PANGGUL, Radar Trenggalek – Masyarakat Bumi Menak Sopal memiliki alasan kuat untuk menjaga kelestarian alam. Pasalnya, sebagian besar aktivitas ekonomi daerah masih bertumpu pada sumber daya alam, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga pariwisata.
Menjaga alam bukan sekadar mempertahankan tradisi. Lebih dari itu, kelestarian alam menjadi kebutuhan karena keberlangsungan kehidupan dan perekonomian masyarakat Trenggalek sangat bergantung pada kondisi lingkungan.
“Karena itu, kami menjalankan tradisi yang namanya Memetri Bumi. Sebenarnya merawat bumi ini menjadi bagian rutin dari gelaran Hari Jadi Trenggalek. Perlu diingat bahwa masyarakat bisa hidup karena buminya masih memberikan kehidupan. Ini sebenarnya pesan pentingnya,” tutur Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, saat melaksanakan tradisi Metri Bumi di sumber air Kedungdowo, Dusun Bendogolor, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kamis (21/8).
Dia menjelaskan, jika dilihat dari struktur perekonomian daerah, banyak sektor yang menjadi sumber penghidupan masyarakat memiliki hubungan langsung dengan alam.
Baca Juga: Cegah Gagal Panen, Dispertapan Dorong Pengalihan Komoditas Tanam
“Kalau kita lihat dari potensi PDRB kita, hampir semua pendapatan atau dari sisi ekonomi kita itu didapatkan dari basis alam,” ujarnya.
Pertanian, peternakan, dan perikanan menjadi contoh sektor yang sangat tergantung pada kelestarian lingkungan. Perikanan tidak akan berkembang apabila laut mengalami kerusakan. Begitu pula pertanian membutuhkan ketersediaan air yang cukup dan berkelanjutan.
“Tidak ada ikan kalau tidak ada laut yang masih terjaga. Kemudian tidak ada sawah yang baik kalau tidak ada air. Tidak ada air kalau tidak ada kawasan karst atau kawasan hutan yang terjaga. Maka itu menjadi satu rangkaian,” jelasnya.
Ketergantungan tersebut tidak berhenti pada sektor hulu. Hasil pertanian, peternakan, maupun perikanan kemudian menggerakkan industri pengolahan. Sementara sektor pariwisata Trenggalek juga mayoritas mengandalkan potensi alam sebagai daya tarik utama.
“Industri pengolahan pun industri pengolahan dari hasil yang hulu. Kemudian yang ketiga dari hasil akomodasi pariwisata dan hiburan. Pariwisata kita semua berbasis alam,” imbuhnya.
Baca Juga: King Cobra 3,5 Meter Sembunyi di Bawah Mobil Sempat Bikin Geger, Damkar Langsung Evakuasi
Karena itu, kerusakan lingkungan dinilai berpotensi memberikan dampak berantai terhadap perekonomian daerah. Ketika alam rusak, sumber penghidupan masyarakat ikut terancam.
“Kalau alamnya rusak, maka Trenggalek juga akan rusak. Maka, pendapatan Trenggalek, ekonomi Trenggalek, juga akan rusak di situ,” tegasnya.
Bupati menilai tradisi Metri Bumi menjadi salah satu cara untuk terus mengingatkan masyarakat mengenai hubungan antara manusia dan alam. Peringatan tersebut tidak hanya menjadi seremoni, tetapi diharapkan membentuk kesadaran untuk menjaga sumber air, hutan, kawasan karst serta lingkungan secara berkelanjutan.
“Jadi, bisa saya simpulkan bahwa rakyat Trenggalek hidup tergantung dengan alam. Maka kalau kita ingin merayakan hari jadi kita, ya yang kita rayakan adalah kebersamaan kita bersama alam,” tandasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Prof Widodo, menilai tradisi Metri Bumi memiliki nilai penting karena menghubungkan budaya dengan upaya pelestarian lingkungan.
Baca Juga: Yuliana Dwi Handayani Menembus Istana, Guncang Jakarta Tampilkan Tari Kolosal HUT Ke-81 RI
“Ini salah satu tradisi, salah satu budaya, yang mana budaya ini diperuntukkan bagaimana kita ingat, sadar, bahwa hidup kita itu sangat tergantung dari kelestarian bumi itu sendiri,” katanya.
Menurut dia, berbagai program pelestarian lingkungan akan lebih mudah dijalankan apabila didukung budaya dan kesadaran masyarakat. Tradisi dapat menjadi sarana untuk membentuk pola pikir sekaligus perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Dengan kondisi tersebut, menjaga alam bagi masyarakat Trenggalek bukan hanya persoalan lingkungan. Kelestarian alam juga menjadi investasi untuk menjaga sumber penghidupan, menggerakkan perekonomian, sekaligus memastikan generasi berikutnya tetap memiliki sumber daya untuk melanjutkan kehidupan.
“Dengan budaya ini menunjukkan bahwa mindset dan juga perilaku yang menyebabkan sebuah tradisi dan budaya ini sudah melekat di tengah masyarakat Trenggalek, yang mana dia paham, peduli untuk melestarikan alam,” jelas Prof Widodo. (jaz/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK