TRENGGALEK, Radar Trenggalek – Memasuki musim kemarau, kondisi ketersediaan air di Dam Dawung, Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan, masih terpantau normal. Meski demikian, untuk menjaga ketersediaan air di wilayah hilir, dam tersebut mendapat tambahan suplai dari Bendungan Tugu. Pasokan air tersebut mulai dialirkan sekitar sepekan terakhir.
Petugas Dam Dawung, Misni mengatakan, suplai dari Bendungan Tugu dilakukan untuk membantu menjaga kondisi air, terutama ketika wilayah hilir mulai membutuhkan tambahan pasokan. Sebelum mendapatkan suplai tersebut, tinggi muka air di Dam Dawu berada di angka sekitar 89,60 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Setelah mendapat suplai dari Bendungan Tugu, tinggi muka air kembali meningkat menjadi sekitar 89,82 mdpl. Kondisi tersebut, menurut Misni, masih tergolong normal. "Sekarang sudah normal," katanya, Jumat (4/9).
Kondisi serupa sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Sekitar tiga tahun lalu, Dam Dawung juga pernah menghadapi kondisi kekeringan yang lebih parah. Ketika itu, wilayah hilir masih melakukan penanaman padi sehingga kebutuhan air cukup tinggi. Saat ketersediaan air mulai berkurang, wilayah hilir kemudian meminta tambahan suplai dari Bendungan Tugu. "Tiga tahun lalu ada kekeringan, tidak seperti sekarang ini," ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa kebutuhan pasokan air di wilayah hilir dapat meningkat ketika musim kemarau bertepatan dengan aktivitas pertanian.
Baca Juga: JLS Dikebut, Kucuri Rp 19 M Untuk Dongkrak Ekonomi Buka Konektivitas Selatan
Kendati demikian, Misni menjelaskan bahwa pengelolaan kebutuhan air untuk wilayah hilir bukan sepenuhnya menjadi kewenangannya. Petugas Dam Dawung lebih memiliki tugas utama dalam pengendalian banjir.
Sementara pengaturan kebutuhan air untuk wilayah yang menerima aliran menjadi kewenangan pengelola terkait.
Aliran air dari kawasan Dam Dawung tersebut mencakup sejumlah wilayah di bagian hilir. Di antaranya Kecamatan Durenan, dengan beberapa desa termasuk Karanganom, Malasan, Sumbergayam, dan Baruharjo. Aliran juga berkaitan dengan wilayah Kecamatan Pakel. Dengan cakupan tersebut, kondisi tinggi muka air di Dam Dawung menjadi salah satu hal yang terus dipantau petugas.
Untuk kebutuhan pemantauan, tinggi muka air Dam Dawung sudah menggunakan sensor. Alat tersebut bekerja secara otomatis mengikuti perubahan permukaan air. Ketika air mengalami kenaikan, angka pada alat akan ikut meningkat. Begitu pula ketika permukaan air turun, angka yang ditampilkan akan ikut berkurang.
Dengan sistem tersebut, petugas dapat mengetahui perubahan tinggi muka air tanpa harus melakukan pengukuran secara manual setiap saat.
Kondisi tinggi muka air juga berbeda antara musim kemarau dan penghujan. Saat musim penghujan, terutama ketika debit air meningkat akibat curah hujan tinggi, permukaan air di Dam Dawung dapat mencapai angka sekitar 93,60 mdpl. Ketinggian tersebut sudah masuk kondisi yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan peningkatan debit air.
Menurut Misni, angka sekitar 93,60 mdpl tersebut merupakan kondisi ketika terjadi banjir besar. Karena itu, keberadaan Dam Dawung memiliki peran penting dalam mengendalikan debit air agar tidak langsung berdampak pada wilayah di bagian hilir.
Artinya, selain berkaitan dengan pengaturan aliran air, fungsi yang menjadi perhatian utama petugas di Dam Dawung adalah memastikan kondisi air tetap terkendali ketika debit meningkat. (gun/c1/din)
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK