KOTA, Radar Trenggalek – Perjalanan Trenggalek dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) tidak hanya tercatat melalui pertempuran bersenjata.
Di balik sejarah besar perjuangan mempertahankan kemerdekaan, terdapat jejak gerilya yang berlangsung dari desa ke desa, rumah ke rumah, hingga kawasan pegunungan yang menjadi jalur pergerakan para pejabat Republik.
Salah satu jejak tersebut dapat ditelusuri melalui perjalanan Mr. Susanto Tirtoprojo saat masa Agresi Militer Belanda II pada 1948–1949. Perjalanan tersebut terekam dalam Nayaka Lelana, catatan pengalaman gerilya Susanto yang ditulis dalam bahasa Jawa menggunakan bentuk tembang macapat dan diterbitkan pada 1949. Itu seperti yang dijelaskan Pamong Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek, Heru Dwi Susanto.
Menurut dia, keberadaan sumber tertulis tersebut menjadi salah satu petunjuk penting untuk melihat posisi Trenggalek dalam jaringan perjuangan Republik.
Baca Juga: PAN Gerak Cepat Bantu Rakyat, Hadir Meringankan Beban Masyarakat Trenggalek
Sebab, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di pusat pemerintahan atau medan pertempuran, tetapi juga melibatkan wilayah pedesaan sebagai jalur pergerakan dan tempat bertahan para tokoh Republik.
“Perjuangan mempertahankan Republik itu tidak hanya terjadi di kota atau medan pertempuran. Di Trenggalek, ada jejak pergerakan para pejabat Republik, pertemuan, komunikasi pemerintahan, hingga tempat mereka beristirahat yang semuanya melibatkan masyarakat,” ujar Heru.
Dalam catatan Nayaka Lelana, perjalanan Susanto menuju Trenggalek merupakan bagian dari rangkaian gerilya setelah melewati sejumlah wilayah mulai Nganjuk, Kediri, Tulungagung, hingga kawasan Gunung Wilis.
Setelah memasuki Trenggalek, perjalanan berlanjut ke sejumlah wilayah hingga Gandusari, Dongko, Siki, Sawahan, dan akhirnya Karangtengah, Kecamatan Panggul.
Perjalanan tersebut berlangsung ketika kondisi Republik berada dalam situasi genting. Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II dan menguasai Jogjakarta.
Baca Juga: Permohonan Administrasi Didominasi SKTM
“Dalam buku itu ditulis, dalam perjalanannya, sejumlah pemimpin Republik ditangkap, sementara pemerintahan harus tetap dipertahankan melalui berbagai jaringan perjuangan,“ imbuhnya.
Dalam situasi tersebut, Trenggalek juga mengalami dampak perang. Kawasan pusat pemerintahan dan sejumlah fasilitas penting tidak luput dari bumi hangus. Kompleks Pendapa Trenggalek dan kawasan alun-alun menjadi bagian dari gambaran kondisi daerah pada masa tersebut.
Jejak kondisi Trenggalek kala itu juga dapat diperkuat melalui arsip visual berupa potret udara tahun 1949 dari koleksi KITLV. Arsip tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi kawasan perkotaan Trenggalek pada masa setelah agresi militer.
Heru menyebut, kondisi tersebut menjadi bagian penting untuk memahami mengapa jaringan perjuangan Republik kemudian bergerak melalui wilayah pedesaan.
Ketika pusat pemerintahan tidak dapat berfungsi secara normal, komunikasi dan koordinasi tetap dilakukan dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Baca Juga: Merah Putih Kembali Berkibar di Tebing Sepikul Tradisi Perayaan Kemerdekaan yang Terus Dijaga
“Dalam kondisi seperti itu, pemerintahan tidak berhenti. Mereka bergerak, berkomunikasi, dan berkoordinasi melalui jalur-jalur gerilya. Masyarakat dan rumah-rumah warga menjadi bagian penting dalam menopang perjalanan tersebut,” jelasnya.
Jejak perjalanan Susanto di Trenggalek juga mencatat sejumlah pertemuan dengan tokoh penting Republik. Di Masjid Jami Gandusari, misalnya, Susanto tercatat bertemu dengan KH Masykur yang saat itu menjabat Menteri Agama serta Mr. Sunario Sastrowardoyo yang merupakan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri.
Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa wilayah Trenggalek tidak sekadar menjadi jalur lintasan. Daerah ini juga menjadi salah satu ruang berlangsungnya komunikasi antartokoh dan jaringan pemerintahan Republik ketika kondisi negara berada dalam situasi perang.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Dongko. Dalam catatan tersebut, disebutkan rumah Mertodimedjo di Dusun Belimbing, Desa Dongko, sebagai salah satu tempat yang berkaitan dengan perjalanan Susanto.
