Cegah Gagal Panen, Dispertapan Dorong Pengalihan Komoditas Tanam

Gunawan Awan • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 11:22 WIB
KERING: Lahan persawahan di Desa/Kecamatan Pogalan, yang kering sehingga terlihat retakan tanah.(GUNAWAN/ RADAR TRENGGALEK)
KERING: Lahan persawahan di Desa/Kecamatan Pogalan, yang kering sehingga terlihat retakan tanah.(GUNAWAN/ RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek – Kondisi kemarau panjang membuat sejumlah lokasi pesawahan mengalami kekeringan. Hingga berdampak pada biaya produksi para petani dalam merawat tanaman.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Trenggalek, Imam Nurhadi, telah melakukan mitigasi dan penanggulangan dampak kekeringan di sektor pertanian.

​"Saat ini terdapat beberapa titik wilayah pertanian di Trenggalek yang terdampak kekeringan, khususnya pada area komoditas padi. Sebagai langkah mitigasi dan penanggulangan bencana kekeringan tersebut,” katanya.

Pihak dinas telah menyiapkan beberapa strategi alternatif. Termasuk pengalihan komoditas tanam dari padi menjadi palawija yang lebih tahan terhadap keterbatasan air.

Baca Juga: King Cobra 3,5 Meter Sembunyi di Bawah Mobil Sempat Bikin Geger, Damkar Langsung Evakuasi

Selain itu, penyediaan infrastruktur air dengan menyiapkan pembuatan sumur dalam di titik-titik rawan kekeringan.

“Mengoptimalkan sumber air sungai yang masih mengalir dengan menaikkan atau menyalurkan air menggunakan pompa serta sistem irigasi perpipaan,” tandasnya.

​Langkah-langkah ini dilakukan guna memastikan aktivitas pertanian tetap berjalan dan meminimalisasi risiko gagal panen akibat kekeringan di wilayah Kabupaten Trenggalek.

Diberitakan sebelumnya, ancaman kekeringan akibat kemarau panjang kian meluas di wilayah Kabupaten Trenggalek. Dampak paling parah kini dirasakan oleh warga dan petani di Desa/Kecamatan Pogalan.

Baca Juga: Yuliana Dwi Handayani Menembus Istana, Guncang Jakarta Tampilkan Tari Kolosal HUT Ke-81 RI

Selain memicu retaknya tanah di area persawahan, bencana krisis air ini juga mulai mengancam pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari warga setempat.

​Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi lahan pertanian pascapanen tampak mengering hingga tanah berbelah-belah akibat kehilangan kelembapan. Batang-batang jerami sisa panen mengering di atas tanah yang retak, menggambarkan parahnya penurunan debit air tanah maupun pasokan dari saluran irigasi.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Kepala Desa Pogalan, Suparni. Dia membeberkan bahwa kekeringan telah melanda sebagian besar dusun di wilayahnya. Dampak yang paling terasa bagi sektor pertanian adalah membengkaknya biaya operasional yang harus dikeluarkan para petani untuk menjaga kelangsungan tanaman mereka.

​"Petani harus merogoh kocek lebih dalam lantaran terpaksa menyedot air menggunakan mesin diesel. Jika tidak disedot menggunakan pompa mesin, lahan pertanian akan benar-benar mengering dan memicu gagal tanam," ujar Suparni saat dikonfirmasi mengenai kondisi terkini di desanya. 

Baca Juga: Kekeringan Terus Meluas, Panggul Wilayah Terparah Sementara Terjadi di 25 Desa 10 Kecamatan

Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Wening Trenggalek Khoirul Ansori mengaku terus berkordinasi dengan berbagai pihak terkait dalam layanan dropping air bersih.

Hal tersebut sebagai upaya dalam memberikan layanan kepada warga lewat instansi lain termasuk BPBD yang perlu dropping ke sejumlah kawasan butuh air bersih.

“Untuk ketersediaan air bersih di PDAM masih aman, sehingga siap memberikan layanan permintaan air bersih,” pungkasnya. (gun/c1/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGGALEK
DispertapanTrenggalek kekeringan pertanian