JAKARTA - Memilih hari dan arah yang tepat saat hendak memboyong keluarga ke tempat tinggal baru masih menjadi tradisi yang dipegang teguh oleh masyarakat Jawa. Berdasarkan kalkulasi penanggalan tradisional, perhitungan pindah rumah menurut Primbon Jawa selalu mempertimbangkan posisi Nogo Tahun atau Naga Tahun untuk menghindari nasib buruk.
Nogo Tahun dalam mitologi Jawa dipercaya sebagai perlambang keburukan yang menempati arah mata angin tertentu pada bulan-bulan khusus. Posisi Sang Naga berpindah setiap tiga bulan sekali, berputar dari timur, selatan, barat, hingga utara. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan memahami panduan pindah rumah menurut Primbon Jawa agar prosesi boyongan terhindar dari marabahaya dan mendatangkan ketenteraman bagi seluruh penghuni.
Pada awal penanggalan Jawa, yaitu bulan Suro (Muharam), Safar, dan Mulud, Nogo Tahun berada tepat di posisi timur. Memasuki triwulan berikutnya, posisi ini bergeser ke arah selatan, lalu menuju barat, dan berakhir di utara sebelum akhirnya kembali lagi ke sisi timur pada tahun berikutnya.
Baca Juga: Nogo Dino dalam Primbon Jawa Kuno, Diyakini Jadi Petunjuk Arah Rezeki dan Hindari Kesialan
Menentukan Arah dan Bulan yang Tepat
Prinsip utama dalam menentukan waktu boyongan adalah menjauhi posisi keberadaan Nogo Tahun. Jika rumah baru berada di sebelah timur dari kediaman lama, waktu terbaik untuk pindah adalah pada bulan Rajab, Ruwah, dan Puasa. Pada periode tersebut, Nogo Tahun sedang berada di arah barat, sehingga langkah kepindahan ke timur secara otomatis menjauhi sumber keburukan.
Bagi Anda yang hendak pindah ke arah selatan, waktu yang sangat direkomendasikan adalah bulan Syawal, Dzulkaidah (Sela), atau Besar. Pada bulan-bulan ini, Nogo Tahun berada di posisi utara. Sebaliknya, jika lokasi hunian anyar terletak di sebelah barat, bulan Suro, Safar, dan Mulud menjadi pilihan yang tepat karena Sang Naga sedang berada di timur.
Sementara itu, untuk kepindahan yang mengarah ke utara, bulan Bakdamulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir adalah momen yang paling dianjurkan. Dari rentang waktu sekitar 90 hari di setiap periode tiga bulanan tersebut, Anda bebas memilih hari baik, kecuali pada hari Satu Suro yang pantang untuk digunakan.
Baca Juga: Bukan Cuma Masehi, Ini Asal-usul Nama Hari Jawa yang Unik dan Syarat Makna!
Syarat Khusus Saat Pindah Rumah Terpaksa
Tidak jarang kondisi mendesak memaksa seseorang harus segera pindah rumah meskipun Nogo Tahun sedang menempati arah yang sama dengan tujuan kepindahan. Kepindahan yang dipaksakan ini dipercaya dapat membawa efek negatif atau ketidakharmonisan di tempat tinggal baru.
Untuk menyiasati hal tersebut, para leluhur Jawa telah menyiapkan syarat dan ritual khusus. Saat pertama kali keluar dari rumah lama untuk pindah, seluruh anggota keluarga dianjurkan melewati pintu belakang. Begitu pula saat pertama kali memasuki rumah baru, mereka wajib masuk melalui pintu belakang.
Aturan melintasi pintu belakang ini hanya perlu dilakukan satu kali saja, yaitu pada saat momen awal mengangkut dan memasukkan barang-barang. Ritual penawar ini diyakini mampu menetralkan energi negatif serta memberikan ketenangan batin bagi penghuni yang terpaksa pindah pada waktu yang kurang tepat. Menjaga dan memahami tradisi ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual sekaligus upaya melestarikan warisan budaya leluhur.
Baca Juga: Nogo Dino dan Pasaran Jawa Masih Dipercaya, Begini Cara Masyarakat Mencari Hari Baik
source: Youtube @BALEKAMBANGtv
Editor : Ais Mufida Zamzam