Hitungan Kejawen dan Budaya Jawa Mulai Ditinggalkan? Begini Pesan Sesepuh

Ais Mufida Zamzam • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 19:30 WIB
Hitungan Kejawen dan budaya Jawa menjadi warisan leluhur yang mulai jarang dipahami. Simak pesan sesepuh tentang pentingnya menguri-uri tradisi.
Hitungan Kejawen dan budaya Jawa menjadi warisan leluhur yang mulai jarang dipahami. Simak pesan sesepuh tentang pentingnya menguri-uri tradisi.

MALANG - Tradisi hitungan Kejawen dan berbagai pengetahuan budaya Jawa menjadi pembahasan dalam sebuah percakapan yang menyoroti semakin sedikitnya generasi muda yang memahami warisan leluhur. Salah satu hal yang disorot adalah penggunaan hitungan dalam menentukan kecocokan pasangan, waktu, hingga berbagai kegiatan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam percakapan tersebut, seorang sesepuh mengaku masih mengingatkan masyarakat ketika menemukan perhitungan yang dianggap kurang sesuai. Meski demikian, ia menekankan bahwa penggunaan hitungan tersebut kembali kepada adat dan keyakinan masing-masing keluarga.

Menurutnya, masyarakat Jawa memiliki beragam aturan dan tata cara yang diwariskan turun-temurun. Karena itu, seseorang yang masih menggunakan hitungan Kejawen diharapkan tetap menghormati masyarakat lain yang memilih tidak menggunakannya.

Baca Juga: Mengenal Nogo Dino dalam Primbon Jawa, Benarkah Bisa Menentukan Arah Rezeki dan Keberuntungan?

Hitungan dalam Tradisi Jawa

Salah satu pembahasan menyentuh persoalan jodoh. Dalam tradisi hitungan Jawa, nilai tertentu dapat digunakan untuk melihat kecocokan calon pasangan. Namun, sumber juga menekankan bahwa manusia tetap memiliki keterbatasan dan bahwa persoalan jodoh pada akhirnya merupakan bagian dari kehendak Tuhan.

Pembicaraan kemudian berkembang pada kehidupan masyarakat Jawa yang dinilai semakin banyak meninggalkan tradisi. Menurut narasumber, pengetahuan mengenai tata cara dan hitungan Jawa seharusnya tidak langsung dianggap sebagai sesuatu yang tidak relevan.

Ia mengibaratkan tradisi sebagai sebuah tatanan. Dalam kehidupan sehari-hari, segala sesuatu memiliki proses dan tidak selalu dapat dilakukan secara langsung. Perumpamaan tersebut digunakan untuk menggambarkan bahwa tradisi Jawa juga mempunyai tahapan serta aturan yang diwariskan oleh leluhur.

Baca Juga: Sidang Korupsi Nadiem Makarim Selesai, Majelis Hakim Jadwalkan Pembacaan Putusan 30 Juni!

Generasi Muda Diminta Mengenal Budaya Jawa

Upaya melestarikan budaya Jawa menjadi perhatian utama dalam percakapan tersebut. Narasumber mengaku terdorong untuk mengumpulkan dan memperkenalkan kembali pengetahuan Jawa kepada generasi muda.

Ia menilai banyak anak muda sekarang yang tidak lagi memahami berbagai hitungan dan tata cara yang dahulu dikenal masyarakat. Kondisi tersebut membuatnya memilih untuk terus menggali pengetahuan yang masih tersisa dan menguri-uri atau melestarikan budaya Jawa.

Menurutnya, melestarikan tradisi tidak harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ia bahkan menyebut kegiatan berkumpul dan belajar bersama, termasuk macapat, sebagai salah satu cara memperkenalkan kembali budaya Jawa kepada masyarakat.

Baca Juga: Dokter Tifa Tegaskan Tak Lari dari Polemik Ijazah Jokowi, Praperadilan Jadi Sorotan

Kidung sebagai Bagian dari Tradisi

Dalam percakapan tersebut juga dibahas kidung yang digunakan dalam tradisi Jawa. Salah satu yang disinggung adalah Kidung Rumeksa ing Wengi. Kidung tersebut dijelaskan secara singkat sebagai doa atau tembang yang memiliki makna keselamatan dan perlindungan.

Narasumber menjelaskan bahwa isi kidung tersebut berkaitan dengan harapan agar seseorang terhindar dari penyakit, bahaya, serta berbagai gangguan. Ia juga mengaitkan bagian tertentu dengan upaya menjaga diri dari perbuatan buruk.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa budaya Jawa tidak hanya berupa hitungan, tetapi juga mencakup tembang, kidung, tata cara, dan nilai-nilai yang diwariskan antargenerasi.

Baca Juga: Jalani Operasi ke-5 Saat Ditahan, Nadiem Makarim Terharu Diizinkan Rawat Jalan Bersama Anak!

Menguri-uri Warisan Leluhur

Bagi narasumber, keberadaan seseorang di tanah Jawa juga menjadi alasan untuk menghormati warisan leluhur. Ia menegaskan keinginannya untuk tetap menjunjung nama dan peninggalan budaya para pendahulu.

Meski menyadari tidak semua orang akan menerima atau mengikuti tradisi tersebut, ia memilih untuk terus belajar dan memperkenalkannya. Menurutnya, masyarakat yang tidak menggunakan hitungan Kejawen tetap harus dihormati.

Pembahasan tersebut pada akhirnya menempatkan hitungan Kejawen dan budaya Jawa sebagai bagian dari identitas tradisi yang perlu dipelajari secara kritis dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Bagi mereka yang meyakininya, berbagai hitungan dan tata cara tersebut menjadi bagian dari kehidupan adat, sedangkan penerapannya tetap kembali kepada pilihan masing-masing.

Baca Juga: Dr Tifa Mundur dari Polemik Ijazah Jokowi, Besok Hadapi Praperadilan: Ini Status Hukumnya

 

source: Youtube @gadingjawa

Editor : Ais Mufida Zamzam
kejawen Hitungan Kejawen Kidung Rumeksa ing Wengi budaya jawa Tradisi Jawa