JAKARTA - Weton Rabu Pon memiliki neptu 14 dalam perhitungan primbon Jawa. Rabu bernilai 7, sedangkan Pon juga memiliki nilai 7. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, weton ini disebut memiliki sejumlah karakter dan pantangan yang perlu diperhatikan agar kehidupan berjalan lebih tenang.
Pembahasan mengenai weton Rabu Pon kembali menarik perhatian karena primbon Jawa tidak hanya menggambarkan karakter seseorang berdasarkan hari kelahiran, tetapi juga memuat sejumlah petunjuk mengenai arah rezeki, hari yang dianggap kurang baik, hingga sikap yang sebaiknya dihindari.
Bagi pemilik weton Rabu Pon, terdapat beberapa pantangan yang dalam tradisi primbon dipercaya dapat memengaruhi keberuntungan dan kelancaran rezeki. Namun, seluruh perhitungan tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal dan kepercayaan masyarakat, bukan kepastian mengenai masa depan seseorang.
Karakter Rabu Pon dalam Primbon Jawa
Menurut pembahasan tersebut, Rabu Pon berada di bawah naungan Lakuning Rembulan. Filosofinya menggambarkan sosok yang dapat menjadi penyejuk bagi lingkungan sekitar.
Baca Juga: Weton Rabu Pon Usia 24-30 Tahun Disebut Puncak Rezeki, Ini Fase yang Perlu Diwaspadai
Orang yang lahir pada Rabu Pon disebut memiliki sifat sopan, mampu menyesuaikan diri, serta mempunyai karisma yang membuat orang lain segan. Meski demikian, weton ini juga digambarkan memiliki sisi keras hati. Ketika emosi dan kemarahan sudah memuncak, mereka disebut cukup sulit untuk diredakan.
Karakter tersebut kemudian dikaitkan dengan sejumlah pantangan yang perlu diperhatikan.
4 Pantangan Weton Rabu Pon
1. Jangan tinggi hati
Pantangan pertama adalah menghindari sifat sombong atau merasa paling hebat. Filosofi rembulan digunakan sebagai gambaran bahwa cahaya yang dimiliki bukan sepenuhnya berasal dari diri sendiri.
Karena itu, pemilik Rabu Pon dianjurkan tetap rendah hati. Dalam kepercayaan primbon, kesombongan disebut dapat membuat keberuntungan atau “wahyu” seseorang meredup.
2. Jangan merasa rendah diri
Selain kesombongan, Rabu Pon juga disebut pantang terlalu merendahkan diri. Kesulitan ekonomi atau kegagalan dalam hidup sebaiknya tidak membuat seseorang merasa hina dan tidak berharga.
Sikap minder dianggap dapat membuka peluang bagi orang lain untuk menindas. Karena itu, pemilik weton ini dianjurkan tetap percaya diri ketika menghadapi persoalan.
Baca Juga: Nadiem Makarim Tersangka Ke-5 Kasus Chromebook, Eks Staf Khusus Kemenristek Resmi Jadi Buronan DPO!
3. Waspadai arah barat
Dalam perhitungan yang dibahas, arah barat disebut bukan sebagai arah yang dianjurkan untuk mencari rezeki atau merantau bagi Rabu Pon.
Sebaliknya, arah timur dan utara disebut sebagai arah yang lebih baik untuk mengejar kejayaan. Kepercayaan mengenai arah rezeki ini merupakan bagian dari perhitungan tradisional primbon Jawa.
4. Memperhatikan hari naas
Rabu Pon juga memiliki perhitungan mengenai hari yang dianggap kurang baik atau hari naas. Hari lahirnya sendiri, yakni Rabu Pon, disebut sebagai salah satunya.
Perhitungan berikutnya dalam pembahasan tersebut menghasilkan beberapa kombinasi hari dan pasaran, termasuk Sabtu Kliwon, Sabtu Legi, serta Selasa Legi. Untuk perhitungan tertentu, pasarannya juga disebut dapat jatuh pada Wage atau Kliwon.
Pada hari-hari yang dianggap naas, pemilik Rabu Pon disarankan lebih berhati-hati. Acara besar, seperti menggelar pernikahan atau memulai usaha baru, disebut sebaiknya tidak dilakukan jika ingin mengikuti pertimbangan primbon.
Dianjurkan Sabar dan Menjaga Ucapan
Selain menghindari pantangan, pemilik Rabu Pon disebut perlu meningkatkan spiritualitas melalui doa, tirakat, atau puasa weton. Menjaga ucapan juga menjadi perhatian karena berkata kasar atau memaki dipercaya dapat membawa dampak kurang baik.
Pada akhirnya, pesan utama dari pembahasan weton Rabu Pon adalah pentingnya kesabaran dan pengendalian emosi. Pemilik weton ini disebut memiliki kecenderungan terburu-buru mengambil keputusan ketika sedang marah.
Primbon Jawa sendiri merupakan bagian dari kearifan lokal. Benar atau tidaknya ramalan dan perhitungan weton kembali kepada kepercayaan masing-masing, sementara takdir tetap diyakini berada di tangan Tuhan.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir