Minyak Jelantah Tak Lagi Dibuang, Dorong Pengurangan Emisi Karbon

Mohammad Bima Faisal Mirza • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 11:46 WIB
Petugas menimbang minyak jelantah hasil kumpulkan warga untuk diolah menjadi bahan bakar ramah lingkungan.
Petugas menimbang minyak jelantah hasil kumpulkan warga untuk diolah menjadi bahan bakar ramah lingkungan.(BIMA FAISAL/ RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek - Minyak jelantah masih kerap berakhir di saluran air maupun tanah setelah digunakan untuk memasak.

Padahal, limbah rumah tangga tersebut memiliki nilai ekonomi dan berpotensi dimanfaatkan kembali. Pengelolaan minyak jelantah pun dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus mendukung gerakan menuju zero carbon.

Staf Pemasaran PT JET Muhammad Agus Mahardika mengatakan, pengumpulan minyak jelantah mulai dilirik sejak 2024. Awalnya, respons masyarakat masih rendah. Dalam satu bulan, minyak yang terkumpul bahkan hanya dua botol air mineral ukuran 1,5 liter.

“Dulu kami pernah melakukan pengumpulan minyak jelantah selama kurang lebih satu bulan. Hasilnya hanya dua botol Aqua ukuran 1,5 liter. Dari situ kami mulai melakukan sosialisasi dan mencari jaringan ke bank sampah serta pihak yang sudah lebih dulu bergerak di bidang minyak jelantah,” ujarnya, Kamis (13/8).

 Baca Juga: Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi Cuan Karya Ibu-Ibu PKK Jadi Andalan Produk Desa

Menurut Dika, persoalan minyak jelantah bukan hanya berkaitan dengan limbah rumah tangga. Kebiasaan membuang minyak bekas memasak ke saluran air maupun tanah juga dapat menimbulkan persoalan lingkungan. Minyak yang masuk saluran air dapat menghambat aliran dan memicu penyumbatan. Sedangkan pembuangan ke tanah berpotensi mengganggu kualitas tanah.

Karena itu, edukasi dilakukan melalui berbagai kelompok masyarakat. Mulai PKK, pengajian, hingga majelis Yasinan. Masyarakat diberikan pemahaman bahwa minyak jelantah sebaiknya dikumpulkan dan tidak dibuang sembarangan.

Perlahan, volume pengumpulan meningkat. Saat ini rata-rata mencapai sekitar 1,5 ton per bulan dan pada periode tertentu dapat mencapai sekitar tiga ton.

Minyak yang dikumpulkan terlebih dahulu disaring untuk memisahkan sisa makanan dan partikel lain. Setelah itu, minyak disalurkan kepada pihak ketiga untuk pengolahan lebih lanjut.

 Baca Juga: Ekonomi Daerah Bergantung pada Sumber Daya Alam Warga Trenggalek Wajib Jaga Lingkungan

Pengelolaan minyak jelantah juga memiliki kaitan dengan upaya transisi menuju energi yang lebih rendah emisi. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku bahan bakar alternatif, termasuk biofuel.

Dika menyebut pemanfaatan tersebut sejalan dengan upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendorong target penurunan emisi karbon.

“Cita-cita kami bisa mengelola hasil minyak jelantah menjadi sesuatu yang memang memiliki daya beli tinggi. Dari beberapa referensi, minyak jelantah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioavtur,” katanya.

“Selain itu, mengolah 1 ton (1.000 liter) minyak jelantah menjadi biodiesel atau bahan bakar nabati dapat memangkas emisi karbon hingga 84 persen dibandingkan bahan bakar fosil, serta mencegah pencemaran air,” imbuhnya.

Pengumpulan sampah dan minyak jelantah juga mendapat dukungan dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Langkah tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai program sesaat, tetapi menjadi kebiasaan masyarakat dalam mengurangi limbah sekaligus mendukung lingkungan yang lebih bersih dan rendah emisi. (bim/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
MinyakJelantah ZeroCarbon Environment