KOTA, Radar Trenggalek – Jumlah penerima manfaat yang mengalami keluhan kesehatan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan, Kelurahan Tamanan, Trenggalek, terus bertambah.
Terbaru, Satuan Tugas (Satgas) MBG Trenggalek mencatat sedikitnya 549 orang terindikasi mengalami keluhan setelah mengonsumsi menu MBG.
Jumlah tersebut tersebar di tiga lokasi penerima manfaat. Rinciannya, sebanyak 493 orang di SMPN 1 Trenggalek, kemudian 30 orang di SDI Luqman Al Hakim, serta 26 orang dari sejumlah posyandu di Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek, yang juga mendapatkan layanan MBG dari SPPG Tamanan.
Data tersebut merupakan hasil pembaruan pendataan yang dilakukan tim di lapangan. Satgas masih terus melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada penerima manfaat yang mengalami keluhan tetapi belum masuk dalam pendataan.
"Di SMPN 1 Trenggalek saat ini update terakhir ada 493 anak. Kemudian di SDI Luqman Al Hakim ada 30 kejadian dan di Kelurahan Tamanan ada 26," ujar Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr Sunarto.
Baca Juga: Operasional SPPG Tamanan Dihentikan Untuk Sementara Waktu Akibat Dugaan Keracunan MBG
Di SMPN 1 Trenggalek, dari total 493 orang yang mengalami keluhan, terdiri atas 474 siswa dan 19 guru.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 78 orang masih mengeluhkan kondisi sakit hingga Kamis (13/8). Sementara itu, sebanyak 41 siswa tercatat tidak masuk sekolah karena kondisi kesehatannya.
Keluhan yang dialami penerima manfaat relatif beragam. Mulai dari nyeri atau mulas pada bagian perut, mual, hingga diare.
Namun, Sunarto menyebut sebagian besar gejala yang muncul masih tergolong ringan dan tidak sampai membutuhkan perawatan inap.
"Gejalanya biasanya tidak berat, hanya kadang ada yang sedikit nyeri perut, kemudian mual, ada sedikit yang diare," jelasnya.
Sementara itu, di SDI Luqman Al Hakim tercatat 30 orang mengalami keluhan. Jumlah tersebut terdiri atas 20 siswa dan 10 tenaga pendidik.
Kasus serupa juga ditemukan pada penerima manfaat di lingkungan posyandu. Dari sekitar 10 posyandu yang mendapatkan layanan MBG dari SPPG Tamanan, terdapat 5 posyandu yang melaporkan adanya keluhan dengan total 26 orang.
"Untuk posyandu ada 26 kejadian. Balitanya ada 9, ibu hamil 3, ibu menyusui 4, kader 2, kemudian anggota yang lain 8," ungkap Sunarto.
Satgas MBG Trenggalek kini tidak hanya fokus pada pendataan korban. Tim juga mulai mengidentifikasi tahapan pengolahan makanan yang berpotensi menimbulkan keluhan kesehatan.
Evaluasi tersebut dilakukan untuk mengetahui titik rawan dalam proses penyediaan MBG di SPPG Tamanan.
Baca Juga: Satu Anak Diduga Keracunan MBG Dirawat di RSUD Dehidrasi Berat, Muntah dan Diare Lebih dari 10 Kali
"Sudah kita analisis proses mana dari pengolahan makanan yang berisiko menimbulkan keluhan. Sudah kita berikan masukan kepada SPPG maupun perwakilan korwil SPPG yang ada di Kabupaten Trenggalek," katanya.
Untuk memastikan kondisi penerima manfaat lainnya, satgas juga melakukan pengecekan ulang ke seluruh satuan pendidikan yang mendapatkan pasokan MBG dari SPPG Tamanan. Total terdapat 3 TK, 6 SD, dan 1 SMP yang menjadi sasaran pemantauan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada kasus yang luput dari pendataan. Tim turun langsung ke sekolah-sekolah untuk mengecek kondisi siswa maupun penerima manfaat lain sekaligus menelusuri kemungkinan adanya keluhan serupa.
"Tim hari ini terjun ke sekolah-sekolah untuk melihat kembali apakah memang di lokasi tersebut ada keluhan atau tidak, supaya nanti tidak ada yang kelewatan," tegasnya.
Selain pemantauan di lapangan, Satgas MBG juga dijadwalkan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap SPPG Tamanan.
Pemeriksaan tersebut melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) serta tim dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Pria yang juga berprofesi sebagai dokter umum ini menambahkan, kasus tersebut juga telah mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat.
Laporan mengenai kejadian di Trenggalek disebut telah disampaikan ke pusat dalam waktu kurang dari 24 jam setelah kejadian dilaporkan.
Sebagai tindak lanjut, operasional SPPG Tamanan untuk sementara mendapat suspend hingga 30 hari. Selama masa tersebut akan dilakukan evaluasi menyeluruh sebelum diputuskan apakah layanan dapat kembali berjalan.
"SPPG Tamanan mendapat suspend sementara sampai 30 hari ke depan. Nanti akan menjadi atensi dan ada evaluasi berikutnya," ujarnya.
Penghentian sementara tersebut membuat distribusi MBG kepada sejumlah penerima manfaat harus dihentikan.
Namun, menurut Sunarto, terdapat opsi untuk mengalihkan penerima manfaat kepada SPPG lain apabila memungkinkan.
Mekanisme realokasi tersebut tetap harus mempertimbangkan persetujuan pihak sekolah dan wali murid.
Hal itu dilakukan agar kebutuhan MBG bagi anak-anak tetap dapat dipenuhi selama SPPG Tamanan menjalani evaluasi.
Sementara untuk penerima manfaat yang sudah mengalami keluhan, Sunarto memastikan sebagian telah mendapatkan penanganan.
Sejauh ini tidak ada korban yang harus menjalani rawat inap. Beberapa penerima manfaat sempat mengakses layanan puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya, sedangkan sebagian siswa mendapatkan penanganan melalui UKS.
Satgas MBG Trenggalek memastikan pendataan masih berjalan. Pembaruan jumlah korban akan terus dilakukan seiring pemeriksaan lapangan dan laporan dari sekolah maupun penerima manfaat.
"Kami akan terus update laporan jumlah korban. Yang penting sekarang kita memastikan seluruh lokasi yang mendapatkan MBG dari SPPG Tamanan sudah dicek dan tidak ada penerima manfaat yang terlewat," pungkas Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Trenggalek ini. (jaz/c1/din)
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK