Debit Sumur Warga Menyusut Kekeringan Rambah Kecamatan Kota Mulai Andalkan Pasokan BPBD

Zaki Jazai • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:20 WIB
HARUS HEMAT: Warga Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek ketika memanfaatkan dropping air bersih.(ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)
HARUS HEMAT: Warga Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek ketika memanfaatkan dropping air bersih.(ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek – Kekeringan di Bumi Menak Sopal mulai merambah wilayah kecamatan kota (Kecamatan Trenggalek). Salah satunya terjadi di Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek, setelah debit sumur warga terus menyusut akibat kemarau panjang.

Kondisi tersebut membuat sumber air yang selama ini diandalkan warga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Meski sumur galian belum sepenuhnya mengering, air yang tersedia kini hanya cukup untuk kebutuhan tertentu.

Kondisi tersebut mulai dirasakan sejak Juli. Debit sumur yang semakin kecil membuat warga harus menghemat penggunaan air.

“Debit air sumur menyusut drastic. Air yang keluar cuma cukup untuk kebutuhan memasak,” ujar Salah seorang warga Karangsoko, Sringatin, Rabu (20/8).

Baca Juga: DPRD Trenggalek Ingin Efisiensi Belanja Pegawai Rp 42 Miliar Bisa Dirasakan Masyarakat

Untuk memenuhi kebutuhan lain, warga mulai mengandalkan pasokan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek. Air yang didistribusikan menggunakan tangki tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

Artinya, kekeringan yang biasanya lebih banyak terjadi di wilayah pegunungan mulai dirasakan warga di kawasan kecamatan kota. Penurunan debit sumur membuat warga harus mengubah pola pemenuhan kebutuhan air sehari-hari.

“Kami memanfaatkan air kiriman tangki ini khusus untuk mandi dan mencuci pakaian,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, St. Triadi Atmono, membenarkan adanya permintaan bantuan air bersih dari warga Karangsoko. BPBD langsung merespons permohonan tersebut dengan melakukan dropping air ke wilayah terdampak.

Baca Juga: Dulu Jadi Destinasi, Kini Wisata Sawah Mulai Sepi

“Petugas kami merespons permohonan warga Desa Karangsoko yang mencakup dua lingkungan RT, yakni RT 5 dan RT 7,” terang Triadi.

Distribusi air dilakukan di RT 5 Dusun Sukorejo dan RT 7 Dusun Karanggayam. Di masing-masing wilayah tersebut, terdapat sedikitnya 12 kepala keluarga yang mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih.

Menurut Triadi, BPBD terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang mulai mengalami penurunan ketersediaan air. Distribusi dilakukan berdasarkan laporan masyarakat serta kondisi di lapangan.

“Setiap hari petugas menyisir lokasi dropping, baik desa-desa di kawasan pegunungan maupun wilayah dataran,” tegasnya.

Baca Juga: Tim Hibah PKM STKIP PGRI Trenggalek Usung Konsep Zero Waste Berkelanjutan

Dalam distribusi terbaru, BPBD menyalurkan total 34.000 liter air bersih ke sejumlah permukiman terdampak. Untuk memperkuat pelayanan, BPBD juga menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, PDAM, dan sejumlah unit pendukung lainnya.

Kondisi Karangsoko menjadi sinyal bahwa dampak kemarau mulai meluas. “Sumur yang belum benar-benar kering pun tetap dapat menjadi persoalan ketika debit airnya tidak lagi mencukupi kebutuhan warga. Makanya, kami akan selalu waspada,” jelas Triadi. (jaz/c1/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
KekeringanTrenggalek BPBDTrenggalek KrisisAirBersih