Siswa Alami Mulas hingga Keesokan Hari, Dugaan Keracunan MBG di SMPN 1 Trenggalek

Zaki Jazai • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:19 WIB
Dugaan keracunan menu MBG di SMPN 1 Trenggalek sebabkan sejumlah siswa mulas dan diare.(ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)
Dugaan keracunan menu MBG di SMPN 1 Trenggalek sebabkan sejumlah siswa mulas dan diare.(ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek – Dugaan gangguan kesehatan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 1 Trenggalek masih menjadi perhatian. Pasalnya, sejumlah siswa mengaku mengalami mulas dan diare dengan waktu keluhan yang berbeda-beda, mulai beberapa jam setelah makan hingga dini hari.

Salah seorang siswa, Brizi Tehano Alfian, mengaku mulai merasakan mulas sekitar satu jam setelah menyantap menu MBG pada Selasa (11/8). Makanan tersebut disantap sekitar pukul 12.00, kemudian keluhan mulai dirasakan sekitar pukul 13.00 setelah dirinya pulang sekolah. “Iya mulas, ya habis makan dan pulang sekolah mulas jam 13.00. Makannya jam 12.00. malam ke kamar mandi dua kali,” kata Brizi.

Keluhan tersebut masih dirasakan Brizi hingga keesokan harinya, Rabu (12/8). Dia juga mengaku menemukan rasa asam pada bumbu kacang yang menjadi pelengkap menu makanan saat itu. “Ini masih belum sembuh dan masih terasa mulas. Secara makanan kemarin ada kecutnya di bumbu kacang, kayak lama rasanya,” ujarnya.

Keluhan serupa juga dialami Fafiano Kleon Raditya Putra. Namun, gejala yang dirasakannya muncul beberapa jam setelah menyantap makanan. Fafiano mulai mengalami mulas sekitar pukul 14.00 dan harus beberapa kali ke kamar mandi.

Sementara itu, berdasarkan cerita teman-temanya, waktu munculnya keluhan pada siswa lain tidak seluruhnya sama. Ada yang mulai mengalami diare pada malam hingga dini hari setelah mengonsumsi MBG.

Baca Juga: Weton Rabu Pon Disebut Punya Energi Spiritual Tinggi, Ini Karakter dan Jodohnya

“Sore mulas mulai jam 14.00 dan tujuh kali ke kamar mandi. Hari ini lumayan, minta obat ke UKS,” katanya.

Hal tersebut disampaikan salah satu wali murid siswa SMPN 1 Trenggalek, Yuswijayanto. Dia mengaku baru mengetahui anaknya mengalami diare setelah muncul informasi mengenai keluhan serupa yang dialami sejumlah siswa di sekolah. “Padahal, secara standar operasional prosedur (SOP)-nya, sudah dilalui semuanya. Setelah pulang memang tidak terjadi pada anak-anak. Jam 3 dini hari tadi diare. Tidak langsung cerita. Setelah ada kejadian ini baru dia cerita,” ujarnya.

Menurut Yuswijayanto, kondisi tersebut membuat pihak keluarga khawatir. Terlebih, keluhan tidak hanya muncul sesaat setelah makanan dikonsumsi, tetapi ada yang baru dirasakan beberapa jam kemudian hingga keesokan harinya. “Ya terus terang sebagai orang tua kaget, di samping kami kaget, trenyuh, dan kenapa hal seperti ini terjadi,” katanya.

Kondisi tersebut juga membuat anaknya memilih tidak mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Rabu (12/8). Keputusan itu diambil lantaran masih merasa khawatir mengalami keluhan yang sama. “Di sekolah hari ini tadi masih mulas, dan yang hari ini tidak dimakan karena takut,” ujarnya.

Yuswijayanto berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di sekolah. Menurutnya, pemeriksaan tidak hanya perlu menyasar makanan, tetapi juga seluruh tahapan pengolahan hingga distribusi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Sebagai wali murid, untuk SOP-nya harus diperbaiki,” tegasnya.(jaz/c1/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
Mbg Dugaan gangguan kesehatan Brizi Tehano Alfian Fafiano Kleon Raditya Putra