KOTA, Radar Trenggalek – Perjalanan Trenggalek hingga memasuki Hari Jadi Ke-832 Tahun tidak lepas dari jejak sejarah yang tersimpan dalam Prasasti Kamulan. Peninggalan masa lalu tersebut kini tidak hanya dibaca sebagai sebuah prasasti, tetapi juga divisualisasikan melalui film dokumenter berjudul Sunghai.
Di balik film tersebut, terdapat sosok Yanu Andi Prasetyo, sineas muda asal Trenggalek yang mencoba menghidupkan kembali kisah Prasasti Kamulan melalui medium audio visual. Baginya, prasasti yang selama ini hanya dikenal sebagai batu tua di lingkungan Pendapa Manggala Praja Nugraha menyimpan cerita besar yang perlu dikenalkan kepada masyarakat.
Ide tersebut bermula dari rasa penasaran Yanu, sapaan akrab Yanu Andi Prasetyo, ketika melihat Prasasti Kamulan berada di lingkungan Pendapa Manggala Praja Nugraha. Dari benda yang setiap hari dilihat itu, muncul pertanyaan mengenai isi dan sejarah yang tersimpan di baliknya.
“Kalau kenapa memilih Prasasti Kamulan ya karena saya dari Trenggalek melihat berawal di lingkungan pendapa ada batu,” ujar Yanu.
Rasa penasaran itu kemudian membawanya melakukan penelusuran lebih jauh. Yanu menemukan bahwa Prasasti Kamulan bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan memiliki keterkaitan dengan legitimasi Hari Jadi Kabupaten Trenggalek yang kini memasuki usia 832 tahun.
Baca Juga: Optimalisasi BUMD, Dorong Pelayanan Masyarakat dan PAD
“Bahwa apakah seonggok batu dalam tanda kutip, ternyata kemudian saya penasaran ada isinya cukup menarik, kenapa menjadi legitimasi hari jadi dan sebagainya, akhirnya bagaimana benda mati kami sampaikan kepada masyarakat dalam bentuk audio visual,” katanya.
Dari situlah, gagasan membuat film dokumenter Sunghai berkembang. Yanu ingin membawa cerita yang tersimpan dalam prasasti tersebut keluar dari bentuk benda mati agar dapat dipahami masyarakat dengan cara yang lebih dekat, terutama oleh generasi muda.
Menurut dia, sejarah tidak harus selalu disampaikan melalui teks maupun kunjungan langsung ke situs peninggalan. Perkembangan medium audio visual dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali nilai sejarah kepada generasi yang lebih luas.
“Sehingga cara penyampaian pesan-pesan orang tidak hanya datang ke prasasti melihat batunya, akan tetapi dengan medium yang lain, saya kira misal film, animasi, apa pun bentuknya sehingga peradaban atau nilai-nilai yang ada di Prasasti Kamulan ini bisa dikenal lebih luas,” jelasnya.
Baca Juga: Bagikan 11 Ribu Kantong Udik-Udik ke Warga Bregodo Tani Jadi Pembeda Prosesi
Film tersebut juga menjadi bagian dari upaya pengarsipan sejarah dalam bentuk audio visual. Sebab, menurut Yanu, nilai dan cerita yang melekat pada sebuah prasasti perlu terus diwariskan agar tidak berhenti pada generasi tertentu.
“Kemudian, salah satu cara pengarsipan nilai dari sebuah prasasti melalui audio visual, dengan bentuk film dokumenter,” ungkapnya.
Proses penggarapan Sunghai sendiri tidak berlangsung singkat. Kendati pengambilan gambar di lapangan hanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu, tahap riset justru menjadi bagian yang cukup panjang.
Tim produksi menggali informasi dari berbagai sumber. Mulai pelaku budaya, pegiat sejarah, arkeolog, hingga masyarakat yang memiliki cerita dan pengalaman terkait Prasasti Kamulan.
Kehati-hatian menjadi perhatian utama Yanu karena film tersebut membawa narasi sejarah. Setiap informasi yang dimasukkan harus melalui proses penelusuran dan dikonfirmasi kepada pihak yang memiliki kompetensi.
Baca Juga: DPRD Trenggalek Dukung Pembebasan PPB Sawah, Langsung Koordinasi untuk Siapkan Dasar Hukum
“Kalau proses yang lama riset yang dibantu teman-teman pelaku budaya, pelaku sejarah, kemudian dari sisi arkeologi, sisi pembacaan, kemudian testimoni masyarakat itu yang menjadi lama,” paparnya.
Menurut dia, penyusunan film sejarah tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Sebab, kekeliruan dalam menyampaikan sebuah fakta sejarah dapat menimbulkan pemahaman yang berbeda di tengah masyarakat.
“Karena ngomongin sebuah film dokumenter kaitannya dengan sejarah atau kronologis peradaban itu kan sangat riskan jika terburu-buru. Jadi, kami membuat film, saya tunjukkan para ahli apakah sudah benar atau bagaimana,” terangnya.
Untuk membuat cerita lebih dekat dengan penonton, Yanu memilih menggunakan sudut pandang masyarakat umum. Cerita mengenai Prasasti Kamulan tidak hanya disampaikan berdasarkan kajian, tetapi juga melalui pengalaman dan cerita yang berkembang di tengah masyarakat.
“Di film, kami memakai sudut pandang masyarakat umum, bagaimana cerita-cerita masyarakat soal Kamulan masa lalu dan temuan di sana,” ujarnya.
Baca Juga: Nota Keuangan Sudah Masuk, DPRD Trenggalek Targetkan Perubahan APBD 2026 Rampung 8–9 September
Dalam proses produksi, tim juga menemukan sejumlah hal menarik di lapangan yang sebelumnya tidak menjadi bagian utama perencanaan. Salah satunya temuan berupa cerobong yang kemudian justru memberikan warna tersendiri dalam alur film.
“Yang menarik ada temuan secara spontan seperti cerobong sehingga menjadi menarik di meja editing. Sehingga saya sebagai produser dan sutradara menjahit puzzle itu menjadi sebuah sajian film dokumenter,” cerita Yanu.
Bagi Yanu, Sunghai bukan sekadar karya film. Dokumenter tersebut menjadi upaya untuk mendekatkan kembali sejarah Trenggalek kepada masyarakat melalui bahasa visual.
Terlebih, ketika Kabupaten Trenggalek kini memasuki usia 832 tahun, keberadaan Prasasti Kamulan menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah yang menjadi dasar penanda Hari Jadi Trenggalek.
Baca Juga: Jadwal BRI Super League Pekan Pertama, Persip Bandung Langsung Hadapi PSM Makassar
Melalui film tersebut, Yanu berharap masyarakat tidak hanya mengenal Hari Jadi Trenggalek sebagai sebuah perayaan tahunan. Lebih dari itu, masyarakat dapat memahami bahwa di balik usia 832 tahun tersebut terdapat jejak sejarah panjang yang perlu dirawat, dipelajari dan diwariskan.
Saat ini, tim produksi masih berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Jawa Timur terkait rencana pemutaran dan distribusi film.
“Harapan saya melalui ini, Sunghai tidak berhenti sebagai dokumentasi, tetapi dapat menjadi salah satu media pembelajaran sejarah bagi masyarakat Trenggalek dan generasi mendatang,“ jelas Yanu.(jaz/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK