KOTA, Radar Trenggalek – Dugaan gangguan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 1 Trenggalek terus mengembang.
Bahkan juga terjadi di SDI Luqman Al Hakim. Kondisi tersebut berbuntut penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan.
Langkah tersebut dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab munculnya keluhan pada sejumlah penerima manfaat.
SPPG Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah merupakan dapur yang memasok menu MBG kedua sekolah tersebut.
Baca Juga: 404 Siswa dan 17 Guru Mulas Usai Santap MBG Terjadi di SMPN 1 Trenggalek Ganggu Aktivitas Belajar
Berdasarkan pendataan sementara, terdapat 421 penerima manfaat di SMPN 1 Trenggalek dan 20 penerima manfaat di SDI Luqman Al Hakim yang mengeluhkan kondisi kesehatan setelah mengonsumsi makanan.
Karena itu, penanganan langsung dilakukan dengan melibatkan sejumlah stakeholder. Mulai dari dinas kesehatan, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana (dinkesdalduk KB); polisi/TNI, hingga Satgas MBG Kabupaten Trenggalek.
"Kami melakukan koordinasi antar-stakeholder, mulai dari dinas kesehatan, polres, kodim, maupun yang lainnya. Kami juga sudah menindaklanjuti ke masing-masing sekolah untuk mengonfirmasi berapa yang terdampak, berapa yang tidak terdampak, serta bagaimana kondisi yang mereka rasakan setelah mengonsumsi makanan," ujar Koordinator Wilayah (Korwil) SPPI Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Trenggalek, Shiella Ammanda Yanu Fadilla, Kamis (13/8).
Baca Juga: Satu Anak Diduga Keracunan MBG Dirawat di RSUD Dehidrasi Berat, Muntah dan Diare Lebih dari 10 Kali
Selain melakukan pendataan penerima manfaat yang mengeluhkan gangguan kesehatan, tim juga melakukan pemeriksaan terhadap dapur SPPG Tamanan. Pengecekan dilakukan mulai dari proses penerimaan bahan baku hingga pengolahan makanan.
Dinkes juga mengambil sejumlah sampel untuk diperiksa di laboratorium. Sampel tersebut berasal dari makanan yang tersedia di SPPG maupun yang dikonsumsi penerima manfaat.
"Yang pastinya di dapur kami cek dari penerimaan bahan baku hingga proses produksi seperti apa. Kemudian dari pihak dinkes membawa sampel makanan, baik dari penerima manfaat maupun dari SPPG sendiri, untuk dilakukan pengecekan laboratorium," jelasnya.
Pemeriksaan tersebut menjadi penting lantaran dugaan gangguan kesehatan yang dialami penerima manfaat belum dapat dipastikan penyebabnya.
Baca Juga: Siswa Alami Mulas hingga Keesokan Hari, Dugaan Keracunan MBG di SMPN 1 Trenggalek
Hasil uji laboratorium nantinya menjadi dasar untuk mengetahui apakah keluhan tersebut berkaitan dengan makanan MBG atau disebabkan faktor lain.
"Secara kebenarannya itu bisa diketahui karena sudah dilakukan pengecekan di laboratorium, apakah berasal dari makanan atau seperti apa," kata Shiella.
Sembari menunggu hasil pemeriksaan tersebut, operasional SPPG Tamanan dihentikan sementara. Artinya, dapur tersebut untuk sementara tidak diperbolehkan melayani dan menyalurkan MBG kepada penerima manfaat.
"Pastinya untuk sementara berhenti operasional dulu sambil menunggu hasil lab yang dilakukan, apakah berasal dari makanan atau seperti apa. Untuk sementara SPPG ini belum bisa melayani penerima manfaat," tegasnya.
Baca Juga: Pagar Rusak, Pengusaha Tanggung Jawab
Penghentian sementara tersebut juga telah dilaporkan kepada BGN. Langkah itu sekaligus menjadi bagian dari upaya memastikan keamanan makanan sebelum layanan MBG kembali diberikan kepada penerima manfaat.
Hingga kini, pihak terkait masih menunggu hasil uji laboratorium sebelum mengambil langkah lebih lanjut. “Kami berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi bersama sehingga pelaksanaan program MBG di sini (Trenggalek, Red) dapat berjalan lebih baik dan kejadian serupa tidak kembali terjadi,“ harap Shiella.
Sementara itu, Kepala SPPG Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah, Alfian Surya Riayantana, mengatakan telah mengambil sampel makanan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan semula akan dilakukan di laboratorium kesehatan daerah (labkesda), namun karena terdapat kendala, sampel kemudian dibawa ke Surabaya.
Baca Juga: Gudang Tambahan Perkuat Cadangan Beras, Bulog Harus Genjot Serapan
"Untuk terkait dugaan keracunan itu dari pihak SPPG melakukan pemeriksaan ke laboratorium makanan hari ini. Di labkesda kebetulan tidak bisa, kemudian akhirnya di Surabaya," ujar Alfian.
Alfian menyebut SPPG Tamanan selama ini melayani 11 sekolah dan 1 posyandu dengan total 2.089 penerima manfaat. Adapun menu yang dibagikan pada Selasa (11/8) terdiri dari nasi putih, ayam bumbu sate, tahu fantasi, sayur bayam dan jagung, serta buah semangka kuning.
“Semoga hasil uji laboratorium tidak terjadi apa-apa dan sini bisa beroperasi kembali,“ Imbuhnya. (jaz/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK