KOTA, Radar Trenggalek – Kesejahteraan petani di Kabupaten Trenggalek diklaim terus mengalami tren peningkatan dari tahun ke tahun. Bukti nyata dari peningkatan kesejahteraan ini dapat dilihat dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP) yang kondisinya semakin membaik di wilayah tersebut. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Kabupaten Trenggalek, Imam Nurhadi.
Menurut Imam, peringatan Hari Tani yang jatuh pada 24 September bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum historis yang merujuk pada pengesahan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Tahun 1960.
Berdasarkan evaluasi dinas, performa kebijakan agraria di Kabupaten Trenggalek saat ini dinilai sudah berjalan dengan sangat baik dan terarah.
Terkait dengan capaian sektor ketahanan pangan, Imam memaparkan bahwa Trenggalek sempat mencatatkan prestasi gemilang dengan menyentuh titik puncak produksi tertinggi pada tahun 2025. Pada periode tersebut, capaian Indeks Pertanaman (IP) di wilayah Trenggalek sukses mencapai angka 2,5.
Namun, memasuki tahun 2026, dia tidak menampik adanya sedikit penurunan angka produksi. Penurunan ini diakui sebagai imbas langsung dari fenomena cuaca ekstrem El Nino Godzilla yang melanda.
Baca Juga: Puluhan Kabel Membelit Satu Tiang Petugas Masih Lacak Pemiliknya
Sebagai bentuk mitigasi darurat pada tahun ini, dispertapan memfokuskan seluruh sumber dayanya untuk memastikan ketersediaan dan kecukupan pasokan air di lahan-lahan pertanian.
Di tengah tantangan cuaca tersebut, dispertapan tetap gigih mengupayakan peningkatan hasil panen. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan mengaplikasikan model penanaman pertanian modern advance agriculture system (PMAS) yang merupakan program langsung dari Kementerian Pertanian.
Strategi ini terbukti sangat efektif untuk mendongkrak hasil tani. Hasil panen dari lahan yang menggunakan model PMAS mampu mencetak rata-rata produksi di atas 10 ton. Bahkan, berdasarkan hasil survei ubinan terbaru, produktivitas panen sukses menembus angka 11 ton lebih.
Selain isu cuaca, Imam juga menyoroti keluhan yang sering muncul di tingkat akar rumput mengenai kelangkaan dan lonjakan harga pupuk, terutama di kawasan pegunungan Trenggalek.
Dia mengklarifikasi bahwa secara umum, penyerapan dan distribusi pupuk bersubsidi tepat sasaran sudah sangat baik, dengan persentase serapan mencapai lebih dari 80 persen.
Kendala suplai pupuk justru banyak dialami oleh para petani yang menggarap lahan di dalam kawasan hutan negara. Berdasarkan regulasi yang berlaku, para petani penggarap hutan tersebut tidak bisa mendapatkan jatah pupuk bersubsidi apabila belum menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) resmi dengan pihak Perhutani.
Dia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para pahlawan pangan daerah. “Saya memberikan penghormatan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh petani atas perjuangan tak kenal lelah mereka dalam mempertahankan kedaulatan dan ketahanan pangan di Kabupaten Trenggalek,” pungkasnya. (gun/c1/din)
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK