ISPA Tembus 12.809 Kasus, Masuk Periode Musim Kemarau, Serang Segala Kelompok Usia

Zaki Jazai • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 11:01 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

KOTA, Radar Trenggalek – Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih menghantui masyarakat Bumi Menak Sopal. Buktinya, hingga minggu ke-36 2026, dinas kesehatan, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana (dinkes PPKB) mencatat 12.809 kasus. Angka tersebut juga menunjukkan kecenderungan meningkat sejak memasuki minggu ke-30.

Plt Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, drg Andiek Muarifin mengatakan, peningkatan kasus terjadi saat daerah mulai memasuki periode musim kemarau. ISPA sendiri dapat menyerang berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Karena mudah menular, masyarakat diminta lebih waspada, terutama ketika mengalami batuk maupun bersin. Penularan tidak hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga mudah berlangsung di lingkungan keluarga.

“Biasanya kalau salah satu anggota keluarga di rumah terkena ISPA, anak-anak atau anggota keluarga lain akan cepat ikut tertular,” terang Andiek Muarifin.

Seluruh wilayah kerja puskesmas di Trenggalek tercatat menangani kasus ISPA. Dari 22 puskesmas yang ada, lima di antaranya mencatat akumulasi kasus di atas 1.000 pasien.

Baca Juga: Terapkan Sistem Klaster hingga Digitalisasi RME

Kelima wilayah tersebut yakni Tugu, Gandusari, Karanganyar, Munjungan, dan Dongko. “Wilayah-wilayah tersebut mencatat angka penanganan yang cukup tinggi, rata-rata sudah di atas 1.000 kasus,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap penularan ISPA perlu terus ditingkatkan. Dinkes PPKB memantau pergerakan kasus melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Data laporan dari puskesmas diolah secara berkala untuk melihat perkembangan kasus di masing-masing wilayah.

Ketika sistem mendeteksi adanya peningkatan kasus yang tidak biasa, tim surveilans akan turun melakukan pemeriksaan.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi di lapangan sekaligus mencegah potensi penularan meluas. “Ketika sistem mendeteksi lonjakan kasus di suatu wilayah, tim surveilans akan langsung turun ke lapangan,” tegas Andiek.

Di tengah potensi peningkatan kasus selama musim kemarau, dinkes PPKB juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat. Puskesmas dan rumah sakit dilibatkan dalam upaya promotif dan preventif, termasuk penyebaran informasi melalui media sosial.

Masyarakat diminta menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, serta mencukupi kebutuhan cairan. Bagi warga yang sedang tidak fit, penggunaan masker dan kebiasaan mencuci tangan juga dianjurkan.

Kewaspadaan terutama diperlukan ketika mengalami batuk dan bersin. Etika batuk dan bersin harus diterapkan, khususnya saat berada di ruang publik, agar droplet yang berpotensi membawa virus atau bakteri tidak mudah menyebar kepada orang lain.

“Jika masyarakat disiplin menerapkan etika batuk dan bersin yang benar, insya Allah rantai penularan ISPA bisa kita tekan sehingga tidak meluas,” pungkas Andiek.

ISPA merupakan kelompok penyakit akut yang menyerang saluran pernapasan dan dapat disebabkan virus, bakteri, maupun mikroorganisme lainnya. Gejala yang umum muncul antara lain hidung tersumbat atau pilek, batuk, nyeri tenggorokan, dan demam.

Dinkes PPKB mengimbau masyarakat yang mengalami gejala tersebut segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

“Dengan penanganan lebih awal kami harapkan dapat membantu mencegah kondisi memburuk sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang di sekitar,“ jelas pria yang juga dokter gigi ini. (jaz/c1/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
drg Andiek Muarifin SKDR ispa dinkes ppkb