Baca Juga: Proteksi Pekerja Laut dengan Jaminan Sosial, Cakupan Hanya 1.200 Nelayan
Di kawasan tersebut, jejak perjuangan Susanto juga bersinggungan dengan perjalanan Jenderal Sudirman dan KH Masykur. Hal ini memperlihatkan adanya pertemuan antara jaringan perjuangan militer dan pemerintahan Republik di wilayah pedesaan Trenggalek.
“Ini yang menarik. Ada jalur perjuangan militer, ada jalur pemerintahan. Keduanya sama-sama bergerak dan membutuhkan dukungan masyarakat serta ruang-ruang di pedesaan,” kata Heru.
Jejak tersebut kemudian mengarah ke Desa Karangtengah, Kecamatan Panggul. Di wilayah ini berdiri Rumah Demangan, kediaman Demang Sarbini yang hingga kini masih berdiri dan menyimpan cerita mengenai perjalanan perjuangan Republik.
Rumah tersebut disebut pernah menjadi tempat tinggal sementara Susanto Tirtoprojo. Dalam kondisi pemerintahan yang bergerak secara gerilya, rumah tersebut tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga menjadi ruang pertemuan dan komunikasi.
Sejumlah tokoh dan pejabat disebut pernah datang menghadap Susanto di Rumah Demangan. Di antaranya, Letkol Zulkifli Lubis, Sosro Hadi Sewoyo, Wedono Lorog, hingga Subekti yang saat itu menjabat Bupati Pacitan.
Keberadaan mereka menunjukkan bahwa rumah milik pejabat lokal tersebut pernah menjadi salah satu titik dalam jaringan pemerintahan Republik yang bergerak di tengah situasi perang.
Menariknya, cerita Rumah Demangan tidak hanya berkaitan dengan urusan pemerintahan dan strategi perjuangan. Hubungan antara Susanto dan keluarga Demang Sarbini juga meninggalkan kisah sosial dan budaya.
Dalam Nayaka Lelana disebutkan, Demang Sarbini pernah menggelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon Dewaruci untuk memperingati weton kelahiran Susanto. Di tengah situasi perang dan keterbatasan, kehidupan sosial masyarakat tetap berjalan dan hubungan personal antara tokoh Republik dan masyarakat tetap terbangun.
Rumah tersebut juga masih menyimpan sejumlah tinggalan yang dikaitkan dengan masa perjuangan. Salah satunya ranjang yang dipercaya pernah digunakan Susanto ketika tinggal di sana.
Setelah situasi Republik kembali stabil, Susanto juga disebut masih mengingat bantuan keluarga Demang Sarbini. Sebagai ungkapan terima kasih, ia kemudian mengirimkan sebuah radio kayu berukuran besar dengan 90 baterai serta lampu petromaks kepada keluarga tersebut.
Baca Juga: PAD Anjlok, Terjepit Tumpang Tindih Aturan Tiga Tahun Terakhir Turun Drastis
Menurut Heru, rangkaian jejak tersebut memperlihatkan bahwa sejarah kemerdekaan di Trenggalek tidak berdiri sendiri. Perjuangan di daerah ini menjadi bagian dari jaringan lebih luas untuk mempertahankan keberadaan Republik Indonesia.
“Kalau kita melihat jejak-jejak ini, Trenggalek mempunyai peran dalam perjalanan mempertahankan Republik. Bukan hanya melalui pertempuran, tetapi juga melalui dukungan masyarakat, tempat persinggahan, komunikasi, dan aktivitas pemerintahan yang tetap berjalan secara gerilya,” ungkapnya.
Karena itu, keberadaan tinggalan sejarah seperti Rumah Demangan menjadi penting untuk dirawat. Bangunan, arsip, benda peninggalan, maupun cerita yang berkembang di masyarakat menjadi sumber yang dapat membantu generasi sekarang memahami bagaimana perjuangan kemerdekaan berlangsung hingga ke pelosok daerah.
Heru menegaskan, penelusuran sejarah harus dilakukan dengan mempertemukan berbagai sumber. Cerita lisan masyarakat perlu dibandingkan dengan sumber tertulis, arsip, kondisi fisik bangunan, serta bukti lain agar sejarah yang disampaikan tidak berhenti sebagai cerita turun-temurun.
“Memori masyarakat sangat penting, tetapi harus terus diuji dan diperkuat dengan sumber lain. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga bangunannya, tetapi juga menjaga cerita dan konteks sejarah yang ada di baliknya,” pungkas Heru. (jaz/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK