MALANG - Naga Dino dan Patining Dino menjadi bagian dari tradisi hitungan Jawa yang masih dipelajari sebagian masyarakat hingga kini. Dalam sebuah pembahasan mengenai budaya Kejawen, kedua istilah tersebut dijelaskan sebagai pedoman untuk membaca arah berdasarkan perhitungan hari dan pasaran.
Pembahasan ini juga menyinggung bagaimana pengetahuan mengenai Naga Dino diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat Jawa. Karena itu, pemahaman mengenai istilah dan cara menghitungnya dianggap penting bagi mereka yang ingin mempelajari kembali tradisi perhitungan Jawa.
Salah satu contoh yang digunakan adalah Kemis Kliwon. Dalam hitungan Jawa, Kamis memiliki nilai neptu 8, sedangkan Kliwon bernilai 8. Jika digabungkan, jumlah neptunya menjadi 16.
Baca Juga: Sidang Korupsi Nadiem Makarim Selesai, Majelis Hakim Jadwalkan Pembacaan Putusan 30 Juni!
Cara Menghitung Naga Dino
Untuk menentukan Naga Dino, angka neptu hari dan pasaran tersebut kemudian dihitung berdasarkan empat arah mata angin. Urutannya dimulai dari wetan atau timur, kemudian kidul atau selatan, kulon atau barat, dan lor atau utara.
Pada contoh Kemis Kliwon, jumlah neptunya adalah 16. Hitungan tersebut dilakukan berulang mengikuti urutan arah mata angin hingga mencapai angka 16. Berdasarkan contoh dalam pembahasan, hitungan tersebut menghasilkan posisi Naga Dino pada arah tertentu yang kemudian menjadi patokan dalam menentukan arah.
Naga Dino dalam tradisi tersebut digambarkan sebagai simbol atau penanda posisi yang perlu diperhatikan ketika seseorang hendak melakukan aktivitas tertentu. Salah satu contoh yang dibahas adalah ketika seseorang hendak melakukan boyongan atau pindah rumah.
Baca Juga: Dokter Tifa Tegaskan Tak Lari dari Polemik Ijazah Jokowi, Praperadilan Jadi Sorotan
Menurut penjelasan dalam sumber, arah tempat tinggal baru menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Apabila seseorang akan berpindah rumah ke arah yang dianggap sebagai posisi Naga Dino, masyarakat yang mengikuti hitungan tersebut dapat mempertimbangkan kembali waktu pelaksanaannya.
Patining Dino Juga Dihitung
Selain Naga Dino, pembahasan tersebut juga menjelaskan Patining Dino. Cara menghitungnya menggunakan dasar hari dan pasaran yang sama, tetapi dilakukan melalui tahapan lanjutan.
Contoh yang digunakan kembali adalah Kemis Kliwon dengan jumlah neptu 16. Pertama, hitungan 16 diterapkan pada urutan hari. Perhitungan dimulai dari Kamis, kemudian Jumat, Sabtu, Minggu, Senin, Selasa, Rabu, dan kembali lagi ke Kamis hingga mencapai hitungan ke-16.
Baca Juga: Jalani Operasi ke-5 Saat Ditahan, Nadiem Makarim Terharu Diizinkan Rawat Jalan Bersama Anak!
Setelah itu, perhitungan dilanjutkan menggunakan pasaran. Urutannya adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Pasaran dihitung sebanyak 16 kali untuk memperoleh hari dan pasaran yang menjadi hasil Patining Dino.
Dalam contoh tersebut, hasil perhitungan kemudian digunakan untuk menentukan arah Patining Dino. Arah tersebut kembali dihitung menggunakan urutan wetan, kidul, kulon, dan lor.
Bagian dari Warisan Budaya Jawa
Pembahasan Naga Dino dan Patining Dino tidak hanya berkaitan dengan rumus hitungan. Di dalamnya juga terdapat pesan mengenai pentingnya menjaga pengetahuan dan budaya Jawa yang diwariskan generasi sebelumnya.
Baca Juga: Ijazah Jokowi Kembali Disorot, Cap UGM Beda Warna dan Tak Bertanggal Jadi Pertanyaan
Sumber tersebut menekankan bahwa berbagai perhitungan seperti Naga Dino merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang dahulu dipelajari dan digunakan oleh masyarakat. Karena perkembangan zaman, pengetahuan tersebut dinilai semakin jarang dipahami oleh generasi muda.
Karena itu, mempelajari kembali istilah seperti Naga Dino, Patining Dino, neptu, hari, pasaran, serta arah mata angin dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal tradisi hitungan Jawa.
Perhitungan tersebut merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa. Hasilnya tidak dapat dipastikan sebagai penentu mutlak keberhasilan suatu kegiatan. Bagi masyarakat yang masih menjalankan tradisi tersebut, Naga Dino dan Patining Dino lebih ditempatkan sebagai bagian dari pedoman budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca Juga: Sengit di Ujung Persidangan! Jaksa Tolak Pledoi, Nadiem Makarim Buka Rekam Jejak WA Grup!
source: Youtube @jiwajowo
Editor : Ais Mufida Zamzam