Embung Desa Semarum Dangkal Terbawa Sedimen Pemdes Harapkan Perbaikan dan Pengerukan dari Pemerintah

Gunawan Awan • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:20 WIB
KEMARAU: Tampak kondisi Embung Semarum di Kecamatan Durenan yang dangkal dan mengering.(GUNAWAN/ RADAR TRENGGALEK)
KEMARAU: Tampak kondisi Embung Semarum di Kecamatan Durenan yang dangkal dan mengering.(GUNAWAN/ RADAR TRENGGALEK)

DURENAN, Radar Trenggalek – Keberadaan embung atau kolam penampung air peninggalan masa lalu di Desa Semarum, Kecamatan Durenan, kini membutuhkan perhatian serius.

Pasalnya, embung yang menjadi tumpuan utama ketergantungan air bagi para petani di desa setempat tersebut mengalami pendangkalan serius akibat tumpukan sedimen yang terbawa dari area pegunungan.

​Kepala Desa Semarum, Agus Priyanto menjelaskan, keberadaan embung tersebut sangat vital untuk menunjang ketahanan pangan dan kesejahteraan warga, khususnya para petani penggarap. Selama ini, petani Desa Semarum sangat bergantung pada sistem pertanian tadah hujan.

Baca Juga: Pulang dari Malaysia, Suami Laporkan Istri Karena Diduga Main Serong selama 1,5 Tahun

"Embung ini merupakan peninggalan masa lalu yang sangat bermanfaat. Ketika musim hujan tiba, embung ini berfungsi sebagai wadah menampung air untuk memenuhi kebutuhan air minimal satu musim tanam berikutnya bagi lahan pertanian di radius sekitarnya," ujar Agus Priyanto, Kamis (27/8).

Menurut dia, ketersediaan air di embung sangat berdampak pada kelembapan tanah dan ketersediaan sumber air permukaan. Jika embung terisi air dengan maksimal, sumber air tanah di sekitarnya tetap dangkal sehingga memudahkan petani dalam mengairi sawah.

Sebaliknya, jika embung mengering dan dangkal, sumber air permukaan menjadi terlalu dalam. Hal tersebut membuat biaya operasional petani membengkak karena harus menyedot air menggunakan pompa listrik (Sanyo) dengan daya yang lebih besar.

Baca Juga: Hasil Lab Semangka Positif E. Coli, Nasi Mengandung Bacillus cereus, Sebabkan Gangguan Pencernaan

​Namun, kondisi embung saat ini tidak lagi optimal. Masalah utama yang dihadapi adalah tingginya laju pendangkalan yang disebabkan oleh sedimen lumpur dan tanah dari aliran air pegunungan saat musim hujan.

​"Beberapa tahun lalu memang sudah pernah dilakukan pengerukan dari pemerintah daerah. Namun, setelah berjalan sekitar tiga hingga empat kali musim hujan, embung ini kembali penuh dengan sedimen. Akibatnya, daya tampung airnya berkurang drastis dan cepat habis," jelas Kades Semarum.

​Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Semarum sangat berharap adanya intervensi dan bantuan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk melakukan pengerukan ulang serta perbaikan infrastruktur embung, seperti pengerjaan pelengsengan. Langkah ini dinilai penting agar air yang ditampung dapat bertahan lebih lama dan tidak mudah surut.

Baca Juga: 11 TKD dan Dua Tanah Wakaf Belum Tuntas Pembebasan Lahan Bendungan Bagong Capai 97 Persen

Selain untuk menyokong ketahanan sektor pertanian, Pemdes Semarum juga memiliki rencana jangka panjang untuk mengoptimalkan potensi embung tersebut. Ke depan, kawasan embung direncanakan akan dikelola bersama karang taruna, linmas (hansip), dan kelompok tani lokal untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata desa berbasis lingkungan.

​"Jika embung ini diperbaiki dan dikeruk kembali, manfaatnya sangat banyak. Tidak hanya menjamin ketahanan pangan petani, tetapi juga bisa kita kembangkan sebagai destinasi wisata lokal yang mampu menggerakkan roda perekonomian warga Desa Semarum," pungkasnya.(gun/c1/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
KetahananPangan semarum embung