KOTA, Radar Trenggalek – Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan Trenggalek akhirnya keluar. Pemeriksaan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sampel buah semangka yang dibagikan kepada penerima manfaat.
Bahkan, selain E. coli, laboratorium juga menemukan Bacillus cereus pada sampel nasi putih. Temuan tersebut menjadi bagian penting dalam penelusuran gangguan kesehatan yang dialami ratusan penerima manfaat setelah mengonsumsi menu MBG pada Selasa (11/8) lalu.
Hasil pemeriksaan diterima tim Satgas MBG pada Senin (24/8) kemarin. Hasil tersebut tertuang dalam surat pemeriksaan BBLKM Surabaya tertanggal 20 Agustus 2026. “Jadi untuk hasil BBLKM Surabaya yang saya terima 24 Agustus 2026 kemarin, yang dalam surat tertanggal 20 Agustus 2026,” kata Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr Sunarto, kemarin (26/8).
Dari sejumlah sampel menu yang diperiksa, yakni nasi putih, ayam sambal kacang, bayam dan jagung, tahu fantasi, serta semangka, ditemukan dua jenis bakteri pada dua bahan makanan berbeda.
Berdasarkan hasil laboratorium, temuan E. coli terdapat pada sampel buah semangka. Menurut dia, bakteri tersebut dapat berasal dari berbagai sumber kontaminasi selama proses penyiapan makanan.
Baca Juga: 11 TKD dan Dua Tanah Wakaf Belum Tuntas Pembebasan Lahan Bendungan Bagong Capai 97 Persen
“Kemudian ditemukan lagi dalam buah semangka yang mengandung Escherichia coli (E. coli), hal ini biasanya tertular dari penjamah atau bahan alat yang digunakan,” jelasnya.
Kontaminasi, lanjut dokter umum ini, bisa terjadi melalui air, tangan penjamah makanan, hingga peralatan yang digunakan saat mengolah makanan.
“Misalkan air, tangan, bersin, batuk dari penjamah makanan, atau bisa jadi pisau yang sebelumnya digunakan memotong bahan lainnya, tanpa dicuci, kemudian digunakan memotong semangka,” imbuhnya.
Sunarto menyebut keberadaan E. coli dapat menyebabkan gangguan pencernaan, termasuk diare. Temuan tersebut memiliki kesesuaian dengan keluhan yang dialami sejumlah penerima manfaat MBG.
“Dampak dari bakteri E. coli ini bisa jadi diare dan ini sesuai dengan keluhan dari beberapa murid atau guru yang menerima manfaat MBG,” katanya.
Selain E. coli pada semangka, hasil pemeriksaan juga menemukan Bacillus cereus pada sampel nasi putih.
“Dari yang kami temukan ada permasalahan ada di nasi putihnya, jadi nasi putihnya itu mengandung Bacillus cereus,” ujar Sunarto.
Dia menjelaskan, Bacillus cereus merupakan bakteri yang secara alami dapat ditemukan di tanah dan lingkungan. Bakteri tersebut juga dapat berada dalam bentuk spora pada beras.
“Spora itu ketika membentuk endospora bisa tahan terhadap pemanasan. Jadi, meskipun ditanak itu masih ada kemungkinan,” jelasnya.
Karena itu, proses setelah nasi matang hingga makanan dikonsumsi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Baca Juga: Keluhan Warga Gador Terabaikan Jalan Rusak, Berdebu, Ancam Keselamatan dan Kesehatan Pengendara
“Alternatif yang lain, kalau dibiarkan 2 jam, endospora itu bisa memberikan gangguan kepada yang menerima. Jadi kalau kurang dari 2 jam seharusnya dikonsumsi,” katanya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, kasus gangguan kesehatan tersebut terjadi setelah menu MBG dari SPPG Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah dibagikan pada Selasa (11/8). Sehari setelahnya, sejumlah penerima manfaat mulai mengalami keluhan seperti mual, muntah, dan diare.
Berdasarkan pendataan Satgas MBG Trenggalek hingga Kamis (13/8), total terdapat 549 penerima manfaat yang mengalami keluhan dari tiga lokasi.
Rinciannya, 493 orang di SMPN 1 Trenggalek yang terdiri atas 474 siswa dan 19 guru. Kemudian, 30 orang di SDI Luqman Al Hakim, terdiri atas 20 siswa dan 10 tenaga pendidik, serta 26 penerima manfaat Posyandu Kelurahan Tamanan.
Salah seorang siswa SDI Luqman Al Hakim berinisial SA, 11, bahkan sempat menjalani perawatan di RSUD dr Soedomo Trenggalek setelah mengalami diare dan muntah berulang hingga mengalami dehidrasi.
Meski hasil laboratorium menemukan E. coli dan Bacillus cereus, temuan tersebut belum serta-merta menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh keluhan 549 penerima manfaat disebabkan oleh kedua bakteri tersebut. Hubungan antara hasil pemeriksaan makanan dengan kondisi kesehatan masing-masing penerima tetap membutuhkan penilaian medis dan pemeriksaan lebih lanjut.
Pascakejadian, operasional SPPG Tamanan untuk sementara dihentikan. Satgas MBG bersama pihak terkait juga telah melakukan pembinaan terhadap pengelola, terutama mengenai penerapan standar operasional prosedur (SOP).
“Dengan kejadian seperti itu kemarin sudah kami kunjungi SPPG, sudah kami lakukan pembinaan terkait SOP,” kata Sunarto.
Namun, asesmen terhadap kepatuhan SOP saat proses produksi tidak dapat dilakukan secara langsung karena SPPG masih dalam kondisi suspend.
Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut kini menjadi bahan evaluasi bagi Satgas MBG untuk memperbaiki proses pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian makanan.
“Dua temuan ini (E. Coli pada semangka dan Bacillus cereus pada nasi, Red) sekaligus menjadi perhatian kami agar kejadian gangguan kesehatan serupa tidak kembali terjadi,“ jelas mantan direktur RSUD dr Soedomo ini. (jaz/c1/din)
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK