Trenggaleknjenggelek – Di tengah sengitnya persaingan kuliner di kota-kota besar, nama Bakmie Fengkolan mencuri perhatian lewat konsep kaki lima yang tampil beda.
Di balik brand yang kini berkembang pesat itu, berdiri sosok Rizky Rizal Ramadhan, pria kelahiran 1992 yang memulai usahanya dari sebuah tikungan kecil baik secara lokasi maupun perjalanan hidup.
Sebelum dikenal sebagai pengusaha bakmie sapi kaki lima yang sukses, Rizal sempat bekerja sebagai kontraktor di Bali.
Namun kecintaannya pada dunia masak dan dorongan dari keluarga yang sudah lama akrab dengan usaha membuatnya banting setir.
“Saya memang suka masak dari dulu, jadi waktu ada peluang di Surabaya, saya coba buka bakmie yang beda pakai daging sapi, bukan ayam seperti kebanyakan,” ujarnya saat ditemui.
Usaha ini tidak ia rintis sendirian. Rizal membangun Bakmie Fengkolan bersama dua orang temannya, yakni Muhammad Najmi Habibi dan Dimas Akhmad Sobari.
Mereka memulai dari nol, membuka lapak sederhana di pinggir jalan dengan konsep yang langsung mencolok secara visual.
“Kami ingin bikin orang langsung notice. Warna merah itu biar nyolok, khas kaki lima tapi rasa resto,” katanya sambil tersenyum.
Sejak awal, tim ini sadar bahwa kekuatan rasa harus menjadi pondasi utama.
Mereka meracik sendiri sambal khas, menawarkan porsi besar, dan menjaga harga tetap ramah kantong.
Tak heran jika pelanggan cepat jatuh hati dan kembali lagi.
“Dari awal kami pegang prinsip: kualitas nomor satu. Mau kaki lima, tapi rasa harus bintang lima,” tambahnya.
Tak hanya mengandalkan rasa, Rizal dan tim juga memanfaatkan media sosial untuk memperkuat branding.
TikTok dan Instagram menjadi etalase digital yang membantu menjangkau lebih banyak pelanggan.
“Kami aktif di TikTok dan Instagram, karena dari situ banyak orang tahu dan penasaran untuk coba,” ujarnya.
Namun, perjalanan menuju sukses tidak selalu mulus.
Rizal mengaku pernah mengalami konflik dengan salah satu rekan yang sempat terlibat di awal perjalanan usaha, namun bukan bagian dari tim inti saat ini.
Rekan tersebut yang kemudian membuka usaha serupa, meniru konsep, warna tenda, hingga nama menu.
“Waktu itu memang sempat ada yang tiru konsep, bahkan sampai bentuk tenda dan warna sama. Tapi saya percaya, yang asli akan bertahan karena kita punya fondasi,” katanya tegas.
Kini, Bakmie Fengkolan telah memiliki sepuluh cabang yang tersebar di beberapa kota.
Semua cabang dikelola langsung oleh tim inti bersama para supervisor untuk menjaga konsistensi rasa dan pelayanan.
Rizal bersama ketiga rekannya juga tengah mempersiapkan ekspansi ke kota-kota baru, termasuk Tulungagung dan Blitar, yang menjadi kampung halaman sang istri.
Baginya, kunci dari semua ini adalah konsistensi dan keberanian untuk tetap pada jalur sendiri.
“Aku percaya, asal kita punya konsep dan konsisten, usaha pasti jalan. Nggak usah ikut-ikutan tren yang cepat viral tapi cepat juga hilangnya,” tutup Rizal.
Lebih dari sekadar cerita sukses usaha kaki lima, kisah Rizky Rizal Ramadhan bersama Bakmie Fengkolan adalah gambaran semangat wirausaha muda masa kini otentik, kolaboratif, dan membumi.
Dari tikungan kecil, mereka membuktikan bahwa cita rasa, strategi, dan keuletan bisa membawa usaha menuju kesuksesan yang berkelanjutan. (meg)
Editor : Amalia Rizky Indah Permadani