Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Bubur Suro Hidangan Sakral Penanda Tahun Baru Islam dalam Tradisi Jawa yang Lebih dari Sekadar Kuliner

Zaki Jazai • Sabtu, 28 Juni 2025 | 18:10 WIB
Bubur suro Hidangan khas jawa untuk menyambut tahun baru islam
Bubur suro Hidangan khas jawa untuk menyambut tahun baru islam

Trenggaleknjenggelek - Tahun Baru Islam atau 1 Muharram tak hanya menandai pergantian kalender Hijriah. Bagi masyarakat Jawa, momen ini memiliki makna spiritual yang mendalam, berpadu dengan tradisi budaya yang masih lestari hingga kini. Salah satu wujudnya adalah kehadiran bubur Suro, kuliner khas yang tak pernah absen dalam peringatan satu Suro, penanggalan pertama dalam kalender Jawa.

Meski tampak sederhana, bubur Suro bukanlah sekadar sajian. Ia adalah simbol, doa, harapan, dan rasa syukur yang disajikan dalam semangkuk hidangan penuh makna. Tradisi ini dipercaya telah ada sejak masa Sultan Agung, Raja Mataram Islam yang menyatukan kalender Hijriah dan kalender Jawa, menjadikan 1 Suro selalu bertepatan dengan 1 Muharram.

Bagi masyarakat Jawa, bubur Suro tidak dilihat sebagai sesajen animistik, tetapi sebagai “ubarampe”—sarana spiritual yang dibaca dan direnungkan. Setiap bahan punya filosofi tersendiri. Tujuh jenis kacang-kacangan sebagai taburan melambangkan doa untuk kesejahteraan lahir dan batin. Suwiran jeruk Bali dan buah delima menghadirkan rasa asam sebagai simbol penyegar semangat dan keberkahan baru.

 “Membuat bubur Suro bukan cuma urusan dapur, tapi juga laku spiritual. Ada doa di setiap bahan yang dimasukkan,” tutur salah satu sesepuh desa di Trenggalek dalam sebuah prosesi satu Suro.

Hingga kini, bubur Suro masih ditemukan dalam perayaan satu Suro di wilayah Yogyakarta, Solo, sebagian Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Meski bahan dan penyajiannya mengalami variasi, ciri khasnya tetap pada rasa gurih yang berasal dari santan, daun salam, dan serai. Di beberapa daerah, bubur ini disajikan lengkap dengan telur rebus, abon, tempe goreng, hingga sambal kelapa.

Yang tak kalah penting, proses memasak bubur Suro juga menjadi momen kebersamaan. Di banyak kampung, keluarga atau komunitas akan berkumpul, berdoa bersama, lalu memberikan bubur kepada tetangga, kerabat, dan bahkan musafir. Dalam beberapa komunitas, tradisi ini juga diiringi pengajian atau selamatan.

Bubur Suro menjadi bukti hidupnya spiritualitas Islam dalam budaya Jawa. Ia bukan hanya makanan, tapi identitas, warisan, dan doa yang diwariskan turun-temurun. Di tengah arus modernisasi, keberadaan bubur Suro mengingatkan bahwa ada cara Jawa dalam menyambut tahun baru: dengan syukur, doa, dan semangkuk bubur yang sarat makna.(jaz) 

 

 

 

Editor : Zaki Jazai
#masyarakat jawa #bubur suro #spiritual #tahun baru islam