KOTA, Radar Trenggalek – Medan lahan yang terjal dan sulit dijangkau menjadi kendala utama petugas dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bumi Menak Sopal. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman di sejumlah titik masih harus dilakukan secara manual dengan mengandalkan alat sederhana berupa gepyokan.
Apalagi, berdasarkan data yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek, hingga Senin (14/9), di luar kejadian yang ada di area wisata Pasir Putih, Kecamatan Watulimo, karhutla yang terjadi di berbagai wilayah Trenggalek telah membakar lahan seluas 74,29 hektare (ha) yang tersebar di 31 titik pada 7 kecamatan.
“Sampai saat ini, seluruh titik api dalam rekapitulasi karhutla di kami telah berhasil dipadamkan. Karakter wilayah menjadi tantangan tersendiri bagi petugas ketika menjangkau lokasi kebakaran,“ ungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek St. Triadi Atmono, Senin (14/9).
Dia menambahkan, kondisi geografis Trenggalek yang didominasi perbukitan dan medan terjal membuat armada pemadam berukuran besar tidak selalu bisa mendekati titik api. Karena itu, petugas harus menyesuaikan metode pemadaman dengan kondisi lapangan.
Baca Juga: DPD PAN Trenggalek Bidik Kebangkitan
“Melihat karakter medan Trenggalek yang ekstrem, tim kami sering mengandalkan alat tradisional seperti gepyokan untuk memadamkan api,” jelas Triadi.
Gepyokan merupakan alat sederhana berupa pemukul api yang dibuat dari bambu dan dedaunan basah. Alat tersebut digunakan petugas untuk memukul dan memutus kobaran api, terutama ketika titik kebakaran berada di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan maupun peralatan pemadam berukuran besar.
“Gepyokan ini memudahkan pergerakan personel di medan sulit. Menggunakan peralatan canggih justru berisiko karena keterbatasan akses. Kami tentu harus memperhitungkan keselamatan setiap petugas di lapangan,” tandasnya.
Kondisi lahan yang sulit dijangkau tersebut menjadi persoalan penting karena kebakaran terjadi di tengah kondisi vegetasi yang kering. Cuaca terik berkepanjangan membuat semak belukar dan serasah daun mudah terbakar sehingga api dapat dengan cepat meluas.
Baca Juga: APBD Turun, Persentase Belanja Pegawai Meningkat
“Suhu panas yang ekstrem belakangan ini mengeringkan semak belukar dan serasah daun, sehingga sisa gesekan atau percikan api sekecil apa pun langsung membesar,” kata Triadi.
Dari tujuh kecamatan terdampak, Karangan menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar yakni 25,25 ha. Selanjutnya, Kecamatan Trenggalek 17,5 ha, Panggul 10 ha, Gandusari 10 ha, Pogalan 7 ha, Dongko 3 ha, dan Kampak 1,5 ha.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, BPBD tidak bekerja sendiri. Pemadaman dan mitigasi dilakukan bersama personel TNI, Polri, Perhutani, serta petugas Jagawana dari cabang dinas kehutanan. Tim gabungan juga rutin melakukan patroli untuk mendeteksi kemunculan titik api sedini mungkin.
“Guna menekan risiko karhutla, kami bersama TNI, Polri, Perhutani, dan Jagawana intensif melakukan mitigasi di lapangan,” terang Triadi.
Baca Juga: Sang Pelopor Melon Varietas Unggul dan Berani Bereksperimen
Selain pemadaman, langkah antisipasi juga dilakukan dengan memasang spanduk imbauan di lokasi rawan serta menyebarkan infografis melalui media sosial. BPBD bersama Perhutani juga membuat sekat bakar, khususnya di kawasan hutan milik Perhutani, untuk memperlambat pergerakan api apabila kebakaran kembali muncul.
“Kami bersama rekan-rekan Perhutani membuat sekat bakar, khususnya di area hutan Perhutani,” kata Triadi.
Adapun wilayah yang tercatat terdampak meliputi Desa Jatiprahu, Kedungsigit, dan Sumberingin di Kecamatan Karangan. Kemudian, Kelurahan Tamanan, Ngantru, dan Desa Karangsoko di Kecamatan Trenggalek. Kecamatan Panggul meliputi Desa Besuki, Gayam, Nglebeng, dan Banjar. Kecamatan Gandusari meliputi Desa Karanganyar dan Wonoanti.
Sementara di Kecamatan Pogalan, kebakaran tercatat di Desa Ngetal, Ngulanwetan, dan Bendorejo. Kecamatan Dongko meliputi Desa Watuagung dan Cakul, sedangkan Kecamatan Kampak berada di Desa Timahan.
Baca Juga: Bekas Pasar Durenan Berubah Jadi TPS Lama Terbengkalai Tanpa Kejelasan
BPBD memastikan seluruh titik api dalam data tersebut telah berhasil dipadamkan. Namun, kondisi medan yang sulit sekaligus luasnya lahan terbakar menjadi catatan penting dalam penanganan karhutla.
“Jadi saat ini kesiapan personel, patroli, serta kemampuan menjangkau titik api secara cepat menjadi kunci agar kebakaran tidak semakin meluas,” jelas pria yang saat ini dipercaya menjadi Pj Sekda Trenggalek ini. (jaz/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK