DURENAN, Radar Trenggalek – Sudah berbulan-bulan, bahkan hitungan tahun, warga Desa Gador, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, harus "berteman" dengan masalah klasik yang seakan tak berujung: jalan rusak parah dan berdebu.
Jalur penghubung desa yang krusial bagi mobilitas warga ini kini kondisinya memprihatinkan, penuh lubang menganga, dan menjadi "neraka" tersendiri saat musim kemarau tiba. Tak hanya menghambat aktivitas ekonomi, kondisi ini juga mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pantauan Radar Trenggalek di lokasi, kerusakan terparah terjadi di sepanjang jalur utama Desa Gador yang menuju ke area persawahan dan permukiman warga. Jalan aspal yang dulunya mulus, kini berganti dengan lubang-lubang besar dan dalam.
Kondisi ini membuat para pengendara motor, terutama kaum ibu, harus ekstra waspada. Salah sedikit saja, mereka bisa terperosok ke dalam lubang yang sering kali tertutup debu, atau sebaliknya, tak terlihat saat tergenang air di musim hujan.
Kepala Desa (Kades) Gador, Waras, mengaku tidak menampik kondisi ini. Jalan rusak tersebut telah menjadi momok bagi desanya sejak lama. "Iya, kondisinya memang memprihatinkan. Sekitar 500 meter jalan di desa kami, terutama yang menjadi jalur utama, rusak parah," ungkapnya, Rabu (26/8).
Baca Juga: DPRD Trenggalek Kejar Target, Nomor Registrasi Perda Pilkades Ditarget Muncul Akhir Agustus
Dia menjelaskan bahwa kerusakan jalan tidak terjadi begitu saja. Salah satu pemicu utamanya adalah aktivitas truk pengangkut tanah genting yang melintas secara rutin. Muatan yang berlebihan dan frekuensi yang tinggi membuat jalan yang tidak dirancang untuk menahan beban seberat itu cepat hancur. "Jalan ini aslinya jalan desa untuk kendaraan pribadi, tapi sering dilewati kendaraan besar seperti 'edet' (truk pengangkut tanah genting) dengan muatan berat. Jelas kekuatannya tidak sebanding, apalagi sering overload," keluhnya.
Musim kemarau justru memperburuk situasi. Debu yang pekat dan beterbangan tidak hanya menutupi pandangan pengendara, tetapi juga mengotori rumah-rumah warga dan mengganggu kesehatan. "Kalau musim kemarau begini, debunya minta ampun. Sampai-sampai kalau mau jemur baju pun harus di dalam rumah. Kalau lewat jalan, matanya sampai kelilipan," ujar Endang, 45, seorang warga setempat.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh para pedagang di sekitar jalan. "Kalau mau buka warung, baru dibersihkan sudah berdebu lagi. Pembeli jadi enggan singgah," tambahan Budi, seorang pedagang kelontong.
Selain debu, ancaman kesehatan juga menjadi kekhawatiran tersendiri. Warga takut terkena penyakit saluran pernapasan akibat terlalu sering menghirup debu yang kotor dan berpolusi.
Kondisi jalan yang berlubang juga telah menyebabkan banyak kecelakaan. Pak Waras menceritakan bahwa sudah tidak terhitung lagi berapa kali ada warga yang jatuh akibat terperosok ke dalam lubang jalan. "Sudah sering sekali, Mas. Orang jatuh karena lubang, apalagi kalau malam hari. Lampu jalan tidak terlalu terang, jadinya lubang-lubang ini tidak terlihat," paparnya.
Dia menambahkan, kondisi ini sangat membahayakan bagi pengendara yang tidak terbiasa melewati jalan tersebut. "Apalagi kalau orang baru, yang tidak tahu kalau jalannya rusak. Mereka bisa-bisa celaka besar," jelasnya.
Warga sudah berkali-kali menyampaikan keluhan mereka kepada pihak desa maupun kecamatan. Mereka menuntut agar jalan segera diperbaiki dan ada tindakan tegas terhadap truk pengangkut tanah genting yang melebihi muatan. "Warga sudah sering komplain, tapi sejauh ini belum ada kejelasan kapan perbaikan jalan akan dilakukan," kata Waras.
Kades Waras dan warga Desa Gador berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek dapat segera turun tangan dan memberikan solusi. Perbaikan jalan yang menyeluruh, tidak hanya perbaikan tambal sulam, sangat dibutuhkan untuk mengembalikan kenyamanan pengendara. (gun/c1/din)
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK