JAKARTA – Tradisi primbon Jawa mengenal berbagai perhitungan sebelum membangun rumah. Mulai dari pemilihan bulan, hari, hingga jam peletakan batu pertama dipercaya menjadi bagian dari ikhtiar agar rumah yang dibangun membawa keselamatan, ketenteraman, dan kelancaran rezeki bagi penghuninya.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa seluruh perhitungan merupakan warisan budaya para leluhur Jawa. Tujuannya bukan untuk memastikan takdir seseorang, melainkan sebagai pedoman yang diyakini dapat menjadi bentuk kehati-hatian sebelum memulai pembangunan rumah.
### Bulan yang Dianggap Baik untuk Membangun Rumah
Menurut penjelasan narasumber, beberapa bulan yang dianggap baik untuk memulai pembangunan rumah adalah Syawal, Rejeb, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, dan terutama bulan Besar (Dzulhijjah).
Bulan Besar disebut sebagai waktu yang paling istimewa karena dipercaya melambangkan kebesaran, sehingga diharapkan membawa kemuliaan, keselamatan, dan rezeki yang lebih baik bagi pemilik rumah.
Sebaliknya, bulan Mulud dan bulan Ruwah disebut sebagai bulan yang umumnya dihindari untuk memulai pembangunan rumah menurut tradisi tersebut.
### Hari Terbaik untuk Peletakan Batu Pertama
Selain memilih bulan, masyarakat Jawa juga mengenal perhitungan hari berdasarkan neptu.
Dalam pembahasan itu dijelaskan bahwa hari yang dianggap paling istimewa adalah Selasa Legi dengan jumlah neptu 8. Hari tersebut dipercaya memiliki perpaduan perhitungan Kertayasa jatuh Candi serta Ringkel Dedel jatuh Sleman atau Nabi, sehingga dinilai sangat baik untuk memulai pembangunan rumah.
Apabila sulit menunggu hari tersebut karena hanya muncul pada waktu tertentu, memilih hari yang memenuhi perhitungan Tiba Candi juga disebut sudah termasuk baik menurut tradisi primbon.
Selain hari, narasumber juga menyarankan memilih wuku yang baik sebagai pelengkap perhitungan sebelum pembangunan dimulai.
### Pentingnya Menentukan Jam dan Peletakan Batu Pertama
Tradisi Jawa tidak hanya memperhitungkan bulan dan hari, tetapi juga jam memulai pembangunan.
Jam pelaksanaan dihitung menggunakan siklus Urip, Lara, Pati, dengan anjuran memilih waktu yang jatuh pada hitungan Urip, karena dipercaya melambangkan kehidupan dan keberkahan.
Dalam praktiknya, waktu tersebut diterapkan saat peletakan batu pertama atau pemasangan pondasi. Narasumber menegaskan bahwa prosesi ini sebaiknya dilakukan langsung oleh pemilik rumah, meskipun hanya meletakkan satu batu sebagai simbol dimulainya pembangunan.
Apabila rumah yang dibeli merupakan rumah jadi, seperti rumah subsidi atau perumahan, perhitungan tersebut tidak lagi diterapkan pada proses pembangunan. Sebagai gantinya, pemilik dianjurkan memilih hari yang baik untuk pindah rumah atau mulai menempati hunian.
Di akhir pembahasan, narasumber menegaskan bahwa seluruh perhitungan tersebut merupakan bagian dari budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi itu tidak dimaksudkan untuk mengharuskan seseorang mengikuti seluruh perhitungannya, melainkan sebagai bentuk pelestarian budaya dan ikhtiar menurut kepercayaan masyarakat Jawa.
source: Youtube @PadepokanTirtoYoso
Editor : Ais Mufida Zamzam