Gudang Tambahan Perkuat Cadangan Beras, Bulog Harus Genjot Serapan

Zaki Jazai • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:43 WIB
Petugas Bulog saat mengecek beras yang akan disimpan di gudang baru Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari
Petugas Bulog saat mengecek beras yang akan disimpan di gudang baru Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari

 

GANDUSARI, Radar Trenggalek – Keberadaan gudang tambahan dinilai penting untuk memperkuat cadangan pangan di Bumi Menak Sopal. Sebab, peningkatan serapan gabah dan beras oleh Bulog harus dibarengi dengan kesiapan sarana penyimpanan serta jaringan logistik yang memadai.

Apalagi posisi Trenggalek sebagai salah satu daerah di kawasan selatan Jawa Timur membuat keberadaan fasilitas penyimpanan pangan memiliki nilai strategis. Gudang tambahan diharapkan mampu memperkuat ketersediaan stok sekaligus memperlancar distribusi beras ketika dibutuhkan masyarakat.

“Penguatan sarana penyimpanan pangan ini penting untuk menjaga stok yang sudah berhasil diserap Bulog,” ujar Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat menghadiri peresmian gudang PT Mutual Pangan Utama Filial Perum Bulog KP Karangsoko di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Senin (10/8). 

Dia menyebut cadangan beras Jawa Timur saat ini tergolong besar. Bahkan, stok beras di Jatim disebut mencapai hampir 1,8 juta ton atau mendekati 2 juta ton. Jumlah tersebut berkontribusi sekitar seperempat terhadap cadangan beras nasional yang kini menembus lebih dari 5 juta ton.

Besarnya cadangan tersebut, lanjut Emil, harus diimbangi dengan ketersediaan sarana dan prasarana logistik. Bulog tidak cukup hanya meningkatkan penyerapan hasil panen petani, tetapi juga harus memastikan hasil serapan tersebut memiliki tempat penyimpanan yang memadai.

“Total ada 269 unit gudang yang disewa oleh Bulog untuk bisa menjaga cadangan pangan kita,” jelasnya.

Karena itu, keberadaan gudang di Trenggalek diharapkan turut memperkuat kemampuan Bulog dalam menyerap hasil pertanian. Terlebih, saat ini harga gabah di tingkat petani telah berada di atas Rp 8.000 per kilogram.

Menurut Emil, kenaikan harga gabah menjadi kabar baik bagi petani karena menunjukkan adanya peningkatan nilai hasil produksi. Namun, kondisi tersebut tetap harus diikuti pengawasan harga beras di tingkat konsumen agar tidak memicu inflasi.

“Hari ini saja kami mendapat informasi ada harga gabah di atas Rp 8.000. Tentu bagus, petani sejahtera. Yang harus kita lakukan adalah memantau harga di level konsumen, karena jangan sampai terjadi inflasi yang memberatkan rumah tangga,” ungkapnya.

Emil menegaskan, pemerintah harus menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan kemampuan masyarakat mendapatkan beras dengan harga terjangkau. Salah satu instrumennya adalah memastikan cadangan pangan tetap tersedia dan distribusinya berjalan lancar.

“Petani harus sejahtera, tetapi rumah tangga juga harus mampu membeli beras. Jangan sampai rumah tangga mengalami kesulitan membeli beras,” tegasnya.

Di sisi lain, Emil mengapresiasi pola pengisian gudang di Trenggalek yang melibatkan mitra penggilingan lokal. Skema tersebut dinilai memberikan manfaat ganda karena tidak hanya memperkuat cadangan pangan, tetapi juga memperpendek jarak distribusi dan menggerakkan perekonomian daerah.

“Saya tadi cek, ternyata pengisian stok di sini juga memberdayakan mitra-mitra penggilingan yang berada di Trenggalek. Jadi, efisiensi jarak sekaligus pemberdayaan pelaku ekonomi setempat ini menjadi sangat baik,” pungkasnya.

Dengan tambahan fasilitas tersebut, pemerintah berharap serapan hasil panen petani di Trenggalek dan sekitarnya semakin optimal. Di tengah ancaman kekeringan, penguatan stok dan jaringan pergudangan menjadi bagian penting untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus mengantisipasi gejolak harga beras di masyarakat.Kalau ingin, saya juga bisa membuat versi yang lebih “nendang” ala halaman utama Radar Trenggalek, dengan lead yang langsung menonjolkan “Trenggalek di kawasan selatan Jatim, gudang pangan diperkuat untuk antisipasi kekeringan dan inflasi, “ tandas mantan Bupati Trenggalek ini. (Jaz) 

 

Editor : Zaki Jazai
Sumber : Trenggalek Jenggelek
emil elestianto dardak logistik gudang bulog Wakil Gubernur Jawa Timur