GANDUSARI, Radar Trenggalek – Ancaman kekeringan termasuk di Bumi Menak Sopal akibat fenomena El Nino mulai menjadi perhatian serius pemerintah. Meski demikian, ketahanan pangan dipastikan tetap terjaga dengan cadangan beras yang saat ini dikuasai negara.
Terlihat dalam rapat koordinasi antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) bersama pemerintah pusat dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), disampaikan bahwa El Nino tahun ini tergolong sangat kuat.
Fenomena tersebut dipicu oleh perbedaan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia yang menyebabkan uap air menjauh dari wilayah Indonesia. Kondisi itu berpotensi menimbulkan kekeringan hingga Oktober bahkan November.
Di tengah ancaman tersebut, pemerintah memastikan stok beras nasional dalam kondisi aman. Cadangan beras disebut telah mencapai lebih dari 1,5 juta ton, dengan kontribusi besar berasal dari Jawa Timur.
Kebijakan pemerintah pusat melalui Bulog dinilai menjadi kunci. Harga pembelian gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram tanpa mempermasalahkan kualitas mampu mendorong penyerapan hasil panen petani sekaligus menjaga stok.
Baca Juga: Pagar Rusak, Pengusaha Tanggung Jawab
“Stok beras kita ini ada di tangan negara, jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” ungkap Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak saat berkunjung di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Senin (10/8).
Selain menjaga cadangan pangan, pemerintah juga menyiapkan langkah mitigasi kekeringan. Salah satunya melalui penguatan program sumur bor untuk mendukung kebutuhan air pertanian dan air bersih masyarakat.
Wilayah seperti Trenggalek yang memiliki kerawanan kekeringan menjadi perhatian. Terlebih, saat ini sejumlah petani mulai mengeluhkan sulitnya ketersediaan air untuk masa tanam.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan teknologi modifikasi cuaca. Jika terdapat potensi awan hujan, pesawat akan diterbangkan untuk melakukan penyemaian garam guna memicu hujan. “Hujan diprioritaskan untuk mengisi bendungan dan sumber air,” jelasnya.
Namun, kondisi langit yang terlalu cerah di sejumlah wilayah, seperti Bromo, menjadi kendala karena tidak adanya awan yang bisa diintervensi.
Selain itu, kekeringan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Bahkan di kawasan Bromo dilaporkan ratusan hektare lahan sempat terbakar hingga harus dilakukan water bombing menggunakan helikopter.
“Dengan berbagai langkah ini, kami berharap dampak El Nino dapat ditekan. Penguatan stok beras, pembangunan infrastruktur air, hingga intervensi teknologi menjadi kunci agar masyarakat tetap aman di tengah ancaman kekeringan, khususnya di wilayah rawan seperti Trenggalek,“ jelas mantan bupati Trenggalek ini. (jaz/c1/din)
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK