Kasus HIV Didominasi Usia Produktif, Penyuluh Agama Ajak Perkuat Hifzh an-Nasl untuk Jaga Generasi

Gunawan Awan • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 10:25 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

PANGGUL, Radar Trenggalek – Meningkatnya kasus human immunodeficiency virus (HIV) di Kabupaten Trenggalek menjadi perhatian berbagai pihak.

Hingga semester pertama 2026, tercatat 47 kasus HIV dengan mayoritas penderitanya berasal dari kelompok usia produktif yakni 25–49 tahun.

Kelompok usia tersebut merupakan fase penting dalam kehidupan seseorang karena sedang membangun keluarga, bekerja, serta berperan dalam pembangunan daerah.

Karena itu, persoalan HIV dinilai tidak hanya menyangkut aspek kesehatan, tetapi juga berdampak pada ketahanan keluarga dan kualitas generasi mendatang.

Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Trenggalek, Alfi Sa'adah mengatakan, data tersebut semestinya menjadi bahan refleksi bersama.

Baca Juga: Deteksi Penderita TB, Rontgen Portabel Diterjunkan

Menurut dia, setiap kasus yang tercatat bukan sekadar angka statistik, melainkan menggambarkan adanya keluarga dan masa depan yang harus dilindungi.

"Dalam perspektif Islam, menjaga generasi merupakan bagian dari tujuan utama syariat atau maqashid syariah, yakni hifzh an-nasl.

Konsep ini tidak hanya dimaknai sebagai menjaga keturunan, tetapi juga memastikan generasi tumbuh sehat, memiliki lingkungan keluarga yang baik, serta terlindungi dari berbagai ancaman yang dapat merusak masa depannya," ujarnya.

Dia menjelaskan, Islam mengajarkan pentingnya membangun keluarga yang berkualitas sekaligus menjaga kesehatan reproduksi.

Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui tanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga, menjaga kehormatan diri, serta menghindari perilaku yang berisiko terhadap kesehatan.

Alfi mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 195 yang artinya, "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan."

Dia menjelaskan, ayat tersebut menjadi pengingat agar setiap individu berupaya menjaga diri dari berbagai hal yang dapat membahayakan kesehatan maupun keberlangsungan hidup.

Di sisi lain, dia mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV. Sebab, penularan HIV memiliki berbagai jalur yang telah dijelaskan secara medis, tidak semata-mata disebabkan oleh perilaku berisiko.

"Ada yang tertular dari pasangan, dari ibu kepada anak, maupun melalui prosedur medis pada masa lalu. Karena itu, Islam mengajarkan keadilan dan kasih sayang. Pencegahan harus dilakukan secara serius, tetapi diskriminasi tidak boleh menjadi bagian dari sikap kita," tegasnya.

Menurut Alfi, upaya pencegahan akan lebih efektif apabila pendidikan agama berjalan beriringan dengan edukasi kesehatan. Masjid, majelis taklim, sekolah, keluarga, hingga berbagai ruang pembinaan masyarakat dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi mengenai kesehatan reproduksi, ketahanan keluarga, dan bahaya HIV.

Baca Juga: Diajak ke Pantai, Bocah SD Jadi Korban Pencabulan

"Literasi yang baik akan melahirkan kesadaran. Kesadaran itulah yang pada akhirnya membentuk perilaku yang bertanggung jawab dalam menjaga diri maupun keluarga," katanya.

Dia menambahkan, membangun generasi unggul tidak cukup hanya melalui pendidikan akademik. Generasi yang berkualitas juga membutuhkan keluarga yang sehat, lingkungan yang kondusif, nilai-nilai agama yang kuat, serta kepedulian sosial dari seluruh elemen masyarakat.

Dia mengajak pemerintah daerah, tenaga kesehatan, penyuluh agama, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, hingga keluarga untuk memperkuat kolaborasi dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.

"Menjaga generasi bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Melalui semangat hifzh an-nasl, kita dapat membangun generasi Trenggalek yang sehat, beriman, berilmu, dan bermartabat," pungkasnya. (alfi/gun/c1/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
usia produktif Kementerian Agama Kabupaten Trenggalek Alfi Sa'adah hiv