Kekeringan Terus Meluas, Panggul Wilayah Terparah Sementara Terjadi di 25 Desa 10 Kecamatan

Zaki Jazai • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 10:50 WIB
TERUS TAMBAH: Jumlah desa di Kabupaten Trenggalek yang krisis air bersih terus bertambah.(ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)
TERUS TAMBAH: Jumlah desa di Kabupaten Trenggalek yang krisis air bersih terus bertambah.(ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek – Bencana kekeringan di Bumi Menak Sopal terus meluas. Buktinya, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, hingga Jumat (21/8), sedikitnya 25 desa di 10 kecamatan tercatat mengalami krisis air bersih. Dari sebaran tersebut, Kecamatan Panggul menjadi wilayah dengan jumlah desa terdampak paling banyak.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, St. Triadi Atmono mengatakan, kondisi tersebut membuat distribusi air bersih harus dilakukan secara rutin. Petugas bahkan menyalurkan sedikitnya 34.000 liter air dalam sehari untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak. “Pembaruan data terbaru hari ini mencatat 25 desa di 10 kecamatan resmi terdampak kekeringan,” ujar Triadi.

Dari seluruh wilayah terdampak, Kecamatan Panggul mencatat sebaran paling luas. Sembilan desa di kecamatan tersebut dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Kesembilan desa itu meliputi Ngebeng, Besuki, Karangtengah, Kertosono, Panggul, Ngrencak, Banjar, Depok, dan Sawahan.

Baca Juga: Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi Cuan Karya Ibu-Ibu PKK Jadi Andalan Produk Desa

Kondisi serupa juga terjadi di sembilan kecamatan lainnya. Di Kecamatan Gandusari, kekeringan melanda Desa Wonoanti. Kecamatan Tugu meliputi Desa Prambon dan Duren. Kemudian, Kecamatan Kampak di Desa Timahan dan Bogoran.

Selanjutnya, Kecamatan Pogalan meliputi Desa Wonocoyo dan Ngulangwetan. Kecamatan Watulimo di Desa Slawe dan Watulimo, sedangkan Kecamatan Dongko meliputi Desa Pandean, Pringapus, dan Cakul.

Sementara di Kecamatan Trenggalek, krisis air terjadi di Desa Karangsoko. Kemudian, Kecamatan Bendungan meliputi Desa Srabah dan Depok serta Kecamatan Pule di Desa Sidomulyo.

Meluasnya wilayah terdampak membuat BPBD harus mengatur distribusi berdasarkan tingkat kebutuhan. Petugas tidak hanya menyasar kawasan pegunungan, tetapi juga mulai memasok air ke wilayah dataran.

Baca Juga: OJK Kediri Dorong Pelajar Trenggalek Rajin Menabung, Sangu Sampah Jadi Jalan Siapkan Masa Depan

“Setiap hari petugas menyisir lokasi dropping, baik desa-desa di kawasan pegunungan maupun di wilayah dataran,” jelas Triadi.

Salah satu wilayah yang mulai merasakan dampak kekeringan adalah Desa Karangsoko. Warga di RT 5 Dusun Sukorejo dan RT 7 Dusun Karanggayam mengajukan permohonan bantuan setelah debit sumber air lokal menyusut.

“Warga Karangsoko mengajukan permohonan bantuan untuk dua RT. Masing-masing RT menampung 12 KK yang krisis air bersih,” terangnya.

Kondisi di lapangan menunjukkan sumber air warga belum sepenuhnya hilang, tetapi debitnya terus menyusut. Air yang tersisa harus diprioritaskan untuk kebutuhan pokok sehingga warga mengandalkan pasokan tangki untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

Baca Juga: Kekeringan, Petani Rogoh Kocek Lebih Dalam

BPBD kemudian mengirimkan armada tangki secara bergiliran. Dalam distribusi terbaru, total 34.000 liter air bersih disalurkan ke sejumlah titik terdampak, termasuk beberapa desa di Kecamatan Panggul.

Untuk memperkuat distribusi, BPBD juga menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, PDAM, serta sejumlah armada pendukung lainnya.

Triadi memastikan distribusi air akan terus dilakukan selama masyarakat masih membutuhkan pasokan. Dia juga terus memperbarui data wilayah terdampak untuk menentukan prioritas dropping berikutnya.

“Meluasnya krisis air ke 25 desa menunjukkan dampak kemarau mulai semakin serius. Karena itu, kami mengimbau masyarakat agar selalu hemat air, dan juga silakan lapor ke petugas jika membutuhkan bantuan air,” jelas pria yang juga dipercaya menjadi Pj sekda ini. (jaz/c1/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
BPBDTrenggalek KrisisAirBersih BencanaKekeringan