Terapkan Sistem Klaster hingga Digitalisasi RME

Gunawan Awan • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 10:44 WIB
TERTIB: Warga ketika antre di Puskemas  Baruharjo, Kecamatan Durenan, untuk mendapatkan pelayanan.(GUNAWAN/RADAR TRENGGALEK)
TERTIB: Warga ketika antre di Puskemas Baruharjo, Kecamatan Durenan, untuk mendapatkan pelayanan.(GUNAWAN/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek-  Langkah strategis yang kini tengah diimplementasikan secara bertahap untuk meningkatkan layanan di Trenggalek adalah penerapan sistem klasterisasi layanan kesehatan yang terintegrasi serta percepatan digitalisasi rekam medis elektronik (RME).

​Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek, drg Andiek Muarifin mengungkapkan, sistem layanan di puskesmas saat ini mengalami pergeseran paradigma.

Pelayanan kini dikelompokkan ke dalam empat klaster utama yang berorientasi pada siklus hidup (life cycle) masyarakat.

​"Di puskesmas saat ini terdapat empat klaster utama. Klaster pertama adalah klaster manajemen yang fokus mengurus ketatausahaan, keuangan, dan kepegawaian. Klaster kedua dikhususkan untuk layanan ibu hamil, bayi, balita, hingga remaja. Selanjutnya, klaster ketiga didedikasikan untuk melayani usia dewasa dan lanjut usia (lansia). Sedangkan klaster keempat secara spesifik menangani penyakit-penyakit menular," jelas drg Andiek.

​Namun, penerapan sistem klaster ini sangat fleksibel dan disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) serta kapasitas ruang gedung di masing-masing puskesmas.

Baca Juga: Skema Berlapis untuk Anggaran Dampak Kekeringan

Jika infrastruktur dan jumlah dokter memadai, layanan bisa berdiri sendiri di ruangan khusus. Jika fasilitas terbatas, poli anak dan ibu hamil dapat diintegrasikan menjadi satu poli kesehatan ibu dan anak (KIA). 

​Meskipun sistem klaster diterapkan, dinkes PPKB tidak mengabaikan layanan kedaruratan maupun poli khusus.

"Pelayanan yang tidak memungkinkan masuk ke dalam klaster reguler disebut sebagai lintas klaster, seperti ruang gawat darurat (IGD) dan poli gigi. IGD melayani secara terpadu tanpa memisahkan usia sehingga penanganan bisa berlangsung tanggap dan komprehensif," terangnya.

​Inovasi ini juga merambah hingga layanan Posyandu di luar gedung melalui Integrasi Layanan Primer (ILP). Jadwal posyandu yang dahulu terpisah-pisah untuk balita dan lansia, kini disatukan secara efisien.

Pelayanan posyandu terintegrasi memungkinkan ibu hamil, balita, remaja, dan lansia dilayani dalam satu waktu dan satu tempat yang sama di setiap desa. 

​Dia menambahkan, dinkes PPKB juga telah mengembangkan sistem RME mandiri bernama E-Link selama kurang lebih 6 tahun.

Sistem inovatif ini diklaim sudah terintegrasi (ter-bridging) dengan layanan BPJS Kesehatan (P-Care) dan platform SatuSehat dari Kementerian Kesehatan.

​"Pengembangan sistem digital ini terus kita lakukan. Saat ini, pasien dapat mendaftar pelayanan kesehatan secara online sehingga memangkas waktu antrean. Dari sisi operasional, dokter yang meresepkan obat juga dapat langsung memantau ketersediaan stok obat di apotek secara real-time dari komputer mereka," tambah Andiek.

​Inovasi digital juga menyentuh aspek promotif dan preventif, contohnya adalah penapisan (screening) penyakit tuberkulosis (TB).

Beberapa puskesmas, seperti Puskesmas Tugu, telah melakukan screening TB berbasis digital (menggunakan ponsel) yang secara proaktif melibatkan unsur lintas sektor di desa, seperti babinsa dan bhabinkamtibmas setempat.

​Dengan adanya transformasi tata kelola layanan internal melalui klasterisasi dan digitalisasi pelayanan ini, dinkes PPKB berharap masyarakat dapat menikmati akses layanan kesehatan primer yang jauh lebih cepat, ramah, dan tertata dengan baik. (gun/c1/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
drg Andiek Muarifin RME SDM dinkes ppkb