KOTA, Radar Trenggalek - Diabetes melitus (DM) atau kencing manis adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena sel-sel dalam tubuh tidak dapat merespons insulin yang tersedia, sehingga penggunaannya tidak efektif, dan ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Diabetes melitus dikenal sebagai silent killer karena sering tidak disadari oleh penderitanya.
Pada umumnya penderita terdiagnosis diabetes melitus setelah komplikasinya muncul. Hal ini disebabkan karena kurang pengetahuan tentang tanda gejala awal dan ketidakpedulian penderita diabetes melitus dalam melakukan pemeriksaan kesehatan.
Penderita diabetes melitus yang terlambat datang ke pelayanan kesehatan menyebabkan pengobatan dan perawatan akan lebih sulit, bahkan dapat mengalami kecacatan dan kematian.
Penyakit diabetes melitus relatif tidak bisa sembuh, tetapi komplikasi yang mungkin terjadi dapat dihindari.
Komplikasi jangka lama termasuk penyakit kardiovaskular, penyakit saraf, ginjal kronis, kerusakan retina, adanya gangren dengan risiko amputasi merupakan komplikasi yang bisa dicegah oleh penderita.
Baca Juga: Oleng di Tikungan Baruharjo, Satu Orang Tewas
Disiplin dalam cek kesehatan (gula darah, tekanan darah, mengukur angkle brachial index), mengatur pola makan, latihan/aktivitas fisik termasuk senam kaki diebetes melitus, mengonsumsi obat dan kontrol berat badan merupakan aktivitas yang harus dilakukan untuk mencegah komplikasi.
Jumlah penderita diabetes melitus terus meningkat dari tahun ke tahun di wilayah Puskesmas Suruh, Kabupaten Trenggalek.
Jumlah penderita diebetes melitus terus meningkat setiap tahunnya. Poltekkes Kemenkes Malang Program Studi D-3 Keperawatan Kampus Kabupaten Trenggalek menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang merupakan penerapan Tridarma Perguruan Tinggi.
Metode pengabdian masyarakat ini adalah penyuluhan dan pelatihan kepada kader PTM (penyakit tidak menular) dan Kader Lansia di Desa Mlinjon, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek.
Penyuluhan yang dilakukan adalah tentang penyakit diebetes melitus, penatalaksanaan, dan pencegahan komplikasi penyakit.
Pelatihan yang akan dilakukan adalah pelatihan cara melakukan pengukuran gula darah, pengukuran tekanan darah, pengukuran ankle brachial index, dan latihan senam kaki diabetik.
Kader diberikan modul pelatihan yang berisi tentang materi pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Setelah dilakukan pelatihan, maka kader mengaplikasikan hasil pelatihan pada kegiatan Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis), di mana kader melatih senam kaki diebetes melitus, mengukur tekanan darah, mengukur gula darah dan mengukur ankle brachial index anggota Prolanis di Desa Mlinjon.
Hasil dan evaluasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat ditunjukkan oleh adanya perubahan pengetahuan dan ketrampilan kader dalam upaya membantu mengendalikan gula darah penderita diabetes melitus.
Hasil pre post test yang diberikan pada kader menunjuukkan perubahan positif terhadap pengetahuan, begitu juga dengan ketrampilan kader.
Berdasarkan observasi dan pengamatan terhadap ketrampilan kader, kader memiliki ketrampilan dalam melakukan pengukuran tekanan darah, pengukuran gula darah, dan latihan senam kaki diabetik.
Hasil dari pengabdian masyarakat diharapkan dapat meningkatkan peran kader dalam membantu penderita diebetes melitus mengendalikan gula darah dan mencegah komplikasi penderita DM sehingga angka harapan hidup penderita dapat meningkat. (*/c1/din)
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK