Shrimp Army Pilih Gelar Kompetisi di Tulungagung

Zaki Jazai • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:58 WIB
AKAL DIHELAT : Para pemain Shrimp Army saat mengikuti kompetisi suatu turnamen dan mereka juga akan menggelar di Tulungagung.(SHRIMP ARMY UNTUK RADAR TRENGGALEK)
AKAL DIHELAT : Para pemain Shrimp Army saat mengikuti kompetisi suatu turnamen dan mereka juga akan menggelar di Tulungagung.(SHRIMP ARMY UNTUK RADAR TRENGGALEK)

WATULIMO, Radar Trenggalek - Pengalaman turnamen sepak bola di Bumi Menak Sopal yang tidak mendapatkan rekomendasi resmi menjadi perhatian serius para pencinta bola. Pasalnya, turnamen tersebut berujung sanksi terhadap perangkat pertandingan.

Tak ayal hal itu membuat salah satu komunitas sepak bola di Trenggalek, Shrimp Army, memilih menggelar kompetisi di luar. Kekhawatiran terhadap kepastian perizinan menjadi salah satu pertimbangan utama saat komunitas asal Kecamatan Watulimo tersebut menggelar turnamen bertajuk Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026 di Stadion Rejoagung, Tulungagung.

Turnamen senior se-Karesidenan Kediri tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 26 September 2026. Panitia membuka kuota maksimal 32 tim dengan format full team. Pelaksanaan tersebut mendapatkan respons positif dari para pencinta sepak bola. Buktinya, hingga hingga Minggu (23/8), sebanyak 31 klub telah memastikan diri ambil bagian.

Penyelenggara turnamen, Anjar Priadi Putra mengatakan, keputusan menggelar turnamen di Tulungagung tidak lepas dari pengalaman penyelenggaraan event sepak bola di Trenggalek. Salah satunya ketika turnamen antarsekolah tidak memperoleh rekomendasi resmi.

Kondisi tersebut kemudian berdampak kepada perangkat pertandingan. Sembilan perangkat pertandingan disebut mendapatkan sanksi larangan memimpin pertandingan selama satu tahun.

Baca Juga: Bicara Digitalisasi, Pengurus Muslimat dan Fatayat NU Trenggalek Digembleng Pelatihan AI

“Jadi dengan adanya hal itu, pasti proses untuk mengantongi surat rekomendasi di Trenggalek itu sangat tidak mudah,” ujarnya.

Menurut Anjar, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi panitia. Mereka tidak ingin penyelenggaraan turnamen kembali menghadapi persoalan serupa, terlebih ketika event sudah berjalan dan menyangkut banyak klub maupun perangkat pertandingan.

Karena itu, Tulungagung dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan. Selain mempertimbangkan fasilitas Stadion Rejoagung, panitia juga melihat adanya dukungan lintas sektor terhadap kompetisi yang mereka gagas.

“Persoalan birokrasi event di Trenggalek memang menjadi bahan pertimbangan utama kami,” tegasnya.

Sebaliknya, Anjar menyebut dukungan dari berbagai pihak di Tulungagung memberikan kepastian lebih bagi penyelenggara. Mulai KONI, dispora, Asprov PSSI, hingga Pemerintah Kabupaten (Pemkab)Tulungagung disebut memberikan dukungan terhadap rencana turnamen tersebut.

Baca Juga: Angkutan Pelajar Masih Andalkan Mobil Pelat Merah Siapkan Rp 391 Juta, Keterlibatan MPU Masih Tunggu

“Di Tulungagung, seluruh elemen menyambut dan mendukung penuh rencana kegiatan kami,” ungkapnya.

Meski digelar di daerah tetangga, turnamen tersebut tetap melibatkan klub asal Trenggalek. Dari 31 tim yang sudah mendaftar, dua di antaranya merupakan klub dari Trenggalek, masing-masing berasal dari Kecamatan Gandusari dan Watulimo.

“Dua tim di antaranya bertolak dari Trenggalek, yaitu perwakilan dari Gandusari dan Watulimo,” jelasnya.

Panitia masih membuka pendaftaran hingga 12 September 2026. Pendaftaran akan ditutup lebih cepat apabila kuota 32 tim telah terpenuhi.

Turnamen tersebut juga menawarkan total uang pembinaan Rp 50 juta. Juara pertama mendapat Rp 25 juta, runner-up Rp15 juta, sedangkan dua tim semifinalis masing-masing memperoleh Rp 5 juta.

Baca Juga: King Cobra 3,5 Meter Sembunyi di Bawah Mobil Sempat Bikin Geger, Damkar Langsung Evakuasi

Anjar menegaskan, keputusan menggelar turnamen di Tulungagung bukan berarti komunitasnya tidak ingin berkontribusi terhadap sepak bola Trenggalek. Sebagai putra daerah asli Trenggalek, dia justru berharap suatu saat dapat kembali membawa event besar ke daerah asalnya.

Namun, menurutnya, kepastian regulasi dan mekanisme perizinan perlu dibenahi agar penyelenggara tidak berada dalam posisi rentan ketika menggelar kompetisi.

“Kita semua perlu duduk bersama mengevaluasi sistem yang ada di Trenggalek jika benar-benar ingin membawa perubahan,” katanya.

Dia menilai persoalan tersebut perlu menjadi evaluasi bersama. Sebab, minat masyarakat terhadap sepak bola di Trenggalek sebenarnya cukup besar. Namun, potensi tersebut harus didukung iklim penyelenggaraan kompetisi yang memberikan kepastian bagi klub, panitia, maupun perangkat pertandingan.

Baca Juga: Cegah Gagal Panen, Dispertapan Dorong Pengalihan Komoditas Tanam

“Sangat disayangkan sebenarnya, padahal jarak geografis Trenggalek dan Tulungagung ini sangat dekat, tetapi jurang perbedaannya sudah terlalu jauh,” imbuh Anjar.

Apalagi, turnamen tersebut diproyeksikan tidak berhenti sebagai turnamen sekali gelar. Panitia telah berkomunikasi dengan KONI dan Askab PSSI setempat agar kompetisi tersebut dapat menjadi agenda rutin, bahkan diarahkan masuk dalam rangkaian Hari Jadi Tulungagung.

“Rencana jangka panjang kami memang mematenkan event ini menjadi turnamen tahunan,” pungkasnya.(jaz/c1/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
ShrimpArmy InfoTrenggalek sepakbola