Jalur Dongko-Panggul Terancam Longsor Warga Petung Inisiatif Tutup Pakai Terpal

Gunawan Awan • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 10:24 WIB
HATI-HATI: Jalur yang menghubungkan Kecamatan Dongko dan Panggul perlu perhatian.(GUNAWAN/RADAR TRENGGALEK)
HATI-HATI: Jalur yang menghubungkan Kecamatan Dongko dan Panggul perlu perhatian.(GUNAWAN/RADAR TRENGGALEK)

DONGKO, Radar Trenggalek – Ancaman nyata mengintai para pengguna jalan yang melintas di jalur utama penghubung antara Kecamatan Dongko dan Kecamatan Panggul.

Tepatnya di wilayah Desa Petung, Kecamatan Dongko, sebagian bahu jalan kabupaten amblas akibat longsor yang menggerus sisi jalan.

Mirisnya, meski kondisi ini sudah berlangsung lama dan sangat membahayakan, hingga kini belum ada tanda-tanda perbaikan permanen dari pihak terkait. 

Berdasarkan pantauan Radar Trenggalek di lokasi, kondisi jalan beraspal yang berada di area perbukitan tersebut tampak sangat rawan.

Sisi pinggir jalan yang berbatasan langsung dengan area tebing curam telah runtuh terbawa longsor. Menyadari lambannya penanganan dari otoritas terkait, warga setempat akhirnya tidak mau tinggal diam.

Baca Juga: 796 KK Terima Bantuan Beras 30 Kg

Dengan swadaya dan semangat gotong royong, mereka melakukan penanganan darurat untuk meminimalisasi risiko kecelakaan lalu lintas dan mencegah kerusakan jalan yang lebih parah.

​Tampak di lokasi kejadian, area tanah yang longsor sengaja ditutupi oleh warga menggunakan hamparan terpal plastik berwarna kuning dan biru.

Langkah sederhana ini dilakukan bukan tanpa alasan. Terpal tersebut berfungsi untuk menahan guyuran air hujan agar tidak langsung meresap ke dalam pori-pori tanah yang berisiko memicu pergerakan tanah susulan dan berpotensi membuat badan jalan benar-benar terputus.

​Tak hanya membentangkan terpal, warga juga melakukan pengecoran seadanya di bagian bibir aspal yang retak agar tidak semakin melebar saat terlindas roda kendaraan berat.

Sebagai langkah antisipasi tambahan bagi pengendara, warga memasang sebuah papan imbauan sederhana yang terbuat dari papan kayu berlatar warna kuning terang tepat di pinggir aspal yang berdekatan dengan titik longsor. Papan tersebut bertuliskan huruf kapital tebal yang jelas terbaca: "HATI-HATI DAERAH RAWAN LONGSOR". 

Kepala Desa (Kades) Petung, Sawali, mengaku inisiatif tersebut murni berasal dari keresahan masyarakatnya. Sebab, kondisi jalan yang longsor itu sudah dibiarkan menganga dalam waktu lama. ​

"Warga akhirnya berinisiatif memberi terpal dan cor seadanya supaya warga atau siapa saja yang melintas bisa lebih berhati-hati. Kalau tidak diberi tanda atau pengaman darurat, sangat membahayakan, apalagi kalau malam hari dengan penerangan yang terbatas," tutur Kades Sawali.

Menurut Sawali, jalur tersebut memiliki peran yang sangat vital. Jalan ini merupakan urat nadi pergerakan mobilitas dan ekonomi warga, baik untuk mendistribusikan hasil bumi maupun untuk akses utama dari Kecamatan Dongko menuju Kecamatan Panggul dan sebaliknya. Terganggunya kenyamanan akses ini tentu menjadi keluhan utama masyarakat setiap harinya. ​

"Kami dari pihak pemerintah desa tentu sangat berharap agar pemerintah segera turun tangan. Jangan sampai menunggu jalan ini benar-benar putus total atau bahkan menelan korban jiwa, baru ada perbaikan," tegasnya mewakili harapan warga desa.

​Hingga berita ini ditulis, para pengendara, baik roda empat maupun pemotor harus rela memperlambat laju kendaraannya saat melewati titik ini.

Pemandangan pengendara motor yang melintas dengan penuh kehati-hatian di samping rambu peringatan darurat tersebut menjadi pemandangan sehari-hari. 

Warga Desa Petung kini hanya bisa menanti kapan inisiatif terpal darurat itu akan mendapat sentuhan perbaikan berupa dinding penahan tanah (pelengsengan) yang kokoh dari pemerintah. (gun/c1/din) 

Editor : Adinda Okta Fitriana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
Sawali pelengsengan longsor