Bagikan 11 Ribu Kantong Udik-Udik ke Warga Bregodo Tani Jadi Pembeda Prosesi

Zaki Jazai • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 10:27 WIB
BERBAGI BERKAH: Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin saat membagikan bibit pohon dan udik-udik kepada masyarakat di sepanjang rute kirab pusaka.
BERBAGI BERKAH: Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin saat membagikan bibit pohon dan udik-udik kepada masyarakat di sepanjang rute kirab pusaka.(ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek – Prosesi Hari Jadi Ke-832 Kabupaten Trenggalek yang dihelat Senin (31/8) tetap mempertahankan tradisi yang telah berjalan dari tahun ke tahun. Hal itu terlihat dari ribuan masyarakat Bumi Menak Sopal dan sekitarnya memadati rute arak-arakan hari jadi.

Namun, sejumlah sentuhan baru disiapkan untuk membuat perayaan tahun ini lebih dekat dengan masyarakat.

Salah satu pembeda paling mencolok yakni keterbukaan prosesi di Pendapa Manggala Praja Nugraha. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek memberikan ruang lebih luas bagi masyarakat untuk menyaksikan rangkaian prosesi sekaligus berbaur langsung dengan para bregodo (pasukan) yang terlibat.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan, secara substansi prosesi Hari Jadi Trenggalek tidak banyak berubah. Namun, terdapat sejumlah doa, simbol, dan rangkaian kegiatan yang sengaja diperkuat sesuai kondisi masyarakat saat ini.

Baca Juga: Nota Keuangan Sudah Masuk, DPRD Trenggalek Targetkan Perubahan APBD 2026 Rampung 8–9 September

“Pada esensinya tidak ada yang berbeda, tapi kalaupun ada doa yang kita panjatkan, kita lengkapi,” katanya. 

Keterbukaan tersebut salah satunya diwujudkan dengan memberikan kesempatan masyarakat untuk duduk bersama bregodo di area pendapa. Warga juga dapat menikmati berbagai suguhan yang disiapkan pemerintah daerah.

“Hari jadi dibuka untuk umum. Monggo nanti silakan menyesuaikan diri. Duduk nanti bareng bersama bregodo-bregodo yang ada. Lenggah di sini, bisa nderek menikmati suguhan yang ada,” ujarnya.

Tidak hanya menyaksikan prosesi dari kejauhan, masyarakat juga akan dilibatkan dalam sejumlah rangkaian kegiatan. Salah satunya melalui pelibatan petani sebagai Bregodo Tani.

 Baca Juga: DPRD Trenggalek Dukung Pembebasan PPB Sawah, Langsung Koordinasi untuk Siapkan Dasar Hukum

Menurut bupati yang akrab disapa Ipin ini, kehadiran Bregodo Tani memiliki pesan khusus. Petani merupakan bagian penting dalam upaya mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan nasional yang menjadi perhatian pemerintah pusat.

“Presiden secara nasional ingin swasembada pangan. Secara serentak nanti salah satunya ada Bregodo Tani,” jelasnya.

Kehadiran Bregodo Tani juga akan berkaitan dengan tradisi tiban. Tradisi tersebut menjadi bagian dari doa masyarakat untuk memohon turunnya hujan dan kecukupan air bagi sektor pertanian.

“Tiban termasuk ujub, karena Bregodo Tani keluar semua. Beliau menunjukkan doa, semoga hasil pertanian bisa bagus. Salah satunya ditunjang dari ketersediaan air yang cukup,” terang Ipin.

Karena itu, dalam mendukung hal tersebut, pemkab akan memberlakukan gratis pajak bangunan bagi sawah yang termasuk dalam Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Tujuannya ingin memberikan rasa aman bagi para pemilik, sebab kedua lahan tersebut tidak bisa dialihfungsikan.

Baca Juga: PHBN Desa Karangtengah Meriah Warga Kompak Lestarikan Budaya

Selain Bregodo Tani, pembeda lainnya terlihat dari simbol-simbol yang disiapkan dalam prosesi. Dalam tradisi Metri Bumi, misalnya, tahun ini bupati meminta tanaman beringin dan sawo kecik menjadi bagian dari rangkaian.

Beringin dimaknai sebagai doa agar seluruh keinginan baik masyarakat dapat dikabulkan. Sedangkan sawo kecik memiliki filosofi agar seluruh perbuatan dan hasil yang dilakukan masyarakat berujung pada kebaikan.

“Harapan saya ini doa untuk seluruh masyarakat. Semoga masyarakat meminta kebaikan apa pun itu diijabahi oleh Allah. Terus kemudian menanamnya sawo kecik. Harapannya, seluruh yang dilakukan ini nanti hasilnya sarwo becik. Semuanya jadi baik,” katanya.

Sentuhan simbolis juga hadir melalui bunga bougenville yang disiapkan dalam hidangan prosesi. Bunga tersebut dipilih karena memiliki filosofi tetap mekar meski berada dalam kondisi sulit.

Baca Juga: Kemerdekaan dan Hari Jadi

“Bunga bougenville itu dia mekar ketika tersakiti, mekar di kala kesulitan. Saya yakin semua orang di sini itu banyak yang mengalami kesulitan, ujian, tetapi pesannya adalah kita harus tetap mekar karena percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan pertolongan,” tutur Ipin.

Keterbukaan prosesi juga berlanjut dalam rangkaian kegiatan setelah prosesi utama. Masyarakat dapat menyaksikan tiban dan panjat pinang sambil menunggu pergelaran wayang kulit dengan lakon Wahyu Makutharama yang dibawakan dalang Ki Purbo Asmoro.

Sementara sebelum prosesi di pendapa, masyarakat dapat menyaksikan kirab pusaka di sepanjang rute yang telah ditentukan. Dalam kirab tersebut, Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek juga akan membagikan bibit pohon serta udik-udik (pemberian) kepada masyarakat.

Pemkab Trenggalek menyiapkan 11 ribu kantong udik-udik untuk dibagikan kepada warga di sepanjang jalur kirab. Jumlah tersebut bukan sekadar angka, melainkan memiliki makna filosofis yang ingin disampaikan bupati.

“11 ribu artinya kawelasan saking malaikat sing jumlahe ewon-ewon. Jadi, semoga dapat kawelasan dari Allah melalui para malaikatnya yang ribu-ribuan itu. Harapannya nanti memberikan pertolongan, ditugaskan untuk menjaga kita,” tandasnya.

Baca Juga: Perda Pilkades Hampir Final Dewan Bidik Nomor Registrasi Turun Akhir Agustus

Selain itu, masyarakat juga akan mendapatkan kesempatan menikmati tumpeng yang disiapkan dalam prosesi. Tidak hanya Tumpeng Paes Agung, sejumlah tumpeng kecil juga disediakan untuk di-purak atau dibagikan kepada masyarakat.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa meski esensi Hari Jadi Trenggalek tetap dipertahankan, pelaksanaan tahun ke-832 dibuat dengan sejumlah penekanan baru. Tradisi tetap menjadi pijakan, sementara masyarakat ditempatkan lebih dekat sebagai bagian dari prosesi.

“Dengan konsep seperti ini, kami ingin Hari Jadi Ke-832 Trenggalek tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga ruang bersama untuk merawat tradisi, menyampaikan doa, dan mempertemukan masyarakat dengan simbol-simbol sejarah serta budaya daerah,“ jelas Ipin. (jaz/c1/din)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
HariJadiTrenggalek832 BupatiIpin BudayaJawa