Merawat Kenangan di Kampung Halaman Dari Prambon Tugu ke Finlandia

Didin Cahya Firmansyah • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 13:05 WIB
PENUH PERJUANGAN:  Puput Nivala bersama keluarga menetap di Finlandia dan memiliki kedekatan dengan alam.(PUPUT NIVALA UNTUK RADAR TRENGGALEK)
PENUH PERJUANGAN: Puput Nivala bersama keluarga menetap di Finlandia dan memiliki kedekatan dengan alam.(PUPUT NIVALA UNTUK RADAR TRENGGALEK)

TUGU, Radar Trenggalek – Jarak ribuan kilometer tak lantas membuat Puput Nivala melupakan tanah kelahirannya. Perempuan asal Desa Prambon, Kecamatan Tugu, tersebut kini menetap di Finlandia.

Lebih dari satu dekade hidup di negeri Eropa itu membuatnya terbiasa dengan lingkungan, budaya, hingga kehidupan yang jauh berbeda dari kampung halaman.

Perjalanan Puput ke Finlandia bermula dari perkenalannya dengan sang suami ketika sama-sama berada di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM). Puput kala itu menempuh pendidikan di jurusan kehutanan. Sementara sang suami yang berasal dari Finlandia juga memiliki latar belakang kehutanan, meski ketika berkuliah di UGM mengambil bahasa Indonesia dan ekonomi.

Keduanya kemudian menikah di Indonesia pada 2011. Setelah sempat tinggal di tanah air, Puput akhirnya mengikuti sang suami ke Finlandia.

“2011 itu saya nikah di Indonesia, terus kita tinggal di Indonesia sebentar, terus habis itu pindah ke Finlandia,” tuturnya.

Baca Juga: BPR Jwalita Dorong UMKM Trenggalek Naik Kelas, Hadirkan Bunga Pembiayaan 0,81 Persen

Namun, menetap di negara maju tidak serta-merta membuat kehidupannya berjalan mudah. Setelah pindah, Puput harus beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus membangun kehidupannya dari awal.

Dia sempat tinggal di Finlandia sekitar tiga setengah tahun sebelum kemudian pindah ke Vietnam selama kurang lebih tiga setengah tahun. Setelah itu, kembali ke Finlandia dan melanjutkan kehidupannya hingga sekarang.

Salah satu pengalaman yang paling membekas ketika pertama kali tinggal di Finlandia adalah soal air minum. Jika di Indonesia masyarakat umumnya terbiasa membeli air kemasan atau menggunakan galon, Puput justru mendapati air keran di Finlandia dapat langsung diminum.

“Disuruh minum air keran. Air kerannya bersih. Jadi disuruh minum air keran itu, terus kayak, kok di sini enggak ada galonnya,” kenangnya.

Menurut dia, air keran tersedia di berbagai tempat dan dapat langsung digunakan untuk minum karena kualitas airnya memang sudah baik.

Baca Juga: BBWS Brantas Gercep Antisipasi Kekeringan

Kehidupan di Finlandia juga membuat Puput semakin dekat dengan alam. Rumahnya berada tidak jauh dari kawasan hutan dan danau. Aktivitas berjalan kaki, bersepeda, maupun joging menjadi bagian dari kesehariannya. Saat musim dingin tiba, dia lebih sering menggunakan mobil karena suhu yang sangat rendah.

“Lebih dekat ke alam karena Finlandia sebagian besar memang alam. Di dekat rumah itu juga banyak hutan,” katanya.

Lingkungan yang aman membuatnya nyaman menikmati kawasan alam di sekitar tempat tinggalnya, termasuk berjalan-jalan maupun berolahraga di tempat yang relatif sepi.

Meski telah lama tinggal jauh dari Trenggalek, rasa rindu terhadap Indonesia tetap muncul, terutama pada tahun-tahun awal. Namun, karena sebelumnya sempat tinggal selama tujuh tahun di Jogjakarta, Puput mengaku sudah terbiasa hidup jauh dari orang tua dan kampung halaman.

PUPUT NIVALA
“Lebih ke kangen dengan budaya Indonesia yang ramai. Awal-awalnya sedih, kangen sama teman, kangen sama keluarga,” ujarnya. Jarak Finlandia-Trenggalek membuatnya tidak bisa pulang sesering ketika masih tinggal di Jogjakarta. Dia biasanya baru dapat kembali ke Indonesia sekitar satu setengah tahun sekali.

Saat akhirnya pulang ke Trenggalek, bukan tempat wisata yang menjadi tujuan utama Puput. Baginya, kepulangan lebih banyak dihabiskan untuk menikmati waktu bersama keluarga.

Dia bisa menghabiskan waktu sekitar satu setengah bulan di rumah, berkumpul bersama keluarga, dan membiarkan anak-anak bermain.

“Kalau pulang ke Trenggalek itu poinnya ketemu sama keluarga. Pertama kali pulang itu aku lebih banyak di rumah. Kayak sama keluarga aja di rumah,” katanya.

Urusan kuliner tentu tak boleh dilewatkan. Ada sejumlah makanan khas yang selalu dicari ketika kembali ke tanah kelahiran. Salah satunya nasi lodho. Selain itu, bakso juga menjadi makanan yang mengingatkan Puput pada kampung halaman, termasuk bakso Pak Slamet yang berada di sekitar rumah sakit.

Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur Tak Boleh Berhenti

“Nasi lodho itu kadang kalau pulang pasti makan itu. Terus makan bakso, kayak misalnya baksonya Pak Slamet,” ujarnya.

Namun, kepulangan ke Trenggalek kini terasa berbeda dibandingkan masa lalu. Perubahan lingkungan sosial menjadi salah satu hal yang paling dirasakan. Banyak tetangga telah berganti dan orang-orang tua yang dulu menjadi tempatnya pulang kini sebagian besar sudah tiada.

Karena itu, kepulangan ke Trenggalek kini lebih banyak dimaknai sebagai kesempatan bertemu saudara dan keluarga yang masih ada.

“Sekarang kalau saya pulang ke Trenggalek itu kayak auranya beda. Tetangga sudah ganti banyakan, orang tua juga sudah enggak ada semua sekarang,” tuturnya.

Meski demikian, Puput melihat perubahan positif ketika membandingkan Trenggalek saat ini dengan daerah yang dikenalnya puluhan tahun lalu.

Baca Juga: Cabuli Gadis, Pemuda Surodakan Terancam 12 Tahun Penjara

Dia menilai Trenggalek kini terasa lebih modern, dengan semakin banyak tempat nongkrong dan aktivitas masyarakat yang lebih ramai.

Hal yang paling menarik perhatiannya justru bukan sekadar perkembangan kota, melainkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Dia melihat pengelolaan sampah di sejumlah wilayah sudah mengalami perubahan, termasuk di Desa Prambon, kampung halamannya.

“Yang paling bagus itu kayak pemilahan sampah, pembuangan sampah sudah lumayan bagus sekarang. Di kampungku itu, di Desa Prambon, sudah ada tempat pembuangan sampah khusus,” ungkapnya.

Bagi Puput yang tinggal di Finlandia, keberadaan tempat pembuangan sampah di desa merupakan perkembangan yang patut diapresiasi. Sebab, di Finlandia, pemilahan sampah memang menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.(*/c1/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
KisahInspiratif WargaTrenggalek Finlandia TrenggalekHariIni