KAMPAK, Radar Trenggalek – Madrasah tsanawiyah negeri (MTsN) 2 Trenggalek kembali menorehkan komitmennya dalam upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak dan terbebas dari ancaman perundungan. Terbukti telah sukses diselenggarakan sebuah acara edukatif bertajuk penyuluhan pendidikan inklusi pada Kamis (24/9) lalu.
Kegiatan yang berlangsung dengan khidmat di Aula MTsN 2 Trenggalek ini mengusung tema sentral yang sangat relevan dengan kondisi masa kini, yaitu "Pendidikan Inklusi: Tumbuh Bebas Tumbuh Setara Bersama Ciptakan Ruang Aman Tanpa Bullying".
Acara pembinaan ini diprakarsai oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) MTsN 2 Trenggalek dan mendapatkan apresiasi positif dari berbagai pihak.
Kepala MTsN 2 Trenggalek, Ahzan Winarto SPd MPd, menyatakan pihaknya memberikan dukungan yang sangat penuh terhadap terselenggaranya kegiatan ini.
Baca Juga: Dua Lapak UMKM Dibobol
Ahzan Winarto mengungkapkan kebanggaannya karena penyuluhan tentang pendidikan inklusi ini merupakan inisiatif yang pertama kalinya dilaksanakan di tingkat satuan kerja (satker) madrasah tsanawiyah (MTs) maupun madrasah aliyah (MA) se-Kabupaten Trenggalek.
Dia memiliki harapan besar agar para siswa yang berkesempatan hadir dapat menjadi agen perubahan dengan menyebarluaskan pesan-pesan positif yang didapat kepada teman-teman sejawatnya. Dengan begitu, iklim pendidikan inklusi dapat benar-benar dipahami dan berjalan dengan baik di madrasah.
Ketua DWP MTsN 2 Trenggalek, Bekti Kurniatin SPd MPdI, yang juga bertindak selaku tuan rumah penyelenggara, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kelancaran acara ini. Beliau menjelaskan secara rinci mengenai daftar peserta yang turut serta dalam penyuluhan tersebut.
Acara ini tidak hanya diikuti oleh jajaran pengurus dan anggota DWP MTsN 2 Trenggalek, tetapi juga secara khusus melibatkan partisipasi aktif dari perwakilan anak-anak didik.
Baca Juga: Tingkat Kepatuhan Uji Kir 56 Persen
Para perwakilan siswa yang mengikuti kegiatan ini terdiri dari berbagai organisasi sekolah, yaitu pengurus Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM), anggota Palang Merah Remaja (PMR), Kader Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dan Kader Adiwiyata.
Di acara tersebut, para siswa yang duduk rapi menyimak materi dengan mengenakan seragam sekolah mereka yang bernuansa hijau, berbaur dalam satu ruangan sama dengan para ibu-ibu anggota DWP yang tampil rapi mengenakan pakaian seragam khas mereka yang berwarna peach atau oranye muda.
Pemateri utama yang dihadirkan dalam agenda penyuluhan ini adalah Hj Nadhirotul Ulfa MPdI yang menjabat sebagai Ketua Bidang Sosial Budaya DWP Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Trenggalek.
Dalam materi presentasi berjudul "Keluarga Indonesia yang Inklusi", Hj Nadhirotul Ulfa memberikan pencerahan mengenai pentingnya membina ruang yang setara bagi anak-anak.
Baca Juga: Guru PPG Prajab Tagih Kepastian Dapodik
Dalam pemaparannya, pendidikan inklusi merupakan sebuah tugas bersama untuk menyadarkan serta membiasakan anak-anak agar membudayakan diri menjadi pribadi yang ramah lingkungan.
Di era transformasi digital saat ini, anak-anak berhak berada dalam situasi tumbuh kembang yang setara dan bebas. Kebebasan tersebut dimaknai sebagai kemampuan dan kesiapan untuk lebih adaptif terhadap lingkungan sekitar.
Hj Nadhirotul Ulfa juga memberikan penekanan khusus pada beberapa karakter ideal yang harus mulai dibentuk dalam diri anak-anak sekolah, meliputi terbiasa menjadi pribadi yang menolak segala bentuk perundungan (no bullying) dan tidak memiliki kebiasaan meremehkan sesama.
Selain itu, memiliki jiwa yang sportif dalam kesehariannya, selalu mengedepankan nilai-nilai yang humanis, rendah hati (humble), dan selalu berlandaskan perikemanusiaan dalam upaya mencapai segala sesuatu.
Baca Juga: Calon Pengantin di Sambirejo Wajib Lepas Sepasang Burung
Dia menyoroti dinamika dan tantangan nyata dalam mendidik anak-anak di zaman sekarang yang sebagian besar masuk dalam kategori generasi Alpha. Anak-anak generasi Alpha ini sering kali dinilai memiliki karakter yang cenderung cuek, apatis, dan berpusat pada rasa ego yang tinggi.
Maka, sangat diperlukan kesabaran ekstra dari para orang tua dalam menghadapi maupun mendampingi mereka, serta adanya kemauan dari pihak orang tua untuk mau memahami tren-tren kekinian masa kini. Melalui kolaborasi pendidikan dan dakwah yang bersifat inklusif ini, diharapkan tidak akan ada lagi ruang untuk praktik diskriminasi di lembaga pendidikan.
Anak-anak diharapkan dapat tumbuh menjadi generasi penerus yang brilian, inspiratif, dan selalu memegang teguh nilai akhlakul karimah demi mewujudkan visi mencetak pemimpin masa depan guna menyongsong Generasi Emas Indonesia pada tahun 2045 mendatang.(gun/c1/din)
Editor : Juwita RatnasariSumber : RADAR TRENGGALEK