinggi menjadi salah satu faktor yang mempercepat penularan penyakit.
Dari 10 rumah yang diusulkan, tiga di antaranya telah lolos proses verifikasi, sementara sisanya masih menunggu hasil.
Dinkes PPKB berharap dukungan masyarakat terus meningkat agar target eliminasi TB pada 2030 dapat tercapai.
Kesadaran untuk memeriksakan diri ketika mengalami batuk berkepanjangan, menjalani pengobatan hingga tuntas, serta melakukan skrining bagi anggota keluarga yang melakukan kontak erat dengan pasien dinilai menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan penyakit tersebut. (mal/c1/din)
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK